Ilusi di Bintang Jatuh

sainsesia

Semalam aku lihat bintang jatuh yang begitu terang. Aku ingat mitos lama tentang siapa yang berdoa di waktu melihat peristiwa itu maka doanya akan dikabulkan Tuhan. Lalu entah kenapa, aku tak mampu memikirkan sesuatu lebih segera kecuali tentang dirinya, ingin juga segera aku beritahukan perihal tentang pentingnya dirinya akan menjadi bagian dari masa depanku.

Tapi aku tidak melakukannya, aku tidak mendoakan hal itu. Aku harus mencoba tidak banyak berharap tentang perihal masa depan itu. Akan kupasrahkan kuasaku terhadap waktu, apapun yang akan terjadi nantinya, maka terjadilah. Aku sudah pernah kecewa dengan harapan yang berlebihan, aku kini cukupkan segala doa dengan caraku sendiri melakukannya.

Dirinya sudah berganti beberapa kali, aku tak pernah melihatnya berbeda. Aku selalu menganggapnya menjadi arah, hingga aku menghilangkan segala khawatir. Manusia tidak lebih dari seorang hamba yang hanya bisa menunggu setelah dia meniatkannya. Kenyataan terakhir itu tidak ada. Tidak benar-benar ada hingga manusia juga menjadi benar-benar tak ada.

Aku menganggap doa sebagai jalan paling pintas menemui keinginan. Kebahagian itu hanyalah bergantung seberapa berkualitasnya isi kepala kita memaknai keadaan. Bila ingin bahagia, itu bisa saja. Bila ingin tak puas, itu jauh lebih banyak dilakukan oleh manusia saat ini. Ambisi yang menggebu-gebu tidak sedikit yang mematahkan hati. Ada yang mampu tumbuh lagi dengan ambisi yang lebih besar, sebagiannya terkubur bersama bayangan mimpi-mimpi. Yang tidak pernah boleh hilang semestinya hanyalah arah. Cara bolehlah adalah hasil olah rasa dan raga juga cipta manusia.

Sekarang aku menoleh ke belakang sekali lagi, kulihat masih ada dia berdiri. Tetapi aku tidak mungkin mundur hanya karena ilusi ini. Aku juga berdiri dan harus tetap melangkah, sejauh dan segelap apapun jalan di depan. Aku mengulang ratusan kali tentang harapan, aku memulai dan berhenti dan melanjutkanya. Itu caraku yang sangat lemah. Suatu hari akan kukerahkan seluruh dayaku untuk memiliki. Dalam satu momentum yang tepat.

 

Gambar; sainsnesia.wordpress.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: