Primordial Itu Jahat!

primordial

Saya orang kampung, tumbuh besar di kampung. Hingga tamat SMA tidak terlalu terbiasa dengan perbedaan level kontras. Meskipun di bangku SMP dan SMA hidup bergaul dengan pluralitas agama dan suku-suku, terutama turunan transmigran tahun 70-an yang ibu bapaknya masuk ke Sulawesi Selatan. Saya punya teman lintas suku cukup akrab, dekat, hingga menjadi sahabat di masa sekolah dulu. Tetapi saya belum memahami perbedaan itu akan membawa suatu konsep pemikiran saya kelak. Seperti yang saya alami belakangan ini. Hidup dengan perbedaan level kontras. Ketika menjadi berbeda dan berada di pihak minoritas. Jaman remaja itu betul-betul hanya menjadi bunga-bunga cerita masa muda.

Perbedaan agama dan suku dalam pergaulan di masa remaja tidak pernah masuk dalam bahasan anjuran bermain oleh orang tua saya. Orang rumah tidak punya pesan khusus dalam berteman. Berteman boleh dengan siapa saja. Itu anjuran tersirat, sebab memang tidak ada larangan. Saya punya beberapa sahabat dekat dari suku jawa, suku bugis, orang Tator, ada juga orang Cina, orang hindu-Bali. Sebenarnya, itu sangat mungkin bisa menjadi perbedaan level kontras jika saya sudah punya cara pandang yang sama dengan saat ini. Tetapi itu dulu, waktu masih jadi anak sekolah. Ketika kekhawatiran tentang prinsip hidup belum terpikirkan sama sekali.

Kini setelah tamat sekolah, perbedaan-perbedaan semacam itu entah kenapa naik level menjadi hal kontras yang selalu dikhawatirkan. Apalagi setelah mengenal yang namanya perjalanan jauh keluar pulau Sulawesi. Lebih tepatnya setelah mengalami nasib menjadi minoritas. Walaupun situasi menjadi minoritas itu hanya sementara.

Saya mulai mengenal istilah generalisasi manusia. Mulai gampang men-judge seseorang dari sukunya, dari agamanya. Saya ingat ketika mulai jadi anak rantau di Makassar, disitulah terbit isu primordial yang kental. Apalagi ketika saya masuk kampus, mahasiswa sedang asyik-asyiknya tawuran membawa nama perbedaan asal daerah, kadang merembet mengatasnamakan suku. Munculnya superioritas masing-masing daerah. Meskipun saya tidak pernah terlibat tawuran antar suku itu, tetapi saya musti tetap berteduh di bawah payung asal daerah saya. Mahasiswa aktif di bawah tahun 2010-an pasti awam dengan tawuran orang Palopo dengan Bone, atau Palopo dengan Bulukumba, Enrekang, Takalar, dan banyak macam perkelahian antar mahasiswa yang membawa bendera kesukuan atau asal daerah itu. Mahasiswa dari masing-masing daerah merasa penting untuk membangun soliditas dan menjadi bersatu atas nama asal daerah. Menguatlah organisasi mahasiswa asal daerah, terlepas dari kepentingan dan isu lain seperti pembelajaran mengenal politik di jenjang mahasiswa. Organisasi mahasiswa itulah yang seringkali menjadi bumper apabila ada gangguan dari mahasiswa rantau lainnya. Tersulutlah api primordial yang dangkal itu. Saling serang, perang, bakar-membakar, bahkan beberapa kali ada yang terbunuh mempertahankan primordialisme ini. Atau sekadar hanya menjadi korban. Jelas bahwa primordialisme banyak buruknya. Primordial itu jahat.

Lain lagi cerita ketika saya mulai keluar kandang, waktu itu saya PKL di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Mulailah disitu saya gampang sekali membuat peta sosial manusia berdasar sukunya. Disana waktu itu, terkenal suku Tolaki. Suku yang digeneralisasi sebagai suku yang berbahaya dan tidak baik diajak akrab terlalu dekat. Banyak orang membuat asumsi bahwa Orang Tolaki punya ilmu hitam yang sangat hebat, yang hanya dengan sekali sentuhan bahkan tanpa sentuhan langsung, batok kepala seseorang dapat dibuat ‘lembek’ seperti ubur-ubur. Namun, di masa PKL itu saya dipertemukan dengan keluarga dari kampung yang sudah jadi warga Kolaka, dan ternyata suaminya adalah orang Tolaki yang sangat baik, tentunya tidak perlu ada yang saya waspadai. Asumsi primordial itu belum hilang, walaupun sudah ada contoh nyata yang mematahkannya.

Ada juga cerita ketika di Makassar, cerita miring tentang Orang Mandar dan Orang Kajang, kedua suku ini adalah suku garis merah bagi banyak mahasiswa waktu itu. Isu tentang ilmu hitam, melahirkan kewaspadaan tersendiri untuk memilih kawan dan pergaulan. Saya  hingga belum lama ini masih punya ingatan lekat dan membuat jarak pergaulan saya dengan beberapa kawan dari kedua suku itu. Barulah setelah meninggalkan Makassar dan berada jauh, saya menyakini paham semacam itu tidak baik ada di mental seorang manusia, khususnya di kepala seorang mahasiswa.

Di luar Sulawesi, saya menjadi minoritas tanpa ada wadah atas nama suku. Saya mulai menjadi diri sendiri, bukan lagi orang Palopo, bukan lagi orang Sulawesi, bukan lagi orang Islam yang merasa superior. Saya menjadi manusia sendiri, namun tetap menghadapi asumsi primordial itu. Primordialisme itu adalah naluri saat kita menjadi minoritas. Tetapi hal itu tetap keliru dan membuat tindakan sosial kita tidak alami, tidak tulus.

Saya masuk ke dalam hutan Kalimantan, menjadi satu-satunya orang Sulawesi. Satu-satunya muslim di kampung itu. Hampir semua manusia adalah suku Dayak Agabag yang masih patuh pada norma adat. Saya tidak punya celah untuk membuat generalisasi pada suku ini. Primordial itu lenyap. Pandangan atas nama suku dan agama itu hilang. Saya hidup dan bergaul atas nama perilaku dan praktek moral keagamaan. Tidak lagi membawa simbol dan ritual keagamaan. Dan hasilnya, saya berhasil keluar dari kampung asli Dayak itu dengan selamat dan mendapat pengalaman berharga mengenal manusia dari sudut minoritas. Tidak membawa bahasa kalau orang Orang Dayak itu baik atau sebaliknya, tetapi bahwa setiap suku itu ada orang baiknya dan ada orang yang belum kita kenal kebaikannya.

Kita selalu membuat generalisasi suatu komunitas bukan pada prinsip manusia-manusianya. Lalu seringkali juga hanya menggunakan dua warna membuat wajah suatu komunitas. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Padahal kita tidak pernah masuk ke dalam kehidupan nyatanya. Padahal kita tidak mengenal dengan baik suatu alasan yang melatarbelakangi sebuah tindakan. Kita menggunakan kuas yang jahat saat melukis wajah manusia. Kita menghadirkan prasangka buruk ketika akan mengambil kesimpulan kepada seseorang atas nama sukunya, atas nama agamanya.

Hari ini saya di Tanah Papua yang dengan segala macam label karakter manusianya terangkum di kepala saya. Menghindarkan diri mencari setitik semangat primordialisme adalah sebuah tantangan. Lingkungan sosial disini juga membentuk asumsi primordial itu. Tetapi saya masih punya optimisme untuk mengabaikannya. Saya akan beradaptasi tanpa melewatkan sikap kritis dan skeptis seorang minoritas. Saya pun tidak boleh luput melakukan kebaikan untuk mengukur kebaikan orang-orang Papua. Tidak juga mudah melukis wajah dengan dua warna sebagai kesimpulan mutlak. Rumusnya selalu sederhana, dimana kamu berikan kebaikan, disitu kamu berhak menerima kebaikan. Dimana kamu merima bukan kebaikan, disitu kamu tetap berhak membalasnya dengan kebaikan. Kebaikan itu cahaya, dan bukan kebaikan itu adalah gelap. Bila datang gelap, nyalakanlah cahaya. Di semua sudut tergelap dunia ini, selalu cukup dengan satu titik cahaya kecil untuk memastikan harapan itu ada. Jika kamu tak mampu jadi suar, jadi satu titik cahaya kecil di kegelapan apapun.

 

Kaimana – Papua Barat, 28 Juli 2016

Gambar; dokumentasi pribadi

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: