Nikah Muda(h) ala Dayak Agabag

 

img-20160218-wa0032

Siapa saja pasti familiar dengan Suku Dayak. Bahkan banyak yang punya denotasi negatif dengan suku tereksis di Indonesia ini. Suku penguasa Borneo.

Suku ini mampu bertahan mengeratkan diri dari erosi jaman  yang kian meramba masuk ke perkampungan di pedalaman Hutan Kalimantan. Masih banyak tradisi leluhur yang belum mampu ditembus oleh panah modernisasi. Cara pandang yang melahirkan kebiasaan adalah benteng pertahanan terakhir orang-orang Dayak.

Saya menyaksikan perilaku-perilaku dan pola interaksi sosial Suku Dayak Agabag di Kalimantan Utara selama lima bulan. Ketergantungan dengan alam serta tertutup rapatnya akses dari dunia luar membuat banyak hal dilakukan secara alami. Pola pikir terhadap isu-isu kehidupan tidak punya tanggapan serius bagi orang Dayak Agabag. Termasuk pendidikan, yang hanya sebagian kecil punya sedikit pergeseran. Tetapi tidak sepenuhnya sama dengan orang-orang kota memandang pendidikan.

Juga untuk isu nikah muda. Orang Dayak Agabag tidak mengenal istilah nikah muda. Pernikahan adalah hak yang juga hampir jadi kewajiban bagi seluruh anggota keluarga. Anak dan orang tua memikul tanggung jawab dalam hal pernikahan. Bagi anak, orang tua berkewajiban menikahkan anaknya, sedangkan bagi orang tua, anak berhak menikah sejak dia mulai mengenal “cinta”.

Bahkan saya mengikuti tahapan pernikahan seorang bocah perempuan yang pernikahannya ditangguhkan karena menunggu bocah perempuan itu mengalami menstruasi pertama. Saya sebut bocah sebab usianya baru masuk belasan tahun. Bocah itu baru saja tamat sekolah dasar, lalu orang tuanya sudah mempersiapkan calon suami yang juga masih sangat belia.

Akan tetapi, untuk mengatakan pernikahan semacam ini menyalahi undang-undang negara dan melanggar hak seorang anak untuk mengenal dunia, perlu saya urai disini.

Asumsi itu sangat wajar bagi orang-orang kota yang punya cara dan pola asuh anak yang mengenal jaman. Sedangkan bagi orang Dayak Agabag, anak sedari kecil sudah terbuka matanya untuk mengenal dan mengecap rasanya dunia. Sehingga sangat tidak mungkin kita menggunakan mistar yang sama untuk mengukur perihal pernikahan ini sebagai contohnya.

Orang kota mengkhawatirkan kondisi psikologis seorang anak menghadapi masa-masa bersama dalam ikatan pernikahan, juga soal organ biologis yang dipercaya belum matang untuk terjadinya suatu kerja mekanis.

Tetapi tidak bagi orang Dayak Agabag. Isu nikah muda bagi orang kota bukanlah isu bagi orang Dayak Agabag. Justru, nikah tidak di usia muda-lah yang jadi isu dan bahan bincang masyarakat.

Saya pernah punya usaha untuk menggeser paradigma itu, tetapi  percakapan dengan ibu-ibu membuat usaha saya mental di pikiran saya sendiri. Ada inti di balik semua kejadian pada tampilan luar yang orang-orang kota sangkakan, termasuk saya.

Pernikahan punya koneksi yang sangat rumit dengan semua konsep berkehidupan orang Dayak Agabag. Dimulai dari pendidikan yang diharap bisa mengalihkan pandangan orang tua untuk menikahkan anaknya di usia yang mustinya digunakan bersekolah, ternyata hanyalah sebuah ilusi bagi orang Dayak Agabag.

Tersebab, rerata kampung orang  Dayak Agabag berada di hulu sungai Lumbis-Sembakung hanya punya satu akses transportasi yaitu perahu longboat. Sekolah hanya ada pada tingkat sekolah dasar pada tiap kampung. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang di atasnya, seorang anak harus merantau ke kecamatan seorang diri.

Merantau di usia rentan itu bukanlah kebiasaan bagi orang Dayak Agabag. Apalagi, pergaulan di kecamatan tempat bersekolah merupakan pintu gerbang yang sangat longgar untuk keluar masuknya warga beda negara. Sehingga ancaman pergaulan negatif, semisal narkoba dan seks bebas benar-benar ada di depan mata. Orang tua di hulu tentu tidak akan memilih resiko sekeras itu, maka lebih baiknya anak-anak itu sudah disiapkan keterampilan hidup dasar sedari kecil, diajak pergi berburu, anak perempuan diperkenankan memikul ubi puluhan kilo, diajari cara membelah kayu bakar, dibiarkan menyentuh perkakas dapur, dan semua pekerjaan yang dilakukan ibu bapaknya.

Di awal kedatangan saya di kampung Dayakitu, orang tua saya berpesan untuk tidak tergoda dengan gadis di desa penempatan, di hulu sungai Kalimantan sana. Tetapi setelah sampai di desa dan melihat tak ada lagi perempuan yang bisa terkategori gadis, perempuan dengan raut wajah remaja sudah nampak terbiasa menyusui anak. Yang tersisa adalah bocah perempuan yang masih duduk di sekolah dasar.

Rasanya kita semua perlu mengambil langkah yang lebih massiv yang terkordinasi dalam upaya mengurangi nikah muda. Ini bukan tradisi, nikah muda hanyalah improvisasi tindakan orang tua untuk membenarkan persepsinya tentang tantangan masa depan.

Tetapi sejujurnya, nikah muda bukanlah solusi, anak-anak Dayak Agabag punya hak untuk menikmati tahapan-tahapan hidupnya tanpa terbenggu dari beban berumah tangga. Anak-anak Dayak Agabag memiliki hak untuk mengenyam pendidikan yang seyogiyanya difasilitasi oleh pemerintah. Anak-anak Dayak Agabag tidak perlu dipaksa tua sebelum usianya.

Advertisements

2 Responses to “Nikah Muda(h) ala Dayak Agabag”

  1. Sepertinya pemerintah juga perlu membuat agenda semacam KKN Kebangsaan, Indonesia Mengajar, SM3T dll khusus untuk penempatan di Lokasi daerah Suku Dayak Agabag kak.

    Tapi BTW mereka lulus SD sudah dinikahkan sama keluarganya, berapa itu uang panai’nya kalau lulus SD di” ? 😀

    • iyya bagusitu Pak Yudi, kita agendakanmi juga KKN Kebangsaan untuk daerah Kalimantan Dayak Agabag, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan. Banyak juga berian (panai’)nya meskipun baru tammat SD. Itu kalo sesama mereka yang nikah bisa sampai 70 juta juga nilai berian-nya, tapi tidak berbentuk uang tunai, melainkan benda dan perkakas, misal mesin perahu-johnson, mesin chainsaw, perahu tempel, dan paling keren itu guci antik yang nilai belasan juta satu buah guci. Keren toh?

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: