Jembatan Sumentobol, Halangan atau Harapan?

Jpeg

Cerita tentang masyarakat  di perbatasan nusantara tak pernah selesai. Ketidakmerataan sentuhan tangan pemerintah seringkali jadi biang berita yang bertensi tinggi, bahkan mencapai level fantasi ingin berganti bendera negara. Rakyat boleh berhak menuntut keadilan kepada pemerintah, tetapi tidak boleh lupa untuk sama-sama memahami situasi yang sedang dihadapi.

Saya mencoba merasakan derita di balik berita fantasi ganti bendera negara, lewat sebuah keintiman sosial selama lima bulan di batas utara nusantara. Saya masuk ke pedalaman Kalimantan Utara, diterima dengan cita rasa budaya Dayak yang sangat kental. Hidup terisolasi dari dunia luar sebab akses informasi dan transportasi begitu rapat tertutup oleh bentang alam yang belum tersentuh oleh industri apapun. Hanya Sungai Lumbis yang mampu mengantar peristiwa  yang terjadi di hilir menuju hulu sungai, tempat masyarakat Dayak Agabag terjebak oleh dilema bernama nasionalisme.

Sungai menjadi penghubung sekaligus batas dari mimpi-mimpi dan kenyataan. Di kampung hulu sungai, masyarakat harus menempuh jarak setengah hari menuju hilir dimana teknologi dan informasi Indonesia dapat diakses. Namun untuk kembali dari hilir ke hulu, tentunya durasi bisa berlipat, karena mutlak melawan arus ditambah seramnya jeram sungai. Sehingga, tentu bahan bakar yang digunakan untuk menyalakan mesin pendorong longboat (perahu tempel) tak tanggung-tanggung, bila dikonversi ke rupiah menembus angka jutaan per sekali jalan.

Tapi lain hal bila dari kampung hulu Indonesia terus ke hulu lagi maka akan berjumpa dengan negara tetangga. Hanya butuh kurang lebih sejam melawan arus sungai berjeram untuk sampai melihat negara lain. Hingga tak perlu heran, sembako justru banyak diperoleh dari negara tetangga. Saya pun tak kuasa menolak urusan perut selama hidup disana. Nasionalisme Indonesia terkadang tidak adil memihak. Di dada bersemayam garuda Indonesia, di perut berbinar bintang-bintang Malaysia.

Sungai dan hutan adalah dunia yang sangat panjang dan luas bagi orang Dayak Agabag. Terutama di Kelompok Desa Sumentobol, kelompok desa yang berisi tujuh desa adat. Perkampungan di hulu sungai ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Propinsi Kalimantan Utara. Kelompok desa ini dibelah oleh sebuah sungai yang memuara ke sungai besar, namanya Sungai Sumentobol. Sungai yang mendasari nama kelompok desa ini. Sungai inilah yang memisahkan satu desa dengan enam desa lainnya. Di satu desa tersebut terdapat puskesmas pembantu yang diurusi oleh seorang bidan untuk melayani kesehatan untuk tujuh desa. Juga pemakaman umum untuk seluruh mayat dari ketujuh desa. Sedangkan di seberangnya, tempat bermukim enam desa lainnya terdapat sebuah sekolah dasar, ruang belajar bagi keseluruhan anak-anak di tujuh desa.

Di atas sungai itu bergantung sebuah jembatan yang dibangun tidak untuk waktu yang lama. Sedikit lebih baik dari istilah jembatan darurat, atas inisiatif Dewan Adat Kelompok Desa Sumentobol mengundang pekerja dari negeri tetangga yang masih terikat darah yang sama. Darah Dayak, meski berbeda sebutan. Jembatan gantung ini tidak hanya sekedar bangunan fisik semata. Tetapi jembatan ini juga menjadi jembatan harapan akan pendidikan, penanganan kesehatan dan pemakaman, ritual dan interaksi sosial masyarakat Dayak Agabag yang masih sangat memegang adat dan tradisi bahu-membahu menanggung beban sesama anggota masyarakat kelompok Sumentobol. Ketujuh desa terhubung oleh jembatan gantung ini. Jembatan yang menyeberangkan segalanya. Hasil ladang dan berkebun. Hasil memancing dan berburu. Termasuk kabar berita yang diantar secara langsung dari mulut ke mulut, sebab di sini tak ada secuilpun sinyal telpon.

Jembatan ini dibangun tahun 2004, menggunakan jasa dari negara tetangga. Usia jembatan yang tak muda lagi membuat segala kemungkinan tentang kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Termasuk di pertengahan tahun 2015 lalu, ketika salah satu seling bajanya terputus ketika sedang berlangsung penyeberangan jenazah untuk ditanahkan di pemakaman.

Panjang bentang jembatan lebih dari 100 meter, dan tidak kurang 20 meter dari muka air sungai dalam kondisi normal. Kini, setelah tragedi putusnya salah satu seling bajanya, jembatan itu tak lagi bisa diandalkan menjadi penghubung harapan. Pernah juga terjadi, ketika bidan tak berani menyeberangi jembatan di malam hari untuk menangani pasien, dan bisa dibayangkan akibat dari situasi untuk masalah kesehatan ini. Nyawa bertarung nyawa.

Anak-anak sekolah tak dibiarkan pergi dan pulang sekolah tanpa diantar orang dewasa. Tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah ada keraguan seperti itu. Kini jembatan itu mengandung dan mengundang bahaya sekaligus. Siapapun tak pernah tahu kapan seling baja yang lain akan putus dan jembatan ini akan menelan korban.

Saya sangat berharap suatu saat dalam waktu dekat, tangan bijak pemerintah Indonesia bisa menjamah jembatan ini. Pemerintah datang dan mengabarkan bahwa negara Indonesia mampu hadir dimanapun dan bagi siapapun rakyatnya. Menegaskan bahwa setiap anak berhak bersekolah tanpa memikirkan jembatan penyeberangan. Meyakinkan bahwa setiap penyakit bisa diobati tanpa perlu bidan merasa khawatir untuk menyeberang. Memastikan hak jenasah untuk kembali ke bumi tanpa ditunda-tunda karena alasan kesulitan melewati jembatan. Memahamkan kepada masyarakat perbatasan, bahwa hak-haknya sebagai rakyat tetap sama terhadap rakyat lain di republik ini.

sumentobol

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

DCIM100MEDIA

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

30 Tanggapan to “Jembatan Sumentobol, Halangan atau Harapan?”

  1. riskamannarai Says:

    Semoga jembatan penyambung mimpi-mimpi mereka ini dapat terealisasi. Jembatan yg setidaknya mampu membuat mereka yg kurang beruntung dapat sedikit bernafas lega merasakan buah tangan dr pemerintah… cerita yg sgt menginspirasi kk… semangat berbagi dan mengabdi disana… semoga menjadi amal jariyahπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

  2. Tak berharap banyak…
    kita paham bagaimana keadaan negara kita, karena kita hidup di wilayah yang cukup terbuka. Tak ingin menyudutkan siapa2…saudara kita yang di wilayah cukup tertutup mungkin kurang tau bagaimana kondisi negara kita, jadi wajar jika beranggapan wilayah mereka “tak dilihat”. tapi, semoga secuil mimpi mereka, meski mungkin “hanya” sebatas jembatan di mimpi mereka, segera terwujud. Aamiin

  3. Firman Pranoto Says:

    Sangat menginspirasi, semangat mengabdi kak

  4. Dewi Irnawati Says:

    Seorang bidan dan satu sekolah dasar untuk tujuh desa. lalu sebuah sungai yang memisahkan antara satu desa dengan yg lainnya dengan kondisi jembatan yang kurang memungkinkan. Kondisi seperti ini mungkin masih banyak lagi di daerah2 polosok Indonesia.
    semoga sja pembangunan di perbatasan sana cepat terselesaikan.
    dan tidak ada lagi penghalang untuk adik2 dalam mengejar cita2nya. tidak ada lagi bidan yang ketakutan kesembrang desa untuk memberikan pertolongan kepada warga yang membutuhkan jasanya.
    Tulisan yang keren kak… semoga dengan informasi dari tulisan ini, banyak dari kita semua yang termotivasi untuk turun tangan langsung seperti kak Ma’ruf ini. Sehat selalu disana kak

  5. Pengen liat langsung yang namanya -> Sumentobol
    Terus mengabdi kak, aku fansmu~ cihuuy

  6. Fitria Astuty Danial Says:

    Semoga terealisasikan, aminπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  7. Masya Allah tulisannya menginspirasi sekali kak, pesan moralnya luar biasa. Semoga tersampaikan kepada pihak yang berhak menjawab keresahan masyarakat di sana kak.
    Ini salah satu alasan mengapa tidak terlalu berat untuk menerima kak Ma’ruf berada jauh dari pandangan. Tetap menginspirasi, kak Ma’ruf! Jaya di dunia, jaya di akhirat.

  8. sangat inspiratif tulisannya kak, dengan tulisan ini kita lebih tahu tentang kehidupan salah satu suku pedalaman di Indonesia, salah satunya masalah pembangunannya, transportasi maupun pendidikan anak2 disana yang masih kurang terjamah oleh tangan2 pemerintah.

  9. Amiin. Goresan tangan kak maruf memang selalu menyentuh hati.

  10. Sy jg pernah merasakan bermukim di daerah perbatasan selama 1 bulan, tepatnya di Kecamatan Sajingan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Meskipun kondisi di sana sedikit lebih baik dari daerah yang diceritakan pada tulisan di atas, tp toh harus diakui bahwa masyarakat memang lebih banyak dibantu oleh negara tetangga. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan pemerintah bahwa masyarakat perbatasan juga mempunyai hak untuk mendapatkan fasilitas yang layak.

  11. Dila Derman Says:

    membaca tulisan ini mengingatkan saya dengan salah satu film yang bercerita tentang perjuangan anak Indonesia di perbatasan Indonesia – Malaysia.
    Ternyata kenyataannya memang sama, bukan cuma sekedar film. Semoga segera dapat penyelesaian dari Masalah jembatan ini…

    Semangat kak, tulisannya keren..terus berkarya

    • Kenyataan semacam ini banyak sekali. Mungkin masih ingat dengan kisah jembatan di Banten yang dibangun dari funding berbagai negara. Kenyataannya begitu banyak daerah serupa yang hanya tidak terkabarkan dengan baik. Mari berjalan dan melihat, di penjuru negeri, mungkin butuh kita untuk menceritakannya kepada dunia.

  12. Aamiin. Harapan yang sama utk semua daerah di Indonesia yang masih terisolir hanya karena akses transportasi yg bukan hanya terbatas tapi jg membahayakn. Semoga secepatnya pemerintah menanggapi dan bertindak sebagaimana mestinya utk permasalhan ini. Terima kasih telah berbagi informasi.

    • Aaamin, intinya semua kita harus ikut terlibat dalam perubahan ini. Kita tinggal di negara yang sama. Kita punya hak dan kewajiban yang sama untuk menyelesaikan semua perkara ketimpangan ini secepatnya.

  13. Terus Berkarya Bung …
    Dengan begitu kami pun bisa tau sisi lain Indonesia

    • Siap. Indonesai terlalu kecil hanya untuk dinikmati di layar. Mari keluar dan liat Indonesia di tempat terdalam yang masih banyak berselimut gelap.

  14. Teruslah Berkarya Bung … Dengan Begitu Kami Pun Akan Tau Sisi Lain Indonesia

  15. agnespabumbun Says:

    Baca tulisannya kakak jadi serasa melihat dan merasakan langsung berada di lokasi… melihat Indonesia dari sisi yang jauh dari mata pemegang kekuasaan,, semoga mata hati semakin terbuka dan kaki tangan tergerak membangun bersama..
    Menginspirasi terus kak πŸ‘

    • Yuhuu, trima kasih Anne sudah membaca. Semakin banyak yang tau soal apa yang terjadi di sudut negeri, di perbatasan nusantara, semakin cepat perkara ini selesai. Yakin saya dengan itu. Makanya kita perlu saling mengabarkan untuk menciptakan kerja dan kolaborasi yang nyata. Semangat!

  16. “Cerita tentang masyarakat di perbatasan nusantara tak pernah selesai”, begitupula dengan sikap peduli kakak yg tak pernah selesai. Semangat mengabdi kak. Sebaik-baik manusia ialah yg bermanfaat bagi sesamanya.
    Semoga harapan dari tulisan ini segera tercapai. Aamiin

  17. Harapan yang sama dari pembaca, semoga pemerintah terkait dapat segera menindaklanjuti masalah ini, tidak hnya d sumentobol, di daerah-daerah lain pun pembaca rasa banyak yang mengalami hal serupa.

    Terimakasih juga kepada penulis, tulisan ini telah menjadi jembatan, menghimpun hadirnya doa dan harap yg lebh banyak untk jembatan sumentobol yg lbh baik. Barakallahufikum.

    • Kita semua sedang bergerak dan tergerak untuk melakukan perubahan. Kita hanya sedang berhadapan dengan tantangan yang tidak mudah. Waktu dan usaha akan menjawab ini semua, akan tetapi kita perlu kebulatan tekad untuk menyelesaikan ini sesegera mungkin, supaya masalah ini tidak merembet ke masalah yang lain. Trims sudah komentar di tulisan ini.

  18. mujahidzulfadli Says:

    Masalah yang sama sedang terjadi di sudut-sudut negeri. Dalam skala yang tidak kecil. Lagi-lagi, barangkali, urusan pembangunan daerah 3T masih di meja birokrasi. Akan selalu ada harapan untuk perbaikan, bung.

    Barangkali dalam konteks ini, PNPM Desa Cerdas dan Desa Sehat bisa diintegrasikan demi jembatan kunci ini. Semoga mewujud! Tetap mengabarkan.

    • Selalu ada harapan menghadapi tantangan ini. Kuncinya adalah idealisme untuk menyelesaikan ini semua. Sudah bukan waktunya untuk saling menyalahkan, saatnya turun tangan dan ambil bagian dari proses perbaikan dan pembangunan bangsa ini. Belum terlambat untuk bergerak Bung. Mari berkolaborasi.

  19. Tauhidah Bachtiar Says:

    Subhanallah, sangat menginspirasi kakak,,kerennnnnn πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  20. Amin kanda semoga pemerintah dapat terketuk pintu hati dan disembuhkan matanya.untuk melihat bagaimna kondisi daerah2, tertinggal , utama jembatan di sumentobo dapat dilirik dan dapat mendapat perhatian penuh amin dan kagum terhadap setiap yg dilakukan oleh orang2 yg peduli terhadap mereka yg tertinggal , semangat

    • Pemerintah sudah ada, tapi kita harus belajar bersabar menghadapi tantang alam. Kini semua orang tidak boleh hanya berpangku tangan dan hanya mengharap pemerintah menyelesaikannya. Ambil bagian masing-masing. Sesuai porsinya. Saya menceritakan, pemerintah yang melaksanakan. Tetapi semuanya harus punya kebenaran dan fakta lapangan. Mari bersinergi bung.

  21. Pendidikan merupakan salah satu.kunci perbaikan sendi sendi kehidupan generasi pelanjut bangsa. Semoga dengan tulisan ini mampu menjadi acuan perbaikan jembatan tersebut karena memang alur yang dilalui para adik-adik dalam menempuh bangku pendidikannya.

    Terima kasih atas tulisannya kak yang menjadi bahan informasi buat kami khalayak umum yang belum tau tentang hal tersebut.

    Mari menjadi generasi muda bermanfaat, menyampaikan realita, beraksi dalam perabaikan generasi cemerlang.

    • Makanya, jembatan ini penting sekali bagi harapan pendidikan anak-anak salah satu kampung di Sumentobol. Jika jembatan ini putus, putuslah harapan untuk bersekolah setiap hari. Pendidikan ini jangan sampai jadi penghalang cita-cita dan mimpi indah anak-anak perbatasan seperti di Sumentobol

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: