Archive for July, 2016

Primordial Itu Jahat!

Posted in Blogger Kampus, features, Opini, Petualangan with tags , , on July 29, 2016 by mr.f

primordial

Saya orang kampung, tumbuh besar di kampung. Hingga tamat SMA tidak terlalu terbiasa dengan perbedaan level kontras. Meskipun di bangku SMP dan SMA hidup bergaul dengan pluralitas agama dan suku-suku, terutama turunan transmigran tahun 70-an yang ibu bapaknya masuk ke Sulawesi Selatan. Saya punya teman lintas suku cukup akrab, dekat, hingga menjadi sahabat di masa sekolah dulu. Tetapi saya belum memahami perbedaan itu akan membawa suatu konsep pemikiran saya kelak. Seperti yang saya alami belakangan ini. Hidup dengan perbedaan level kontras. Ketika menjadi berbeda dan berada di pihak minoritas. Jaman remaja itu betul-betul hanya menjadi bunga-bunga cerita masa muda.

Perbedaan agama dan suku dalam pergaulan di masa remaja tidak pernah masuk dalam bahasan anjuran bermain oleh orang tua saya. Orang rumah tidak punya pesan khusus dalam berteman. Berteman boleh dengan siapa saja. Itu anjuran tersirat, sebab memang tidak ada larangan. Saya punya beberapa sahabat dekat dari suku jawa, suku bugis, orang Tator, ada juga orang Cina, orang hindu-Bali. Sebenarnya, itu sangat mungkin bisa menjadi perbedaan level kontras jika saya sudah punya cara pandang yang sama dengan saat ini. Tetapi itu dulu, waktu masih jadi anak sekolah. Ketika kekhawatiran tentang prinsip hidup belum terpikirkan sama sekali.

Kini setelah tamat sekolah, perbedaan-perbedaan semacam itu entah kenapa naik level menjadi hal kontras yang selalu dikhawatirkan. Apalagi setelah mengenal yang namanya perjalanan jauh keluar pulau Sulawesi. Lebih tepatnya setelah mengalami nasib menjadi minoritas. Walaupun situasi menjadi minoritas itu hanya sementara.

Saya mulai mengenal istilah generalisasi manusia. Mulai gampang men-judge seseorang dari sukunya, dari agamanya. Saya ingat ketika mulai jadi anak rantau di Makassar, disitulah terbit isu primordial yang kental. Apalagi ketika saya masuk kampus, mahasiswa sedang asyik-asyiknya tawuran membawa nama perbedaan asal daerah, kadang merembet mengatasnamakan suku. Munculnya superioritas masing-masing daerah. Meskipun saya tidak pernah terlibat tawuran antar suku itu, tetapi saya musti tetap berteduh di bawah payung asal daerah saya. Mahasiswa aktif di bawah tahun 2010-an pasti awam dengan tawuran orang Palopo dengan Bone, atau Palopo dengan Bulukumba, Enrekang, Takalar, dan banyak macam perkelahian antar mahasiswa yang membawa bendera kesukuan atau asal daerah itu. Mahasiswa dari masing-masing daerah merasa penting untuk membangun soliditas dan menjadi bersatu atas nama asal daerah. Menguatlah organisasi mahasiswa asal daerah, terlepas dari kepentingan dan isu lain seperti pembelajaran mengenal politik di jenjang mahasiswa. Organisasi mahasiswa itulah yang seringkali menjadi bumper apabila ada gangguan dari mahasiswa rantau lainnya. Tersulutlah api primordial yang dangkal itu. Saling serang, perang, bakar-membakar, bahkan beberapa kali ada yang terbunuh mempertahankan primordialisme ini. Atau sekadar hanya menjadi korban. Jelas bahwa primordialisme banyak buruknya. Primordial itu jahat.

Lain lagi cerita ketika saya mulai keluar kandang, waktu itu saya PKL di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Mulailah disitu saya gampang sekali membuat peta sosial manusia berdasar sukunya. Disana waktu itu, terkenal suku Tolaki. Suku yang digeneralisasi sebagai suku yang berbahaya dan tidak baik diajak akrab terlalu dekat. Banyak orang membuat asumsi bahwa Orang Tolaki punya ilmu hitam yang sangat hebat, yang hanya dengan sekali sentuhan bahkan tanpa sentuhan langsung, batok kepala seseorang dapat dibuat ‘lembek’ seperti ubur-ubur. Namun, di masa PKL itu saya dipertemukan dengan keluarga dari kampung yang sudah jadi warga Kolaka, dan ternyata suaminya adalah orang Tolaki yang sangat baik, tentunya tidak perlu ada yang saya waspadai. Asumsi primordial itu belum hilang, walaupun sudah ada contoh nyata yang mematahkannya.

Ada juga cerita ketika di Makassar, cerita miring tentang Orang Mandar dan Orang Kajang, kedua suku ini adalah suku garis merah bagi banyak mahasiswa waktu itu. Isu tentang ilmu hitam, melahirkan kewaspadaan tersendiri untuk memilih kawan dan pergaulan. Saya  hingga belum lama ini masih punya ingatan lekat dan membuat jarak pergaulan saya dengan beberapa kawan dari kedua suku itu. Barulah setelah meninggalkan Makassar dan berada jauh, saya menyakini paham semacam itu tidak baik ada di mental seorang manusia, khususnya di kepala seorang mahasiswa.

Di luar Sulawesi, saya menjadi minoritas tanpa ada wadah atas nama suku. Saya mulai menjadi diri sendiri, bukan lagi orang Palopo, bukan lagi orang Sulawesi, bukan lagi orang Islam yang merasa superior. Saya menjadi manusia sendiri, namun tetap menghadapi asumsi primordial itu. Primordialisme itu adalah naluri saat kita menjadi minoritas. Tetapi hal itu tetap keliru dan membuat tindakan sosial kita tidak alami, tidak tulus.

Saya masuk ke dalam hutan Kalimantan, menjadi satu-satunya orang Sulawesi. Satu-satunya muslim di kampung itu. Hampir semua manusia adalah suku Dayak Agabag yang masih patuh pada norma adat. Saya tidak punya celah untuk membuat generalisasi pada suku ini. Primordial itu lenyap. Pandangan atas nama suku dan agama itu hilang. Saya hidup dan bergaul atas nama perilaku dan praktek moral keagamaan. Tidak lagi membawa simbol dan ritual keagamaan. Dan hasilnya, saya berhasil keluar dari kampung asli Dayak itu dengan selamat dan mendapat pengalaman berharga mengenal manusia dari sudut minoritas. Tidak membawa bahasa kalau orang Orang Dayak itu baik atau sebaliknya, tetapi bahwa setiap suku itu ada orang baiknya dan ada orang yang belum kita kenal kebaikannya.

Kita selalu membuat generalisasi suatu komunitas bukan pada prinsip manusia-manusianya. Lalu seringkali juga hanya menggunakan dua warna membuat wajah suatu komunitas. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Padahal kita tidak pernah masuk ke dalam kehidupan nyatanya. Padahal kita tidak mengenal dengan baik suatu alasan yang melatarbelakangi sebuah tindakan. Kita menggunakan kuas yang jahat saat melukis wajah manusia. Kita menghadirkan prasangka buruk ketika akan mengambil kesimpulan kepada seseorang atas nama sukunya, atas nama agamanya.

Hari ini saya di Tanah Papua yang dengan segala macam label karakter manusianya terangkum di kepala saya. Menghindarkan diri mencari setitik semangat primordialisme adalah sebuah tantangan. Lingkungan sosial disini juga membentuk asumsi primordial itu. Tetapi saya masih punya optimisme untuk mengabaikannya. Saya akan beradaptasi tanpa melewatkan sikap kritis dan skeptis seorang minoritas. Saya pun tidak boleh luput melakukan kebaikan untuk mengukur kebaikan orang-orang Papua. Tidak juga mudah melukis wajah dengan dua warna sebagai kesimpulan mutlak. Rumusnya selalu sederhana, dimana kamu berikan kebaikan, disitu kamu berhak menerima kebaikan. Dimana kamu merima bukan kebaikan, disitu kamu tetap berhak membalasnya dengan kebaikan. Kebaikan itu cahaya, dan bukan kebaikan itu adalah gelap. Bila datang gelap, nyalakanlah cahaya. Di semua sudut tergelap dunia ini, selalu cukup dengan satu titik cahaya kecil untuk memastikan harapan itu ada. Jika kamu tak mampu jadi suar, jadi satu titik cahaya kecil di kegelapan apapun.

 

Kaimana – Papua Barat, 28 Juli 2016

Gambar; dokumentasi pribadi

Generasi Judgemental

Posted in Blogger Kampus, Komunitas Daeng Blogger, Opini, Petualangan with tags , , on July 29, 2016 by mr.f

judgemental

Bergerak dari dua situasi kontras itu membutuhkan keterampilan. Kehidupan sosial yang terbiasa dengan keserbaadaan menuju tempat penuh keterbatasan. Adaptasi dan asimilasi seperlunya tanpa mengubah prinsip dan idealisme, adalah satu poin utama. Bisa menjadi cara bunuh diri yang kejam bila gagal melakukannya.

Kehidupan kota serba ada yang dikelilingi perangkat teknologi modern. Melahirkan manusia modern anti sosial berlabel generasi judgemental. Generasi abad baru ramuan kemutakhiran. Kemelekatan dan korban serba digitalnya segala urusan. Generasi dimana manusia mendahulukan aktualisasi diri dibanding aksi-aksi. Generasi yang gemar memamerkan segala-galanya. Generasi yang penting orang lain tahu dulu.

Kita semua sedang dalam ekosistem itu. Ekosistem hasil dari konspirasi global. Kapitalisme dan jebakan konsumerisme yang begitu sulit untuk dihindari. Kita tidak mungkin menghindar itu, sementara tuntutan hidup ikut arus mengalir di bawah kaki. Kita sedang ikut mengalir.

Generasi judgemental telah nyata nampak di sekeliling kita. Anak-anak yang tidak lebih percaya pada nasehat ketimbang informasi dari media. Kehidupan yang segalanya musti dimasukkan ke dalam layar. Segala sesuatu diabadikan melalui kamera modern. Disebarkan tanpa pembelajaran. Yang penting seberapa banyak orang tahu keberadaan kita di dunia. Kita semua berhadapan dengan situasi itu. Mungkin sedang melakukannya.

Lalu apakah itu salah kalau ikut jaman? Ikut arus kemutakhiran. Tidak salah. Kita hanya sedang kekurangan bahan fondasi berupa mental yang kokoh mempertahankan nilai sosial yang humanis. Kita hanya belum mampu menegaskan keputusan dalam melangkah. Kita juga tidak mendalami kebajikan dengan utuh sebelum datangnya zaman ini. Kita tidak bersiap.

Kita sering menyaksikan orang lebih memilih memotret korban kecelakaan jalanan ketimbang menolongnya. Kita sudah sangat jarang melakukan kontak sosial dibanding melakukan percakapan di media sosial. Kita mengutamakan aspek efektif dan efisiensi yang kebablasan. Kita melupakan nilai-nilai sosial. Kitalah generasi judgemental itu.

Kita punya teman yang gampang sekali membagikan berita yang tidak ditelusuri kebenarannya sebelum mengklik tombol share. Kita tersugesti menulis ‘amin’ dari kisah haru yang beredar. Kita gampang berdebat di layar tapi sungkan saat bertatap wajah. Kita semakin matang menjadi kaum hipokrit yang punya seribu alasan membenarkan diri. Tidak lagi peduli seberapa berharganya janji ‘Insya Allah’ di kolom komentar yang kita balaskan. Tidak lagi mendalami makna simbol cinta dalam dua ketukan di sebuah gambar. Cinta kita mudah jatuh, namun kita juga jadi cinta mencela.

Kita sedang berjalan membunuh diri dengan pelan tapi kejam bila kita betul-betul tidak cermat memaknai tanda-tanda zaman. Kejam, sebab kita melandaskan segala keadaan pada materi. Kita lupa bahwa materi itu mudah datang dan mudah hilang. Kita kehilangan belas kasih, kehilangan empati, kehilangan compassion. Saat ini kita sedang di puncak piramida martabat kemanusiaan. Manusia cerdas yang gampang tahu segala-galanya dari internet.

Sementara itu, ketimpangan dan ketidakmerataan akses terlihat dekat tapi jauh dari jangkauan kita. Kita tahu itu ada, tapi kita jauh dari usaha kita memperbaikinya. Kita lebih memilih berpangku tangan daripada terjun ke lapangan. Kita lebih mudah mengantongi tangan daripada bersalaman. Keangkuhan kita kian meninggi menyentuh langit, namun lupa kalau kaki masih menapak di suatu tanah. Inilah generasi judgemental di tengah zaman.

Akan tetapi, di balik semua kenyataan itu selalu ada pilihan untuk ambil bagian dalam upaya membangunkan diri kita dari kelenahan ini. Masih banyak juga saudara-saudara kita yang terus berjuang menentang zaman. Menyingkirkan ketidakmungkinan akan tercerahkannya generasi ini. Dan semoga kita juga bisa terlibat membenahi situasi ini dengan idealisme. Dengan cara kita masing-masing. Dengan meninggalkan perlahan sikap-sikap judgemental ini.

 

Kaimana – Papua Barat, 26 Juli 2016

Gambar; dokuentasi pribadi

Kejutan dan Kenyataan di Kaimana

Posted in Blogger Kampus, features, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , , on July 25, 2016 by mr.f

kaimana

Lain harapan lain pula angan-angan. Lain kenyataan lain juga kejutan. Kalau setiap kelainan itu diartikan sebagai masalah maka memang betul setiap saat kita berhadapan dengan masalah hidup. Maka, sudah tentu kita harus punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah, atau sekadar mengompromikan masalah dengan standar-standar kegundahan dan kebahagian kita sendiri. Ini hal yang penting, sebab tidak semua orang punya standar gundah dan bahagia yang sama. Ada orang dengan level tantangan-masalah sama yang diberikan ke orang lain, begitu mudah merasa gundah atau sebaliknya gampang saja merasa itu bukan hal yang layak dia gundahkan. Sehingga perluasan cakrawala dan sudut pandang tentang pemaknaan kenyataan itu sangat penting, itu bisa didapatkan dengan banyak melakukan perjalanan atau serupa kontemplasi.

Bahwa setiap tempat memiliki standar masalah tersendiri adalah keniscayaan. Dalam cakupan kebudayaan, setiap kebudayaan mengajarkan cara pandang berbeda memaknai keadaan. Misalnya belum lama ini, saya ketika berlebaran di daerah Banten, ketiadaan opor ayam bukanlah sebuah hal yang diperbincangkan. Malah yang justru seperti wajib adalah daging kerbau yang diolah sedemikian rupa. Ini baru satu perkara kecil, soal menu makanan lebaran. Tentu hal ini bisa jadi masalah bagi saya bisa pula tidak, itu tergantung saya memaknainya menggunaka standar yang mana. Atau ketika saya di Jakarta lebih dari sebulan, tidur dalam kamar ber-AC dan segala macam kenyataan yang menyenangkan. Ternyata, tidak semua kawan menyenangi keadaan menyenangkan itu, beberapa kawan justru tak sanggup tidur di dalam kamar ber-AC.

Dan hari ini memasuki hari ke empat saya di Kaimana, saya juga harus banyak melakukan kompromi dan improvisasi sudut pandang. Kebenaran dan kesalahan itu mungkin bergantung situasinya. Penyeusaian pertama adalah perbedaan waktu dari tempat saya sebelumnya di Jawa. Dua jam itu cukup membuat pola aktivitas sehari-hari kebingungan. Seperti pola tidur. Ini bukan hal besar bukan pula yang gampang disepelekan, intinya saya mutlak melakukan kompromi.

Saya datang ke Kaimana dengan banyak sekali harapan, angan-angan, asumsi-asumsi juga ada beberapa kecemasan. Dengan begiu banyaknya informasi yang tersadur di kepala saya terkait dengan budaya orang timur terkhusus Papua, membuat saya harus selalu siap menghadapi keadaan, tidak berarti saya sudah tahu rupa-rupa kejutan. Jumat, hari pertama saya di Kaimana, saya akan urutkan beberapa kejutan yang saya dapatkan. Pertama, di toilet Bandara Utarum – Kaimana, saya disuguhi pemandangan tidak biasa, bukan pemdangan alam yang saya tidak perlu terkejut lagi tetapi pemandangan di westafel yang berceceran bercak merah yang saya tebak adalah bekas sirih dari mulut orang lokal disini. Ini memang kali pertama saya ke Tanah Papua, tetapi saya tidak betul-betul menyangka kebiasaan bersirih sampai di ruang bandara. Yang pernah saya lihat di televisi, sirih itu banyak dikerjakan orang di kampung-kampung atau di pasar-pasar. Bukan di tempat modern seperti bandara ini.

Lalu kejutan kedua, masih di toilet bandara. Sungguh tidak menggambarkan toilet level bandara.. Bau kakus membuat saya dejavu ke toilet SD saya jaman dahulu kala. Ya Tuhan, ini toilet bandara tapi baunya luar biasa. Dan parahnya lagi, di toilet berstandar Amerika  itu masih dipenuhi berak yang belum disiram. Sebenarnya saya ingin memotretnya, tapi hal itu menjadi tidak mungkin saya lakukan dalam situasi tidak terduga dan memualkan seperti ini.

Kegagalan asumsi selanjutnya adalah, kata senja yang dipaketkan dengan kata Kaimana. Ini juga adalah sebuah pengharapan yang berlebihan. Tiga sore hari saya mengamati senja yang fenomenal itu, tapi itu seperti ilusi.Sungguh jauh lebih jingga senja di Pantai Losari dibanding obsesi saya tentang senja di Kaimana. Meskipun kenyataan ini bisa dikoreksi dengan kenyataan lain, bahwa setibanya saya di Kaimana, langit memang lebih banyak mendung daripada terik yang saya waspadai.

Ada juga asumsi saya yang tidak jauh meleset dari keadaan yang betul-betul saya saksikan disini. Walaupun disini adalah jantung kota Kaimana, tetapi kita masih sangat bisa menyaksikan dengan mudah orang mabuk di pagi hari. Pagi hari loh, bukan malam hari. Sehingga, saya mulai mengerti perbincangan saya dengan sopir angkot di hari kedua, tentang ancamankeselamatan diri  di malam hari dari para pemabuk yang berseliweran di tengah-tengah kota.

Ada satu lagi hal menarik yang saya dapat selama beberapa hari di kota ini. Setiap hari sandal saya berganti tiap kali saya ke masjid untuk sholat. Karena saya selalu keluar masjid paling akhir, maka saya selalu menemukan sandal saya berubah bentuk, berubah warna, berubah pasangan, dan berubah-berubah. Padahal di bagian pintu masuk masjid yang lain, tersedia hampir sepuluh pasang sandal dengan label masjid yang digunakan untuk keperluan jamaah ke tempat wuduh.  Ini pengalaman saya kehilangan sandal yang unik.

Akan tetapi saya tidak hanya menerima hal-hal sedikit negatif itu di Kota Kaimana ini. Saya tentu juga harus menuliskan tentang banyaknya orang baik di tengah masuknya peradaban di Kota Kaimana ini. Ketika ada orang lokal yang kami tidak saling mengenal lalu menawarkan kebaikan untuk menyediakan rumah singgah. Ketika ada sepasang ibu bapak yang ramah berkomunikasi. Ketika ada bocah tulus yang dalam sekejab merasa akrab dan dekat dengan saya. Ketika ada pemilik toko yang tidak menjual barang dagangannya karena tau barang itu akan cepat rusak.

Memang bukan hal yang bijak untuk membuat generalisasi tentang sebuah kota, atau sebuah suku hanya karena ulah beberapa orang saja, pun itu adalah sebuah kebiasaan atau bisa jadi adalah kebudayaan lokal di suatu tempat. Akan tetapi selalu ada nilai positif yang ditawarkan dari sebuah tradisi dan kebudayaan dan juga selalu ada telur yang busuk dalam satu periode ayam mengeram.

Terlepas dari kejutan-kejutan itu, saya tetap harus memilki harapan-harapan dan optimisme kebajikan untuk tinggal disini selama setahun ke depan. Bukan di tengah kota ini, tetapi di sebuah kampung nun jauh dari kota ini. Kampung yang sebelumnya kita harus mengarungi lautan. Kampung yang menawarkan kesunyian. Kampung yang sangat mungkin menentramkan kebisingan dan kekhawatiran. Kampung yang mungkin saja disanalah ada senja yang saya cari di Kaimana.

Kota Kaimana, 25 Juli 2016

Gambar; koleksi pribadi