Yang Indah yang Tidak Mudah

1

Ada yang bilang, apa saja yang kamu potret di Papua pasti hasilnya indah. Mungkin tidak semua kita akan sepakat, tetapi kalau anda ingin menemukan keindahan duniawi, bertualanglah ke Papua. Papua terlalu iconic dalam semua hal. Segala hal bisa terlihat indah, tetapi segala hal juga tak ada yang mudah.

Alam dan manusianya selalu layak membuat kita menyadari bahwa mata dicipta untuk menyaksikan ketakjuban-ketakjuban. Membuat kita tahu bahwa kita tidak punya alasan untuk menggerutu pada situasi dan kekacauan-kekacauan yang ada di kota. Bahwa yang kita butuh sebagai manusia hanyalah terus belajar dari banyak keadaan saudara-saudara kita.

Hari ini 23 agustus 2016, hari pertama saya memulai tugas Patriot Energi di Kampung Werifi-Bamana. Cerita panjang yang mengantar saya hingga ke kampung yang jauh masuk di dalam sebuah teluk di leher burung Pulau Irian.

Saya tidak henti-hentinya mengucap tahmid dan tasbih atas pertemuan saya dengan kampung ini. Sepanjang perjalanan laut dari subuh hingga tiba di kampung tengah hari, mata saya enggan terpejam untuk melewatkan keindahan alam laut Papua. Mulai dari binatang laut untuk memancarkan cahaya kecil di tengah laut, pemandangan subuh hari, lumba-lumba yang seolah pengawal sepanjang perjalanan, lalu munculnya paus besar di samping longboat, pasir putih yang halus di sebuah teluk tempat persinggahan perahu, juga tidak boleh terlupakan indahnya gugusan pulau-pulau kecil di Teluk Triton.

Hari pertama yang panjang juga menjadi awal yang tidak terduga. Diterimanya kami menjadi bagian dari warga kampung selama setahun dengan senyum dan sapa ramah dari warga membuat rasa optimisme untuk tumbuh bersama masyarakat di kampung. Juga wajah semringah anak-anak yang ditinggal guru berlibur yang lupa waktu untuk memulai pelajaran baru.

Dermaga dan bukit serupa gunung entah apa namanya di depan kampung ini menyaksikan kedatangan kami awal mula. Semua  kekhawatiran di kota berhari-hari akhirnya melebur menjadi secercah bayang masa depan yang lebih menjanjikan, itulah harapan.

Kini saya di Kampung Werifi menikmati irama dan nyanyian alam. Ada bintang-bintang di angkasa raya membentuk cakrawala semesta yang begitu padu. Awan malam melintas sesekali, juga ada bintang jatuh terlihat jelas. Semuanya untuk dinikmati disini, dan mari lupakan semua urusan hati yang tersisa di kota.

Kampung Werifi-Bamana, Kaimana, 23 Agustus 2016

2 Tanggapan to “Yang Indah yang Tidak Mudah”

  1. mujahidzulfadli Says:

    Selamat menikmati manusia-manusia Papua setahun ini, bung. Beserta segala kekurangannya, dan kelebihannya yang barangkali hanya dapat dijumpai di sana. Tidak mudah memang, sulit sejujurnya. Sungguh-sungguh sulit, di beberapa tempat. Tapi akan ada satu momen, di mana bung akan melebur dan menjumpai pikiran, perasaan, dan cara pandang yang sama dengan mereka. Yang terakhir ini, hmmm,bisa saya katakan, Indah. hehe.

    Good luck for all of your project.

    • Aaamin. Saya dalam masa masa awal ini baru bisa menyaksikan dulu, mendengar banyak banyak. Untuk melebur sudah betul saya niatkan. Terua terang, kampung ini mengingatkan saya sama kampung halaman di Palopo. Eh Bung, mungkin bila ada waktu Bung bisa menyarankan sesuatu kegiatan yang produktif yang bisa saya bikin selama disini.

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: