Sketsa Pendatang di Tanah Papua

IMG_1352Mungkin ada di antara pembaca yang terbayang-bayang ingin tahu rasa jadi pendatang di tanah Papua. Tanah surga yang kaya, tetapi segalanya juga menjadi mahal untuk seorang pendatang. Saya sekarang mulai memahami situasi yang dulu jadi penasaran dengan segala macam fantasi di kepala. Benar saja, pengalaman tetaplah punya satu poin pembeda dari pengetahuan.

Lalu kini saya juga sedang membentuk imajinasi sendiri, tentang hal-hal bisa saja terjadi nanti. Di Papua, tidak mulus berbuat lurus. Orang-orang telah mengenal banyak trik, tipu-tipu, dan orientasi materialis. Tetapi itu bukanlah petunjuk bagi pendatang untuk membuat situasi semakin pragmatis. Hal-hal baik punya peluang yang sama dengan kejahatan yang suatu waktu bisa menimpa pendatang. Niat belum cukup untuk melukiskan gambaran peta sosial orang Papua, tindakan budi luhur yang tulus pasti mendapat balasan yang sama.

Hidup berhari-hari sebagai pendatang baru tidak susah, tetapi memang tidak lebih mudah di tanah negeri yang lain. Banyak orang baik, di mulutnya yang manis dan juga perlakuannya. Ada juga yang sulit dimengerti ucapan dan perbuatannya. Semua tempat terjadi seperti ini, dimana saja di dunia ini. Cuma kita membicarakan reaksi dari niatan dan tindakan yang kita beri.

Pendatang memiliki sketsa wajah tersendiri terhadap pribumi. Baik secara psikis terlebih lagi memang tampilan fisik yang sangat mudah teridentifikasi. Ada mental blok untuk tidak terjajah oleh siapa saja di tanah mereka. Tetapi terlambat memahami, bahwa Papua butuh bantuan untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan dan kemajuan bila mengambil pembanding dari pulau lain di negeri ini. Papua terlanjur menyadari bahwa mereka harus cerdas menggunakan kesempatan, namun juga sudah terlanjur terjadi kontrak berskala internasional bahwa mereka sedang dijajah pendatang. Memang tidak perlu disangkal nuansa kebangkitan untuk maju ke pentas nasional orang-orang Papua. Ada menteri, ada gubernur, bupati dari orang Papua sendiri. Tetapi itu belum cukup. Kesadaran untuk cerdas secara totalitas dari segala lapis masyarakat mutlak membutuhkan katalisator. Butuh percepatan untuk mengimbangi laju kemajuan zaman yang kini dikuasai teknologi dan orang-orang serakah menunmpuk harta setinggi langit. Pendekatan untuk melakukan ini memang sedikit banyak akan menjurus pada wacana invasi kaum pendatang di bumi cendrawasih. Mau tidak mau, kita semua sebagai Indonesia yang satu perlu baku bantu untuk Papua.

Mendatangkan pendatang tidaklah akan membuat situasi jadi lebih baik secepat mendatangkan pejabat pusat di Tanah Papua. Kemungkinannya tetap ada dua, kesetaraan-kemajuan bagi warga pribumi papua atau justru mendatangkan petaka-bencana di kemudian hari. Kita semua yang jadi pendatang tidak memiliki visi yang searah tentang hal ini. Orang datang mencari nafkah di Papua tanpa pikir itu adalah cara membuka kran pemikiran baru-maju bagi warga lokal. Orang-orang juga datang berniat baku bantu tidak lalu menampilkan tindakan yang begitu berbeda dengan pendatang yang bervisi mencari rezeki.

Tahapan kedatangan pendatang adalah satu periode penting dalam melahirkan peradaban baru di Papua. Cara pandang pendatang akan turut menciptakan bayangan masa depan Tanah Papua. Mari datang ke Papua dengan maksud baku bantu, bukan datang menumpuk batu kekayaan pribadi.

Kaimana, 19 Agustus 2016

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: