Kabar dari Laut

6

Ada lumba-lumba berenang dan mencuat di muka air. Memberi tanda kalau orang baru seperti saya harus banyak keluar rumah melihat-lihat di sekitaran. Ada juga dua bukit hampir kembar setia menerima pandangan saya kapan saja. Laut dan dermaga kampung juga masih kokoh menopang langkah saya di belakang rumah tempat saya diterima menjadi bagian dari keluarga, di kampung pesisir tanah Papua ini.

Hari-hari tidak sama. Berlalu dan berlalu, ada saja yang bisa saya lihat disini. Hal-hal baru bertumbuh menjadi biasa. Lazim dan suatu hari saya pula menjadi bagian dari kebiasaan itu. Ada anak yang mukanya sama. Ada mamah-mamah yang belum mampu saya bedakan orangnya. Semua masih baru.

Hujan sore hari yang membubarkan barisan pemancing di dermaga kayu. Juga matahari pagi yang menyapu bumi seolah muncul di antara dua bukit itu. Mirip gambar pemandangan yang biasa dibuat oleh anak sekolah di tingkat dasar, bedanya hanya saja disini tak ada sawah ladang yang berpetak-petak macam di gambar pemandangan itu.

Ada burung rajawali terbang rendah di atas laut, seringkali menukik menangkap ikan yang bermain di kulit air. Itu sebentar lagi bukan menjadi hal yang baru. Saya menekan semua keterpesonaan itu dengan geming. Saya sedang beradaptasi dengan tidak berlebihan.

Itu di tengah laut ada beberapa sampan. Dikayuh dayung oleh dua orang yang lebih sering dilakukan oleh pasangan mamah-mamah. Ketika pulang dari mencari apa di laut dan di tepi laut, layar sampan di naikkan dan pulang dengan dibantu angin. Itu terjadi dan berlalu di depan mata saya setiap kali saya melebarkan pengelihatan ke laut di kala separuh senja barat akan didatangi hujan pengantar malam.

Ada ikan-ikan laut segar yang tidak pernah habis setiap hari di dapur rumah entah darimana saja datangnya. Ikan kerapu, ikan kakap merah, ikan kue, ikan baronang dan banyak macam ikan lain yang sudah masuk ke dalam perut saya tanpa saya tahu namanya satu persatu.

Jangan ketinggalan cumi-cumi dan lobster yang masih banyak di lautan sana. Disini baru saya tahu rasanya lobster macam apa. Tidak perlu mahal-mahal, hanya ditukar sebungkus rokok. Kalau cumi-cumi lebih mudah lagi, jika malam kayuhlah sampan ke laut dan mulai senter muka air, jika beruntung itu bisa bawa pulang buat makan di rumah.

Saat ini jangan cerita dulu yang tidak ada disini. Sebab yang ada jauh lebih banyak dan perlu saya kabarkan dan disyukurkan. Hampir dua puluh hari di kampung, saya belum bisa bosan. Ada beragam cara membunuh jenuh, mandi air garam kalau kata orang sini adalah paling praktis. Boleh melompat dari ujung dermaga kampung, atau boleh juga ambil kaca mata renang dan masker lalu bersnorkelinglah. Memang karang sudah lama rusak disini, jadi tidak begitu menawan lagi pemandangan bawa air. Namun tetap saja itu menyegarkan.

Sampai sini dulu kabar baik ini. Saya harus banyak-banyak belajar menikmati suasana di kampung pedalaman ini. Oh ada lagi, rasanya orang sini enggan mengaku diri sebagai orang pedalaman, sebab katanya masih banyak kampung di Papua yang lebih layak digelari pedalaman. Nantilah saya tuliskan seberapa maju orang disini mengingkari dirinya disebut pedalaman. Salam damai dari Papua Barat.

2 Tanggapan to “Kabar dari Laut”

  1. mujahidzulfadli Says:

    Wah, hati-hati kolesterol bung. hehe. Saya jadi iri. Masih 345 hari lagi sblum dtg masa-masa syedih dan penyesalan tidak menyerap sebanyak mungkin. Orang-orang laut punya banyak aktivitas, terus merekam dan mengabarkan, bung!

    • Hahaha, dulu ente pesan saya akan kurusan di Papua. Aah, kayaknya hipotesa ente mental disini. Tiap euyy maem ikan bergizi. Iyyaa tujuh tulisan terakhir ini dibuat di kampung dalam dua hari. Di kota, saya sudah tiga hari belum bisa selesaikan satu tulisan. Rasanya, angin angin pantai itu mengalirkan gagasan gagasan ke otak untuk menulis. Tengs bung!

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: