Padahal, Baru Niat!

????????????????????????????????????

Sering kita menyadari telah melakukan kekhilafan, kesalahan, kelalaian, keburukan, dosa dan apapun yang menyudutkan perasaan kita. Lalu kita merespon kesadaran itu dengan memohon maaf, kadang segera, kadang setelah beranjak lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah kita melakukan kesalahan itu. Tindakan paling responsif yang sering kita lakukan adalah mengatakan ‘astaga’ atau lebih panjang ‘astaghfirullah’.

Kesadaran responsif itu selalunya tidak mengakar kuat dan tidak menjadi pembelajaran, seperti menjadi sesuatu yang refleks saja. Terkecuali jika kesadaran itu datang melalui kontemplasi yang panjang atau penggalian memori masa lalu. Kita tidak menjadikannya sebagai proyeksi untuk membenahi diri. Ini sering saya alami sendiri dan jauh terlambat baru disadari.

Kita juga belum lama ini saling mendoakan untuk sukses dan lebih baik di hari-hari mendatang di antara permohonan maaf selepas hari raya Idul Fitri. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Tetapi sangat sedikit langkah kongkrit yang kita lakukan untuk menjadi lebih baik.

Saya mau membagikan satu cara yang saya yakini bisa membuat kita mengarahkan hidup lebih berorientasi pada kebaikan yang abadi. Bahwa segala tingkah dan laku manusia ditentukan oleh ‘niat’. Iya niat. Kita tidak asing dengan satu anjuran agama yang tegas bahwa ‘sesungguhnya amalan itu dinilai dari niatnya’.

Nah ada satu niat yang sangat mulia, yang menurut saya akan menjadi pengarah jalan kita selalu di jalur yang baik dan benar. Niat untuk menjadi penghafal Alquran. Pencerahan tentang pentingnya berniat menjadi pengafal Alquran ini saya dapatkan dari ceramah Ustad Yusuf Mansur di youtube.

Niat ini sangat penting meskipun hampir semua kita merasa mustahil melakukannya di tengah jaman yang semakin edan dan penuh godaan kemaksiatan ini. Kita bisa bikin persentase jumlah penghafal Alquran dengan jumlah muslim di dunia, saya tidak punya datanya, tapi firasat saya, itu sangat kecil rasionya.

Lalu sebelum membenamkan niat itu, kita bikin kecemasan di pikiran kita. Laah, gimana saya bisa jadi penghafal Alquran, baca Alquran saja susahnya ampun setengah mati. Huruf nun dan ba masih sering ketukar, huruf ta dan ya susah dibedakan. Huruf sa, tsa, dza, sya susah cara ngucapnya. Belum lagi panjang pendek cara baca, dan berbagai macam kendala teknis membaca Alquran. Itu baru membaca, belum menghafal. Niat kita belum berani ada sedikit pun.

Terlebih ketika kita menganggap niat ini terlalu ‘akhirat oriented’. Laah, memangnya di dunia ini ada hal yang tidak berorientasi akhirat. Semua, seluruh, dan segala hal di dunia ini, absolut pasti kita pertanggungjawabkan di akhirat. Kecuali untuk orang-orang yang tidak yakin dengan yaumul akhir.

Lalu ada lagi tantangan terberat membesitkan niat ini, kita masih merasa tidak layak menjadi pengafal Alquran. Diri ini masih kotor, penuh dosa, masih muda punya pacar, maksiat disana sini, masih hidup dengan makan riba, lingkungan tidak mendukung, ilmu belum cukup, cita-cita dunia lebih penting, atau masih menganggap menjadi penghafal Alquran itu bukan suatu ikhtiar yang punya manfaat praktis pada orang banyak. Dan beribu alasan yang tidak pernah habis mengalahkan niat kita menjadi penghafal Alquran. Padahal ini baru niat loh. Baru niat kita sudah gugur karena alasan.

Sehingga kita tidak pernah bisa sampai pada ikhtiar yang sesungguhnya menjadi pengafal Alquran seumur hidup kita. Yang sesungguhnya justru memulai dengan niat itu sudah menjadi langkah awal yang membimbing kita pada jalan keselamatan, kemulian di dunia dan akhirat. Padahal, pernahkah kita menyaksikan seorang penghafal Alquran di dunia ini yang dihinakan oleh Tuhan?. Hidup kita memang penuh dengan padahal-padahal.

Saya pernah suatu waktu di kapal Pelni disangka penghafal Alquran, karena waktu itu saya pakai sorban yang saya jadikan serupa kerudung menutupi kepala dan membuka Alquran kecil, lalu seketika itu saya merasa diperlakukan lebih baik oleh manusia lain, oleh dunia. Padahal itu tidak ada keinginan sedikit mendapatkan perhatian itu. Itu belum jadi pengafal, padahal.

Kita semua tidak pernah terlambat untuk meniatkan ini. Berapa umur kita saat ini, 17, 20, 22, 25, 30, 35? Atau sudah merasa terlalu tua untuk mengusahakan kalaupun kita benar-benar berniat?. Tidak, sangat tidak ada salahnya memulai meniatkan ini di berapapun usia kita, muda tua, kurang atau cukup finansialnya, sedang alim-alimnya, sedang berdosa-dosanya, sedang bergelimang maksiatnya. Kita harus memulainya. Kita harus mengikhtiarkannya. Kita hanya punya waktu saat ini juga, besok kita belum tahu, bahkan sedetik, semenit, sejam kemudian apakah kita masih bernafas.

Sebab dengan adanya niat itu, kita akan perlahan melakukan usaha. Mencari tahu cara baca Alquran, membersihkan diri dari noda dunia saat menggenggam Alquran, membenahi perilaku sedikit-sedikit atau secara signifikan. Dan segala kemudahan dan kekuatan kita pasrahkan saja pada pemberi hidayah. Hasil itu kuasa Tuhan, tapi cara dan ikhtiar, manusia yang tentukan. Kita tidak kuasa menentukan kapan kita sukses menghafal Alquran, seberapa lama kita ikhtiarkan. Itu mutlak di tangan Tuhan, sebab perihal ini perihal hidayah.

Dan apakah saat kita baru berniat menjadi penghafal Alquran, lalu kita dipanggil menghadap Ilahi niat kita diganjar syurga oleh Tuhan? Jawaban Yusuf Mansur untuk pertanyaan ini, iyya. Yang penting niatan itu telah diikhtiarkan, meskipun ustad menyerahkan urusan itu segalanya kepada Tuhan yang menentukan. Wallahu alam. Namun kita awam mendengar janji Tuhan, bahwa ada 10 orang dari keluarga terdekat yang ditarik ke syurga untuk seorang pengafal Alquran. Bukankah suatu kebermanfaatan yang haqiqi?.

Banyak di antara kita berselisih tentang apakah niat harus selalu dilafazkan, dibathinkan, atau bahkan dituliskan. Seperti yang sedang saya bikin saat ini, yang teman-teman baca. Menurut saya, tergantung kebaikan apa yang kita niatkan. Ada niat baik yang mungkin perlu disembunyikan dan hanya Tuhan yang mengetahuinya. Ada niat yang diucapkan atau dituliskan supaya kita mendapat ‘amin’ yang cukup untuk membujuk Tuhan mewujudkannya. Kali ini niat saya, saya sounding, sebagai bagian dari ikhtiar dan semoga bisa menjadi kontrol sosial kita untuk saling mengingatkan bilamana suatu saat kita melenceng dari jalur niat yang kita bangun.

Wallahu alam.

Kaimana, 26 Juli 2016

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: