Food Miles dan Uang

DCIM100MEDIA

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar dan paham dengan istilah food miles. Istilah yang bisa menjadi alasan mahalnya harga barang dagangan di suatu daerah. Food miles secara sederhana menegaskan bahwa harga sebuah produk di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh jaraknya dari tempat produksi. Atau bisa juga karena panjangnya rantai pasok dari tangan produsen hingga sampai ke mulut konsumen.

Papua adalah daerah yang boleh dikata adalah daerah yang akrab dengan istilah food miles. Bisa dibayangkan, jika produsen barang itu di Pulau Jawa sedangkan konsumennya berada di Papua, maka berapa banyak faktor yang bisa menaikkan harga barang. Apalagi jika barang tersebut di konsumsi di termpat-tempat pedalaman di Papua.

Saya mengalami food miles dengan keterkejutan. Harga-harga barang berkali-kali lipat dengan harga yang biasa saya temui di Makassar dan di Jawa. Foodmiles bukanlah kesalahan, melainkan pembenaran akan keadaan ekonomi di pedalaman Papua. Segala-galanya menjadi harga yang mahal, tidak berarti itu adalah indikator bahwa para konsumen juga adalah konsumen kaya yang bisa dengan mudah merogoh kantong untuk membeli barang dengan harga mahal.

Orang banyak bilang, di Papua uang gampang didapat, sebab itulah harga barang juga boleh berkali lipat. Apalagi simpulan orang bukan Papua juga bilang, kalau orang Papua itu tidak pandai mengatur keuangan. Sederhananya, apa yang ad semua dibelanja. Terciptalah wacana konsumtif pada orang Papua. Wacananya berkembang, dan berdatanganlah kaum pendatang menginvasi Papua mewujud pedagang yang selanjutnya mengubah diri menjadi tengkulak garis keras yang memeras uang orang Papua yang diyakini tak pandai mengatur uang itu.

Sumber bahan makanan tidak ragukan betapa melimpah ruahnya di Tanah Papua. Orang Papua tidak mungkin lapar dan dikata miskin dengan dasar itu. Hanya saja, anggapan kota dibawa masuk ke pedalaman Papua, maka jadilah Papua dianggap miskin dan perlu dibantu. Itu kenyataannya. Coba tengok berapa banyak orang Papua yang masih mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Saya saksikan di salah satu kampung di Kaimana, Papua Barat, semua orang tak bisa menganggap makan tanpa nasi lagi. Sementara beras itu jauh-jauh didatangkan dari Jawa atau Sulawesi. Terciptalah penderitaan yang juga berkali lipat. Susah secara psikologis, makan tanpa nasi dan susah secara ekonomis karen harga yang terperangkap oleh foodmiles. Itu baru satu kasus soal nasi. Belum lagi cerita tentang bahan makanan lainnya.

Cerita tentang pisang goreng juga sudah saya saksikan disini. Tentang pisang raja yang dijual warga lokal ke kota bersusah payah, lalu di kota tak lengkaplah rasanya bagi warga lokal tersebut tanpa membeli pisang goreng raja sebagai buah tangan buat keluarga. Ini bukan kekonyolan, inilah keadaan yang masih berjalan. Harga dan uang menjadi hal yang berbeda. Harga memiliki kepuasan sedangkan uang hanyalah sesuatu yang sementara di tangan.

Ada lagi yang mungkin bilang, oh begitu tidak kreatifnya kah orang Papua mengolah bahan menjadi makanan. Sekali lagi soalnya tidak disitu, tetapi soalnya adalah seberapa berharganya dari sebuah bahan ditukar uang. Uang tidak perlu disimpan berjuta-juta di rekening, uang cukup terus ditukar dengan sesuatu yang mendatangkan kepuasan. Seperti itu.

Advertisements

2 Responses to “Food Miles dan Uang”

  1. mujahidzulfadli Says:

    Satu cara yang bisa ditempuh adalah swasembada pangan di beberapa titik di Papua. Membangun sentra-sentra produksi pangan, peternakan, di distrik2 khusus. Kalo di Fakfak, adanya di Distrik Bomberay. Perbatasan Kab.Teluk Bintuni yang vegetasinya mmg padang rumput, rata. Jadi, mo buat apa-apa, oke-oke saja.

    • Dulu saya ikut arus pikiran orang kalo orang Papua itu tidak bergantung makan nasi. Nyatanya, di sini, semua orang tak mampu hidup sehari tanpa nasi. Saya tahu, sebab bapak piara saya punya kios yang jual semua kebutuhan orang sekampung. Saya paham kenapa harga melangit.

      Orang laut ini sudah mulai bisa berkebun juga sebagai sampingan. Tetapi pola konsumtif sudah terbentuk. Uang mudah didapat, harga tak masalah. Maka betullah, food miles itu melemahkan perekonomian lokal. Swasembada adalah solusi, akan tetapi partisipasi masyarakat ini yang begitu sulit didapatkan.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: