Archive for May, 2016

Berbagi Darah, Berbagi Asa

Posted in Blogger Kampus, Having Fun, lomba blog, Opini with tags , , , , , , on May 30, 2016 by mr.f

 

Donor Darah

Mungkin tidak semua orang sepakat bahwa cara terbaik menemukan kebahagiaan adalah dengan berbagi. Kebahagiaan, walaupun abstrak dan tidak punya formulasi pasti, tetapi hampir semua orang bertujuan hidup untuk menemukan kebahagiaan. Pada bagaimanapun hidup yang sedang dialami oleh seseorang.

Saya sendiri yang meskipun belum banyak mencicipi asam-manis dan pahit-getir kehidupan, tetapi saya dengan rasa percaya diri yang utuh meyakini bahwa hidup kita yang hanya sekali ini akan menjadi berarti dengan cara banyak berbagi. Perasaan berarti inilah yang akan mengantarkan kita pada dimensi perasaan yang lain, seperti kebahagiaan dan kepuasan atas hidup.

Bahwa kita tidak  perlu menjadi siapa-siapa terlebih dulu untuk berbagi. Kita tidak pernah tahu kapan tangan kita berbalik posisi menjadi tengada tangan penerima. Sebab antara memberi dan menerima tidak sepenuhnya tentang materi, tentang siapa yang punya lebih dan siapa yang kurang. Akan tetapi persoalan berbagi dan memberi adalah persoalan mental yang musti senantiasa diasah kepekaan dan kerelaannya.

Dulu di jaman kuliah, saya punya satu kebiasaan yang memang saya latih dan tidak banyak saya umbar di dunia maya. Kebiasaan menjadi relawan donor darah setiap tiga bulan sekali. Saya paham situasi saya pada saat itu, bahwa untuk berbagi dan memberi pada persoalan materi, mungkin justru akan memberatkan hidup saya sebagai anak rantau yang tinggal jauh dari rumah dan orang tua. Maka dengan cara mendonorkan darah, saya tetap bisa menggolongkan diri sebagai pemberi dan bisa berharap ada manfaat yang orang lain akan terima. Bukan mengharap manfaat yang akan saya terima.

Sekitar sembilan tahun lalu, saya mulai mengenal istilah donor darah. Saya mengenalnya lewat Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia unit Universitas Negeri Makassar  atau KSR PMI UNM. Seorang kerabat dekat saya di kampus, mengenalkan saya dengan organisasi kemanusiaan tertua di dunia ini dengan cara yang sangat bijaksana. Menyodorkan saya formulir pendonor dan membicarakan sedikit tentang kemungkinan hidup kita akan ada manfaat bagi orang lain dengan mendonorkan darah. Kemungkinan akan betapa dibutuhkannya sekantong darah yang akan saya donorkan. Kemungkinan akan dijadikannya darah kita sebagai cairan yang memisahkan hidup seseorang dari kematian.

Saat itu, saya belum punya pengalaman pribadi tentang betapa berartinya sekantong darah. Hingga waktu terus berlalu dan saya telah berjumpa dengan situasi genting dimana salah seorang keluarga akan dioperasi dan harus menyiapkan beberapa kantong darah untuk recovery pasca operasi. Stock darah sedang limit di semua unit  PMI se Kota Makassar. Saya pontang-panting cari darah, mengumumkan di semua sosial media, menghubungi semua kolega yang saya ingat punya kebiasaan donor darah. Dari lima orang kawan yang saya bawa untuk PMI, hanya dua yang memenuhi syarat sebagai pendonor. Bersyukurnya, saya tidak bekerja sendiri. Tak lama PMI unit lain mengonfirmasi telah memiliki darah dengan resus yang sama dengan keluarga saya. Sejak itu saya begitu respect dengan organisasi kemanusiaan ini, yang selalu bekerja total dan sepenuh hati dimanapun kepada siapapun, tanpa memandang usia, gender, suku, maupun agama.

Kini, hampir sembilan tahun saya selalu mencoba rutin menjadi relawan donor darah. Seingat saya, sudah 21 kantong darah yang saya keluarkan dari tubuh saya selama sembilan tahun itu. Saya pernah beberapa kali ditolak oleh petugas PMI sebagai pendonor. Suatu hari, saya hendak mendonor di kampus, ternyata saya melakukan donor terakhir 74 hari yang lalu, sedangkan syarat minimalnya adalah selang 75 hari. Saya sedikit ngotot supaya saya tetap bisa berdonor, tetapi rekan saya di KSR PMI unit UNM tidak mau mengambil resiko. Katanya, aturan itu tidak lain adalah untuk kesehatan pendonor sendiri. Saya salut dengan komitmen dan integritas orang-orang di PMI. Sebab bekerja untuk kemanusiaan seperti ini tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan jiwa manusia yang lain.

Pernah juga saya tertolak sebanyak tiga kali. Kejadiannya, waktu itu saya sedang di Kediri, akhir tahun 2013 silam, ketika kursus di Kampung Inggris Pare. Penolakan pertama, petugas PMI Kediri menolak saya dengan alasan tekanan darah yang tidak bisa memenuhi syarat sebagai pendonor dan menyarankan saya untuk tidur lebih awal, memperhatikan gizi makanan dan berolahraga yang cukup. Tiga hari kemudian, saya datang lagi, saya ditolak lagi dengan alasan yang sama, padahal saya sudah melakukan anjuran petugas PMI. Petugas PMI Kediri kembali menyarankan dengan anjuran yang sama dengan saat ditolak pertama. Saya datang lagi dua hari kemudian, ditolak lagi. Saya pasrah dan tidak mau ngotot. Saya tahu ini untuk kebaikan saya sendiri, meskipun niat saya berdonor untuk kebaikan orang lain. Akhirnya saya tidak berkesempatan donor di Tanah Jawa.

Saya tidak hanya tertolak di dua unit PMI seperti cerita di atas. Di PMI Unit Mall Ratu Indah Makassar yang menjadi PMI favorit saya untuk berdonor, sudah seringkali saya tertolak. Kadang karena tekanan darah, hemoglobin rendah, istrahat kurang dan banyak syarat yang tegas dan tidak bisa dimanipulasi. Ketegasan ini semakin menunjukkan bahwa PMI serius setulus hati bekerja untuk manusia, bukan menolong satu manusia dan mengorbankan manusia yang lain. PMI memiliki standar yang ketat terhadap pendonor, PMI dimanapun itu. PMI juga melakukan standar yang sama pada siapapun, tidak membedakan pendonor dan penerima donor. PMI hadir dimanapun untuk siappun, anywhere to anyone.

Saya telah menganggap donor darah sebagai gaya hidup. Melakukannya atas dasar empati dan kemanusiaan. Mendonorkan darah tanpa mengharap balas. Dari 21 kantong darah yang keluar dari tubuh saya selama sembilan tahun itu, tak satupun saya ketahui mengalir dan mengisi ke tubuh siapa darah saya itu. Sebab saya memang tak perlu tahu, saya menghindarkan diri dari segala kemungkinan berbangga dan menyombongkan diri, meskipun itu mungkin saja untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Berbagi darah berarti berbagi asa. Berbagi darah berarti berbagi harapan melanjutkan hidup yang lebih berarti.

Akhirnya, mari senantiasa berbagi, kita tidak akan pernah menyangka kapan kita akan kekurangan, sebab waktu mutlak menciptakan perubahan. Hanya dengan selalu merasa cukup, jiwa kita akan lebih ringan memberi dan berbagi.

 

Gambar; Koleksi pribadi

Advertisements

Rekening Tunggal, Simbol Loyalitas Tanpa Batas

Posted in #AskBNI, Blogger Kampus, Feature, Petualangan with tags , , , , , , on May 26, 2016 by mr.f

IMG_0230

Setiap manusia akan cenderung kuat merawat hal-hal terbaik pada masa lalu. Menyukai nostalgia untuk peristiwa berkesan. Manusia pandai menyenangkan dirinya dengan mempermainkan ingatannya. Untuk hal-hal berkesan, selalu ada tempat untuk bersembunyi dari timbunan ingatan yang kian bertambah setiap saat.

Satu ciri masa lalu yang dinikmati adalah masa lalu yang sering diceritakan. Dan satu ciri masa lalu yang akan abadi adalah masa lalu yang dituliskan. Manusia yang menuliskan ingatannya tidak berarti mencoba melawan takdir akan fananya segala apa yang ada di dunia.

Saya punya banyak sekali hal berarti dalam hidup di masa lalu dan begitu pula saat sekarang. Bila hendak mengingat semuanya, maka saya musti menggali ingatan. Salah satu dari banyak hal berarti itu adalah kesempatan untuk berkuliah di perguruan tinggi negeri di Makassar. Sebagai anak rantau yang hidup berjarak dengan keluarga, maka kehidupan kota yang sudah berkonotasi buruk sejak dari kampung musti disiasati dengan segala kemampuan dan kesempatan yang ada.

Jangan coba-coba berbicara tentang susahnya bersekolah jika belum pernah merasakan jadi anak kos-kosan dengan biaya hidup pas-pasan dan kiriman dari kampung yang selalu datang entah kapan. Sebabnya karena ibu saya petani yang single parent yang harus bertarung hidup demi delapan saudara kandung saya yang lain.

Biaya kuliah saya bersumber dari hal-hal tidak terduga yang selalu diyakini oleh ibu saya. Ada banyak susah di masa kuliah itu, masa yang ketika susah pun mutlak dinikmati. Tidak ada jalan keluar untuk berbahagia bila hidup semasa kuliah habis untuk digerutui hanya karena soal isi rekening yang tak pernah tersisa. Nah cerita soal rekening inilah yang ingin saya urai sedikit disini.

Semasa kuliah saya hanya punya satu nomor rekening. Rekening tunggal andalan yang saya dapatkan sepaket dengan kartu mahasiswa saya di Universitas Negeri Makassar sewaktu menjadi mahasiswa baru. Kartu mahasiswa yang sekaligus kartu ATM ini dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia atau BNI, bank terbaik dan teramah bagi anak rantau. Ramah, karena sangat rendahnya biaya administrasi bulanan yang diterapkan. Saran saya, bila anda mahasiswa rantau dan berusia di bawah 25 tahun, maka pakailah rekening BNI  Taplus Muda. Jenis tabungan ini memiliki fitur yang sangat relevan bagi kehidupan seorang mahasiswa rantau.

Kartu mahasiswa yang juga kartu ATM BNI inilah yang menjadi satu-satunya jalur lalu lintas keuangan satu arah yang saya miliki. Di awal-awal menjadi mahasiswa, ketika segala kebutuhan keuangan bergantung total pada kiriman ibu, maka melalui kartu mahasiswa inilah segala kemudahan dapat saya syukuri.

Orang tua di kampung yang lebih dulu mengaplikasikan SMS Banking BNI tak perlu repot ke kota mengantri untuk urusan semacam ini. Di saat-saat tuntutan dana begitu mendesak, saya juga tidak perlu repot-repot mencari ATM. ATM BNI begitu mudah dijangkau dimana saja, apalagi dengan adanya label ATM Bersama, maka menarik kiriman tidak perlu ada alasan untuk menunda.

Lalu, cerita menarik lainnya terkait kartu mahasiswa-ATM BNI ini adalah ketika saya lupa dimana meletakkan buku tabungan rekening kartu ATM BNI tersebut hingga akhirnya berstatus hilang, tetapi saya acuh untuk mengurusnya. Buku tabungan rekening tersebut sebenarnya tidak begitu sering saya gunakan dalam transaksi, sebab sebagaimana yang saya katakan di awal, bahwa kartu ATM BNI tersebut adalah lalu lintas keuangan satu arah, dimana saya hanya menerima dan hampir tidak pernah mengirim dana melalui kartu ATM BNI tersebut.

Hingga suatu kali, ketika saya mendapat rejeki dari arah yang tidak disangka, saya musti menyimpannya di tempat yang aman, dimana lagi kalau bukan di rekening tunggal BNI yang saya miliki itu. Meski tanpa buku tabungan, saya selalu merasa yakin dan aman dengan dana yang saya simpan itu. Bank BNI sama sekali tidak memberi keraguan akan hal itu.

Ada lagi satu poin yang tidak boleh saya lewatkan di kesempatan mengungkit masa lalu di jaman mahasiswa ini, bahwa kartu mahasiswa yang sekaligus kartu ATM BNI tersebut tetap saya gunakan meskipun saya telah bukan lagi mahasiswa. Regulasi penarikan kembali kartu mahasiswa di kampus saya tidak begitu ketat sebagai syarat kelulusan, sehingga kelebihan dan kemudahan-kemudahan dari fitur kartu ATM-Mahasiswa tersebut tetap layak untuk dipertahankan dan menjadi kartu pamungkas penghuni dompet selama hampir sepuluh tahun lamanya.

Hampir sepuluh tahun, saya menikmati dan menggunakan kartu mahasiswa-ATM BNI tersebut. Dari yang semula hanya jalur lalu lintas keuangan satu arah menjadi lalu lintas keluar masuk yang utama. Saya heran, kartu mahasiswa ini masih bisa digunakan di tahun ke sepuluh sejak dikeluarkan. Andai saja, bukan faktor fisik kartu yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk digunakan, saya pasti masih tetap setia dengan satu kartu mahasiswa-ATM BNI itu. Sehingga saat ini, saya tetap menggunakan nomor rekening yang sama dengan nomor rekening bawan dari kartu mahasiswa, saya hanya mengkonversi tabungan menjadi tabungan BNI Taplus.

Beberapa kali juga kartu mahasiswa itu menyelamatkan saya dari deadline pembayaran sebuah transaksi. Terutama ketika hendak melakukan pembayaran transaksi online, seperti untuk pembelian tiket pesawat yang selalu ada batas waktu pembayarannya atau saat berbelanja online. Di saat saldo rekening tak mencukupi, maka Bank BNI yang menyediakan ATM untuk setoran tunai menjadi solusi terbaik menyelesaikan soal semacam ini.

Pengalaman saya menjelajahi banyak tempat, hanya Bank BNI yang menyediakan ATM setoran tunai terbanyak, yang tersedia bahkan di tingkat kecamatan. Saya ingat, waktu itu saya berada di Pelabuhan PLBL Liem Hie Djung, Tanah Merah, Nunukan, Kalimantan Utara. Lalu, tiba-tiba sebelum menaiki speedboat, saya dihubungi adik yang sedang berkuliah di Makassar dan meminta tolong untuk ditransferkan dana secepatnya sebelum tenggak waktu pembayaran SPP. Maka saya pun bingung, bagaimana menyelesaikan urusan ini, sebab saldo di rekening BNI tidak mencukupi untuk ditransfer melalui SMS Banking. Ternyata sekitar pelabuhan ada ATM BNI setoran tunai. Saat itulah, saya menyaksikan bagaimana keseriusan Bank BNI melayani dan memenuhi kebutuhan nasabah bahkan di tempat yang tidak saya duga akan ada ATM setoran tunai disana.

Pengalaman-pengalaman bersama kartu mahaiswa-ATM BNI itulah yang menjadikan saya selalu setia dan loyal pada Bank BNI. Sebab, hal-hal berjasa dalam hidup kita selalu punya tempat untuk dikenang, dihargai, dan diceritakan. Mungkin tidak semua orang gampang menyepelekan, tetapi hampir semua gampang melupakan. Satu keburukan biasanya akan menghapus seribu kabaikan sebelumnya. Begitu pula dengan kartu mahasiswa yang menjadi kartu ATM tunggal saya itu, meski pernah terhambat untuk penarikan tunai karena adanya batas tertentu saat hendak membeli laptop, tidak lantas menjadikan saya mengutuk keterbatasan itu. Sebab pilihan bijaksana selalu ada setiap kali kita ditimpah masalah.

Satu kekecewaan tidak harus melupakan sejuta kepuasan terdahulu. Maka pada siapa dan apa yang saja yang telah terlibat dalam kisah masa lalu, baik kesulitan yang diciptakan atau kebahagiaan yang ditimbulkan, kita hanya perlu berterima kasih lebih banyak. Bukankah pelajaran masa lalu adalah sebaik-baik batu loncatan.

Sehingga kepada kampus yang telah mengorbitkan saya ke dunia, Universitas Negeri Makassar dan  kepada pihak Bank BNI 46 yang dengan segala kemudahan dan kemurahan hati melayani nasabah alias mahasiswa beruntung seperti saya, maka saya musti melipatgandakan rasa syukur dan terima kasih, pun saat ini saya masih bukan siapa- siapa dan belum punya apa-apa. Tetapi segala hal niscaya akan berubah oleh usaha, doa, dan optimisme. Salam loyalitas tanpa batas.

Gambar; Dokumentasi Pribadi