Menjadi Takmir Masjid

takmir masjid 

Sudah jadi peta pikiran saya secara alami, bahwa dimanapun saya berada, tempat terbaik adalah masjid. Penting bagi saya untuk tidak boleh terlalu jauh dari lokasi masjid. Apalagi dengan daerah yang masih didikotomi oleh isu agama yang kental. Juga lingkungan yang penuh pembauran.

Saya tidak mungkin lupa dengan bagaimana rindunya saya pada salah satu masjid Kecamatan Lumbis-Mansalong, Nunukan di Kalimantan Utara sana. Masjid itu, tersebab dialah masjid terdekat yang bisa saya jangkau dari desa penempatan dulu sebagai Patriot Energi adalah puncak kerinduan saya pada kemelekatan dunia dan rutinitas ritual yang sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Disitu, di masjid besar itu saya tahu, doa saya banyak dijawab Tuhan.

Di masjid di Kalimantan itu, saya mau tak mau percaya bahwa agama itu menentramkan jiwa, pun hanya sebatas ritual. Di tengah-tengah pruralnya kehidupan beragama, dan mungkin juga rendahnya mutu perhargaan terhadap simbol identitas keagamaan, masjid besar itu seringkali tanpa ummat di waktu-waktu perintah sholat lima kali. Saya pernah sholat subuh sendirian dan menunggu jamaah hingga benang cahaya mulai nampak. Sholat isya sendiri menunggu jamaah hingga saya tertidur di masjid dan terbangun tengah malamnya. Jangan tanya sholat dhuhur dan ashar, sebab waktu-waktu shalat seperti itu hanya diisi oleh musafir. Bukan oleh ummat sekitar masjid.

Begitulah kualitas keagamaan ummat Islam di tempat-tempat yang muslimnya bukan jadi mayoritas. Masjid boleh jadi besar dan megah, tapi miskin jamaah. Kita punya banyak sekali situasi paradoks. Meskipun kondisi semacam itu masih lebih baik dibanding dengan kondisi dimana masjid begitu memprihatinkan dari segi jamaah dan bangunan fisiknya, padahal berada di perkampungan seratus persen muslim.

Di sini, di Ibukota Kabupaten Kaimana, Papua Barat, ada satu masjid yang elok dan mempesona, boleh jadi masjid inilah masjid terbesar dan termegah saat ini di Kabupaten Kaimana. Banyak orang berpikir Papua adalah dominasi agama Nasrani. Namun kondisinya sedikit berbeda, sebab Kaimana sendiri adalah kabupaten baru belasan tahun mekar dari Kabupaten Fak-Fak yang terkategori sebagai Papua basis Islam. Sejarah berbicara, Fak-Fak dan Kaimana merupakan daerah penyebarluasan Islam dari Kesultanan Tidore. Jadi tak heran, di Kota Kaimana kita masih sering mendengar kata “raja” disebut-sebut oleh masyarakat muslim Kaimana, yang semakna dengan “sultan”.

Meskipun demikian, di kota ini sendiri, sebagaiman kota kabupaten yang lain, maka sudah jadi rumus pasti akan dijumpai kaum pendatang yang turut ramai mengadu peruntungan, tak diragukan invasi orang Bugis, Buton, Makassar (BBM) juga hadir disini. Tapi jangan lupakan juga Orang Papua bukan dari basis dan keturunan Raja-Muslim. Sehingga di Kaimana ini akan terlihat toleransi dari simbol dikotomi isu ini, Islam dan Nasrani. Gereja besar dan Masjid Raya berhadapan.

Nah saya kembali soal kondisi keberagamaan ummat Islam di tempat plural semacam ini. Masjid besar yang sering saya datangi selama ini nampak samar minim takmir masjid. Meskipun megah, masjid ini juga masih terkadang kehilangan muadzin. Imam juga tak tetap, padahal ini bukan masjid level kampung loh. Ini masjid besar di ibukota kabupaten. Tetapi, diagnosa saya ini sangat yang boleh mental oleh kenyataan lain bahwa masjid ini selalu nampak bersih dan begitu teraturnya murottal di waktu-waktu sholat. Sehingga kita perlu menjabarkan lebih jauh tentang situasi paradoks ini, antara kepengurusan masjid dan takmir masjid.

Semalam saya tau rasanya jadi muadzin di masjid besar yang pengeras suaranya mengarah ke seantero kota. Di kalangan pengurus masjid, selalu ada satu soal yang sama hampir di semua masjid, kita tidak punya konsep regenerasi pengurus masjid yang jelas. Tepatnya, takmir masjid tidak masuk dalam perhitungan penting konsep dan praktek keberagamaan. Meskipun ini kelancangan saya berpendapat tanpa penelusuran mendalam terhadap apa yang saya tanggapi. Saya mungkin tak tahu, kalau ternyata disini ada organisasi remaja masjid. Tetapi entitas itu tak lebih penting dari eksistensi dan aksi secara nyata. Remaja dan kaum muda mustinya punya posisi strategis dalam kepengurusan dan pengelolaan masjid. Terutama, juga mau tak mau menjadi bagian dari pengurus masjid atau takmir masjid itu sendiri.

Beruntung jika imam rawatib masih punya kualitas bacaan yang mumpuni, tapi mari kita berhitung di tempat lain, begitu banyak masjid yang diimami oleh orang tua sepuh yang suaranya tak lagi tartil saat membaca Surah Alfatihah. Berapa banyak masjid yang diadzani oleh orang tua lanjut usia dengan suaranya terputus-putus mengumandangkan “hayyalassholah”.

Orang tua selalu mengandalkan masa lalunya mengurusi masjid. Dan kaum muda tak punya gagasan pada masjid di masa depannya. Mungkin, kita sudah terbiasa berharap bahwa kita akan merapat ke masjid di penghujung usia. Sehingga masa muda digunakan dulu bukan untuk agama. Bukan untuk ibadah dan ritual simbolik keberagamaan. Sebab usia dan agama diharap berjalan linear. Semakin bertambah usia, semakin bertambah minat beragama. Barangkali begitulah sedikit dari banyak kenyataan alasan kenapa masjid diisi oleh orang tua berusia.  Itu tanggung jawab kita menanggapi situasi ini. Terima atau tidak terima dengan keyakinan saya, bahwa tiap kita punya utang pada agama ini. Kita berutang untuk menjadikan agama ini baik beriring dengan diri kita yang juga musti baik.

Kenyataan seperti itu tidak baik untuk keberlanjutan agama ini. Semua muslim sejatinya punya sense untuk menjadi takmir masjid, untuk memakmurkan masjid, rumah Tuhan. Saya teringat satu pesan agama yang mengatakan, barulah musuh Islam akan gentar menghadapi kaum muslim manakala jamaah sholat subuhnya serupa ramainya dengan sholat jumat. Tantangan menjadi takmir masjid memang semakin besar di tengah kian bertumbuh-suburnya mental pragmatis ummat. Menjadi takmir adalah tidak lebih mulia daripada menjadi juru dakwah. Di dalam inti aktivitas takmir masjid, ada dua poin penting kesetimbangan kesalehan disitu. Yakni aktivitas yang menjurus kepada kesalehan ritual sekaligus menjadi indikasi ciri muslim yang saleh secara sosial. Meskipun kesalehan sosialnya lebih mengajak pada kesalehan ritual itu sendiri.

Maka, saya boleh mengkonotasikan kemakmuran agama ini dengan kemakmuran masjidnya. Jangan harap agama ini akan jaya jika masjidnya tidak makmur, sejak dulu sudah dicontohkan betapa masjid menjadi poros gerakan beragama. Sehingga siapapun dari kita sebagai ummat, tidak boleh melepaskan diri kewajiban memakmurkan masjid. Kita mungkin lumrah dengan anggapan bahwa setiap masjid sudah ada pengurusnya, akan tetapi realitanya tidak tidak semua pengurus masjid selalu hadir menjadi pemakmur masjid. Ini betul-betul kenyataan yang berbeda dengan anggapan tersebut.

Saya makin percaya kalau di masjid itulah kebaikan-kebaikan bisa ditemukan sebagaimana yakinnya Nabi dengan anjuran untuk melaksanakan sholat di masjid. Tidak hanya sholat, tetapi interaksi sosial pun bisa terjadi disana. Ini memang pekerjaan berat, sebab berhadapan langsung dengan situasi acuh tak acuhnya ummat. Tetapi selalu ada harapan di setiap tantangan. Saya juga sedang berjuang meresapi kata-kata saya ini, semoga hari-hari ke depan, kita semua bisa akrab dan melekatkan diri dengan frase takmir masjid. Orang-orang yang punya tanggungjawab memakmurkan masjid tanpa terikat oleh jabatan kepengurusan masjid.

 

 

Kaimana, 6 Agustus 2016

 

Gambar; Dokumentasi pribadi di twitter @marufmnoor

Advertisements

4 Responses to “Menjadi Takmir Masjid”

  1. mujahidzulfadli Says:

    ini yg beta tidak kadang (selalu) tidak punya. konsistensi merekam apa saja dalam bentuk tulisan, termasuk pola-pola yang terjadi masyarakat. Selalu antusias menunggu tulisan bung. Lanjutkan.

    • Siap Bung, mohon bimbingannya, saya sadar, tulisan saya memang semakin panjang, tetapi kuga semakin tidak bagus, tidak terstruktur dan melebar kemana-mana. Dan satu lagi kekurangan yang belum bisa saya perbaiki adalah minimnya dialog di dalam tulisan saya, sehingga membuatnya kurang hidup.

      Eh btw, Bung ada banyak lomba menulis tenggat bulan agustus ini. Ada kontes blog dari Imajinesia, ada blog competition dari Kompasiana tentang Nikah Muda, ada dari @airpaz tema Aku Cinta Indonesia. Saya sangat berharap ada nama Bung muncul disitu sebagai salah satu pemenangnya.

      Salam blogger!

      • mujahidzulfadli Says:

        hehe, tdk ada masalah. Bung pandai berefleksi-kontemplasi sekaligus mengadakan dialog imajiner yg tertata. hehe. Amiin. beta ingin punya waktu menulis, tapi tidak tau, keinginan saja yg belum bulat. Hehe.

      • Tulisan Bung di kompasiana tentang mengantar anak ke sekolah di hari pertama layak diganjar juara. 🙂

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: