Tamu Tak Sendiri

kaimana

Disini, Agustus kedatangan tamu yang manja. Juga ada tamu yang hendak pergi. Aku sedang di Papua. Di Kaimana, kota senja warisan tentara Trikora. Di Papua Barat pada bagian selatan leher burung pulau Papua. Tempatku kini berhadapan dengan laut Aru.

Aku disini merasa disayang Tuhan. Terlebih aku datang bersama tamu yang lain. Aku datang disini tak diduga, tapi tamu yang satu selalu ada waktunya. Tamu yang satu tamu yang manja, selalu betah berlama-lama di siang hari, juga sering di pengujung malam. Tamu ini banyak ditunggu juga banyak dikeluh. Manusia selalu ragu berada di pihak tak menentu. Kata banyak manusia, tamu ini membawa berkah akan tetapi seringkali juga beriring bencana.

Aku suka tamu yang lain itu. Dingin tapi tidak sampai membekukan. Walaupun aku juga merasa terkurung oleh tirainya yang tak henti menjuntai ke bumi. Aku bisa mengelabuinya, tapi aku memilih tidak. Kutahu, tamu ini sudah lazim jadi bahan gunjingan manusia-manusia hipokrit. Suatu kali meminta, lain harinya mencercah. Dasar hujan yang tak pengertian pada manusia.

Sedangkan tamu yang lainnya lagi, kini diharap pergi jauh dari bumi manusia. Dari lautan tempat banyak hidup bergantung disana. Tamu ini jauh lebih ditakuti. Bahkan disegani oleh manusia. Hanya ada beberapa orang bandel, merasa tamu laut ini bukanlah perkara. Orang bandel ini percaya, hidupnya di laut. Jadi apapun jenis ancamannya sudah seperti orang kerabat, tahu mana yang harus dijaga dan mana yang dijarah.

Angin timur bukanlah hal biasa-biasa selain nelayan. Dialah momok di bulan agustus seperti ini. Apa saja bisa ikut gelombang dibuatnya. Angin timur yang dingin sebab hujan juga bersama dengannya. Aku sudah sekali tahu rasanya mabuk laut di laut Aru disini. Aku merasa terhempas dan terombang-ambing di lautan Aru. Padahal kata nahkoda, itu belumlah ada apa-apanya. Hanya serupa salam kenal, meskipun nelayan disini yakin, tak lama lagi angin timur akan buat salam perpisahan yang mengesankan siapa saja di tengah laut.

Jadi aku tidak sendiri di Tanah Papua ini sebagai tamu. Aku harus hidup bersama tamu yang lain itu. Juga bersama nelayan yang akrab dengan segala jenis fenomena alam. Aku akan bertahan hingga tahun depan. Doakan!

 

Kaimana – Papua Barat, 3 Agustus 2016

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: