Janji Bukan Janji

kaimana 

Ada banyak hal yang selalu saya suka tiap kali berada di tanah rantau. Saya suka merefleksi kejadian yang mungkin sama gerak mekanisnya tetapi berbeda makna dan filosofisnya di tempat yang lain. Manusia-manusia melakukan aktivitasnya, memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya. Sederhana, manusia itu bebas, menilai dan dinilai.

Hari ini saya di tanah Papua, menyaksikan alam yang memang dicipta Tuhan untuk dikagumi. Hari-hari di Papua mengesankan banyak hal. Masih sebatas kesan pada perjumpaan-perjumpaan singkat yang belum layak menjadi kesimpulan.

Bila kita sudah sering dan akrab dengan kata surga dunia yang melekat pada Papua, maka telinga kita juga mustinya awam dengan janji manis di bibirnya orang Papua. Sejujurnya, janji manis tidak hanya dipraktekkan orang Papua, sebab pada waktu-waktu tertentu, janji manis itu seperti udara yang ada dimana-mana. Di lapangan atau stadion yang besar, di balai desa dan mimbar masjid, di aula-aula hotel, di lorong-lorong sempit, di dalam kamar, di bisikan-bisikan lembut atau teriakan.

Dimana saja janji-janji itu gampang keluar dari mulut yang juga siapa saja bisa mengucapnya. Maka di sini, di Papua ini alangkah biasa-biasanya janji itu. Janji bisa jadi tak lain dari wujud basa-basi yang lebih halus. Saya benci menulis kesan semacam ini, tetapi saya muak dengan kenyataan yang saya belum terbiasa.

Mungkin memang tak ada kata janji disini, sebab orang merasa tak wajib melakukan apa yang dijanjikan. Berarti bukan janji. Yang manis dan menyakinkan, percayalah hanyalah basa-basi belaka yang sudah biasa-biasa saja disini. Berjanji manis adalah keterampilan sosial yang penting dalam berkomunikasi, disini.

Bagi saya, dimana saja, saya terbiasa dengan diplomasi basa-basi, tetapi masih dalam suasana yang normatif. Pejabat-pejabat yang saya temui dan dengarkan ceramahnya sudah saya paham betul arti kata “akan” pada tiap kali kata itu dilontarkan. Sekali lagi, saya terbiasa dengan “diplomasi-akan” oleh pejabat. Yang saya juga akan biasakan disini adalah mendengar janji yang bukan diplomasi oleh pejabat, melainkan dari mulut siapa saja yang saya temui.

Manusia-manusia sudah terlanjur lazim mengucap “nanti saya akan” tanpa peduli konsekuensi dan makna integritas di dalamnya. Manusia jadi tak acuh dengan ucapan. Sebab, manusia disini punya standar untuk menilai lewat apa yang dilakukan, bukan apa yang diucapkan. Kepercayaan begitu sulit ditemukan tanpa tindakan. Bagi orang baru macam saya ini, musti belajar cepat cara menilai manusia.

Saya telah beberapa kali kecewa dengan janji manusia disini. Dijanji akan datang untuk ketemuan, eh tak ada kabar tak ada konfirmasi, saya menunggu hingga kering tak muncul-muncul manusia itu. Juga dijanji dengan kata “akan” yang lain membuat saya menaruh harapan sekali lagi, tetapi lagi saya dikecewakan. Dan belum lama ini dijanji “akan” untuk sebuah hal penting, dan ternyata saya kembali menelan janji itu tanpa bukti.

Lain lagi perangai yang merupakan kebalikan dari gampangnya mengucap janji. Disini manusia-manusia gemar menagih janji. Ini paradoks. Begitu lincah mengumbar janji, juga tak kalah lincahnya menagih orang yang hanya berkata tidak pada level janji. Namun sekali lagi, semua ini hanya kesan yang saya tangkap dalam waktu singkat, dan saya tidak mengatakan inilah generalisasi. Waktu masih berputar, manusia masih terus akan berinteraksi. Mungkin saja, di awal-awal kedatangan saya di Tanah Papua ini, saya begitu banyak berharap dan menolak semua asumsi negatif hingga saya harus merasainya langsung. Saya masih sangat percaya, saat ini saya hanya dipertemukan dengan ujian cara pandang dan persektif melawan asumsi. Maka tetap saja, rumusnya sama, berbuat baiklah sebisa mungkin, maka menjadi hak kita pada semesta untuk menerima balasan kebaikan. Bila ternyata kita masih lebih banyak menerima hal yang kurang baik, boleh jadi ada yang keliru dengan cara pandang kita pada manusia. Mungkin kita belum juga menjadi manusia yang baik terlebih dulu.

Kaimana – Papua Barat, 04 Agustus 2016

Gambar; Dokumentasi pribadi

Advertisements

One Response to “Janji Bukan Janji”

  1. hmm, kata “akan” cukup tahu.
    nice, 4 kalimat paragraf terakhir.
    selalu ada pelajaran ketika membaca tulisan di blog ini 🙂
    terimakasih dan tetap semangat!

    salam.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s