Pagi di Warifi

 

5

Jika semalam hamparan langit memerkan kesempurnaannya, maka warna subuh juga tidak baik dilewatkan begitu saja. Laut teduh dan bulan yang tertinggal oleh malam turut menambah syahdu siapa saja jiwa yang membutuhkan pengakuan atas dirinya pada dunia.

Malam disini tidak panjang, jam tidur paling terlambat jam 11 malam waktu setempat. Pagi sebelum jam 5 juga sudah saatnya meninggalkan bunga-bunga tidur. Di dermaga jauh lebih memukau dan tenang untuk disaksikan. Lumba-lumba ternyata sampai di hadapan kampung. Tidak begitu jauh dari ujung mata saya. Juga ada ikan yang memamerkan diri atau mungkin sedang mencari makan di muka laut.

Katanya, hari ini hari kelima hujan tak pernah jatuh di kamu pung. Laut juga mulai teduh, angin timur sudah mulai hilang kabarnya. Orang kampung sudah mulai boleh lagi melaut, memancing ikan tidak jauh dari tepi kampung. Biasanya pemancing sampan adalah kaum perempuan. Tapi ada pula yang bertaruh harga bensin puluhan liter dengan hasil tangkapan jauh keluar kampung hingga berhadapan dengan Laut Aru.

Tapi pagi, anak-anak pasti bermain. Anak-anak tidak punya kepastian lain, semisal bergegas ke sekolah untuk memulai mengisi harinya. Suaranya teriakan memanggail nama anak dalam hening pagi sudah bisa terdengar entah dari rumah yang mana. Anak-anak tidak perlu menyadari kehadiran saya di ujung dermaga ini. Saya hanya sedang memasang indera ke segala penjuru. Siapa tau ada yang bisa tercatat dalam postingan saya di blog.

Saat pagi mulai cerah maksimal, awan-awan putih terangkat dari pucuk-pucuk pohon yang mungkin adalah gunung karst tanpa puncak. Juga dua gunung di depan kampung telah tampak tak sembunyi-sembunyi lagi. Lumba-lumba tidak menampilkan tariannya lagi. Hari ini sudah lama dimulai. Saya masih duduk di ujung dermaga. Asap mulai mengepul dari masing-masing rumah warga. Hidup berjalan, anak-anak terus bermain. Saling meyakiti kadang-kadang. Sudah itu, kembali akur dan bermain lagi. Anak-anak yang polos tapi belum juga memulau pelajaran baru di sekolah hingga akhir september ini.

Werifi-Bamana, 24 September 2016

Advertisements

2 Responses to “Pagi di Warifi”

  1. mujahidzulfadli Says:

    Wah keren, bolehlah sensasi sunset atau sunrise-nya dibagi-bagi. Oiya, bung sudah nyirih pinang blom? hehe.

    • Ah saya geli pas liat isi pinang itu. Saya akan coba nanti secara resmi manakala ditawari langsung oleh warga lokal. Disini, di kampung yang keren subuh dan sunrisenya. Teduh jiwa menatap laut yang dijilat cahaya pagi.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: