Yang Jarang Saya Sadari

patriot energi

Di hari yang suci nan fitri, saya menemukan satu kesadaran yang sangat jarang muncul. Bukan tentang bait-bait rindu yang mengandung galau. Bukan lagi tentang keinginan maaf yang tak tuntas pada orang di rumah. Ini tentang semangat saya yang lumpuh layu tak menentu, antara satu keinginan memiliki dan kelapangan hati dalam memilih.

Dari lalulintas dunia maya yang bingar tak jelas salah dan benar. Saya kembali menyadari akan satu kelemahan yang selama ini sering luput saya perbaiki. Saya lupa memeriksa dunia sekitar, siapa yang sedang mengarahkan pandang, siapa yang menjulurkan tangan, siapa yang sedang lurus menunggu jawaban, siapa yang jujur mengutarakan isyarat, dan masih banyak siapa-siapa yang tak saya beri ruang untuk ditanggapi.

Bertalian dengan dunia penulisan saya, ucapan terima kasih yang saya beri jauh dari makna maaf pada khilaf yang saya lakukan pada orang-orang berjasa itu. Kebutaan membaca tanda adalah satu alasan saya harus menulis poin ini.

Sebelum saya kembali menjauh dari hingar dunia kosmos, memasuki dunia sunyi di barat Papua. Saya musti menancapkan niatan untuk memupuk rasa dengan cara menulis. Bukan bermaksud tidak menghargai situasi yang semestinya memang belum saatnya saya urai.

Bagian-bagian abstrak ini semata cara saya mengalihkan pandangan dari sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi. Tetapi selalu ada satu nama dalam satu ruang yang bernama harapan. Kelak suatu waktu, nama itu akan memetik semua makna yang tersirat dalam tulisan aforisme ini. Segala hal ada masanya, berpikir bahwa harapan adalah kesia-siaan, hanyalah taktik setan mengelabui hamba yang lemah keyakinannya pada kuasa Tuhan.

Sekali lagi, saya harus berterima kasih pada semua yang membuat saya kembali melihat diri ini. Siapa saja yang tak perlu ada yang merasa berjasa. Saya hanya meluapkan perasaaan yang sangat sulit diarahkan. Bahwa saya terlalu jauh melihat namun lupa meraba dunia terdekat.

Hari ini, berkat Tuhan dan perwaliannya pada mahluk, saya menemukan seutas tali penghubung yang mendekatkan doa dan ikhtiar saya menghadapi masa depan.

Dengan segala keadaan yang terus berubah. Dengan dinamisnya suasana yang gampang saja terbolak balik. Yang hari ini meninggalkan, lalu besoknya ditinggalkan. Yang kemarin meletakkan janji, lalu hari ini mengkhianati. Yang di masa lampau setia menanti, ternyata sudah tak punya empati di masa kelak nanti. Saya musti menegaskan hingga ke inti diri saya sendiri, bahwa doa tidak boleh terpisah dari tiap ikhtiar yang disembahkan. Bahwa takdir baik ada pada hati yang berprasangka baik pada Ilahi.

Dan untuk kesekian kalinya, saya tekankan disini. Tuhan tidak menguji seorang hamba lebih dari kemampuannya.

Ditulis di Pandegelang – Banten, 6 Juli 2016

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: