Generasi Judgemental

judgemental

Bergerak dari dua situasi kontras itu membutuhkan keterampilan. Kehidupan sosial yang terbiasa dengan keserbaadaan menuju tempat penuh keterbatasan. Adaptasi dan asimilasi seperlunya tanpa mengubah prinsip dan idealisme, adalah satu poin utama. Bisa menjadi cara bunuh diri yang kejam bila gagal melakukannya.

Kehidupan kota serba ada yang dikelilingi perangkat teknologi modern. Melahirkan manusia modern anti sosial berlabel generasi judgemental. Generasi abad baru ramuan kemutakhiran. Kemelekatan dan korban serba digitalnya segala urusan. Generasi dimana manusia mendahulukan aktualisasi diri dibanding aksi-aksi. Generasi yang gemar memamerkan segala-galanya. Generasi yang penting orang lain tahu dulu.

Kita semua sedang dalam ekosistem itu. Ekosistem hasil dari konspirasi global. Kapitalisme dan jebakan konsumerisme yang begitu sulit untuk dihindari. Kita tidak mungkin menghindar itu, sementara tuntutan hidup ikut arus mengalir di bawah kaki. Kita sedang ikut mengalir.

Generasi judgemental telah nyata nampak di sekeliling kita. Anak-anak yang tidak lebih percaya pada nasehat ketimbang informasi dari media. Kehidupan yang segalanya musti dimasukkan ke dalam layar. Segala sesuatu diabadikan melalui kamera modern. Disebarkan tanpa pembelajaran. Yang penting seberapa banyak orang tahu keberadaan kita di dunia. Kita semua berhadapan dengan situasi itu. Mungkin sedang melakukannya.

Lalu apakah itu salah kalau ikut jaman? Ikut arus kemutakhiran. Tidak salah. Kita hanya sedang kekurangan bahan fondasi berupa mental yang kokoh mempertahankan nilai sosial yang humanis. Kita hanya belum mampu menegaskan keputusan dalam melangkah. Kita juga tidak mendalami kebajikan dengan utuh sebelum datangnya zaman ini. Kita tidak bersiap.

Kita sering menyaksikan orang lebih memilih memotret korban kecelakaan jalanan ketimbang menolongnya. Kita sudah sangat jarang melakukan kontak sosial dibanding melakukan percakapan di media sosial. Kita mengutamakan aspek efektif dan efisiensi yang kebablasan. Kita melupakan nilai-nilai sosial. Kitalah generasi judgemental itu.

Kita punya teman yang gampang sekali membagikan berita yang tidak ditelusuri kebenarannya sebelum mengklik tombol share. Kita tersugesti menulis ‘amin’ dari kisah haru yang beredar. Kita gampang berdebat di layar tapi sungkan saat bertatap wajah. Kita semakin matang menjadi kaum hipokrit yang punya seribu alasan membenarkan diri. Tidak lagi peduli seberapa berharganya janji ‘Insya Allah’ di kolom komentar yang kita balaskan. Tidak lagi mendalami makna simbol cinta dalam dua ketukan di sebuah gambar. Cinta kita mudah jatuh, namun kita juga jadi cinta mencela.

Kita sedang berjalan membunuh diri dengan pelan tapi kejam bila kita betul-betul tidak cermat memaknai tanda-tanda zaman. Kejam, sebab kita melandaskan segala keadaan pada materi. Kita lupa bahwa materi itu mudah datang dan mudah hilang. Kita kehilangan belas kasih, kehilangan empati, kehilangan compassion. Saat ini kita sedang di puncak piramida martabat kemanusiaan. Manusia cerdas yang gampang tahu segala-galanya dari internet.

Sementara itu, ketimpangan dan ketidakmerataan akses terlihat dekat tapi jauh dari jangkauan kita. Kita tahu itu ada, tapi kita jauh dari usaha kita memperbaikinya. Kita lebih memilih berpangku tangan daripada terjun ke lapangan. Kita lebih mudah mengantongi tangan daripada bersalaman. Keangkuhan kita kian meninggi menyentuh langit, namun lupa kalau kaki masih menapak di suatu tanah. Inilah generasi judgemental di tengah zaman.

Akan tetapi, di balik semua kenyataan itu selalu ada pilihan untuk ambil bagian dalam upaya membangunkan diri kita dari kelenahan ini. Masih banyak juga saudara-saudara kita yang terus berjuang menentang zaman. Menyingkirkan ketidakmungkinan akan tercerahkannya generasi ini. Dan semoga kita juga bisa terlibat membenahi situasi ini dengan idealisme. Dengan cara kita masing-masing. Dengan meninggalkan perlahan sikap-sikap judgemental ini.

 

Kaimana – Papua Barat, 26 Juli 2016

Gambar; dokuentasi pribadi

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: