Konsumen Cerdas di Garis Batas

cerdasdigarisbatas

“Indonesia bukan hanya Jawa dan Jakarta, jendela bangsa Indonesia itu sebenarnya ada di kampung-kampung seperti ini, kampung-kampung yang tepat di garis batas negara.”  Kalimat itu seringkali saya dengar ketika berbincang dengan masyarakat batas nusantara di pedalaman Kalimantan Utara. Tentu kalimat tersebut bukan bermaksud untuk menghakimi pihak tertentu atau sekadar ungkapan untuk mengutuk keadaan.

Ada banyak sekali peristiwa menggelitik rasa nasionalisme ketika kita tahu bagaimana rasanya hidup di garis batas. Melalui pendekatan partisipatif, selama lima bulan saya hidup di lingkaran masyarakat suku Dayak perbatasan di Kalimantan Utara. Dengan hidup berbaur dan melaukukan infiltrasi diri, saya mulai paham dan tahu sedikit pola dan tingkah laku hidup masyarakat di batas nusantara tersebut.

Hidup di garis batas nusantara adalah sebuah pertarungan prinsip hidup. Taruhannya tidak ringan, melainkan identitas kebangsaan yang sangat rentan untuk disusupi banyak sekali godaan. Kadangkala soalnya kedengaran sangat sederhana, misalnya karena soal produk untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena soal seperti itu, isu pindah negara dan hasrat untuk mengibarkan bendera negara tetangga tidak terjadi sekali dua kali.

Beruntungnya, di garis batas itu, selalu ada orang-orang cerdas yang masih memegang nasionalisme tinggi. Tidak hanya bertindak sebagai warga, tetapi jauh sampai pada peran menjadi konsumen atas produk yang masuk ke kampung-kampung mereka. Hingga pada soal-soal menjadi konsumen semacam itu, negara ini tidak boleh mengabaikan begitu saja hal-hal tersebut. Bahkan soal-soal semacam tersebutlah yang kelihatan sepele tetapi justru penting untuk mengukur rasa nasionalisme sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Apalagi memasuki tahun dimana gerbang MEA terbuka lebar, mau tidak mau masyarakat di garis batas mutlak menjadi masyarakat atau konsumen cerdas. Hal-hal sederhana seperti ketelitian saat membeli atau bertransaksi , memperhatikan tanggal kadaluwarsa, memastikan produk sesuai standar mutu (SNI), memperhatikan label, manual dan Kartu Garansi Bahasa Indonesia dan paling penting adalah senantiasa menjadikan produk dalam negeri sebagai pilihan utama adalah poin-poin yang musti ada dan selalu menjadi pertimbangan ketika hendak memutuskan untuk bertransaksi.

Bahwa sejujurnya, dengan kompleksnya kondisi di daerah batas negara. Tuntutan untuk menjadi masyarakat atau konsumen cerdas adalah hal yang kian hari kian menjadi utama dalam prioritas sebagai warga negara Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Walaupun dengan segala keterbatasan, tantangan, dan ketimpangan keadaan, tetapi itu tidak lantas menjadikan masyarakat di garis batas yang sebenaranya adalah wajah asli bangsa Indonesia dalam hal urusan bernegara.

Contoh kasus tentang pertarungan idealisme bernegara itu bisa disaksikan  dalam kehidupan sehari-hari. Di daerah perbatasan semacam inilah yang menjadi titik temu produk dari dua negara yang bertetangga. Sehingga pengetahuan-pengetahuan akan pentingnya memilih produk dalam negeri di tengah perbandingan produk dari negara lain itu sangat penting juga tentang pengetahuan akan hak dan kewajiban sebagai konsumen.

Konsumen yang cerdas itu adalah konsumen yang paham akan hak dan kewajibannya, meliputi hal seperti  paham akan hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Paham akan hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Tahu akan hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan jasa. Berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan. Berhak untuk mendapat advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Juga berhak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. Mempunyai hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Hingga berhak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Saya dengan segala pengetahuan sebagai warga negara yang mencintai bangsa ini sepenuh hati. Selama lima bulan itu berusaha meneladankan bagaimana usaha menjadi warga negara yang senantiasa memilih dan mendahulukan produk dalam negeri ketimbang produk dari negara tetangga. Walaupun godaannya terasa berat, semisal adanya pertimbangan kualitas barang yang serupa. Akan tetapi saya selalu menyakini, bahwa mencintai produk dalam negeri bukanlah sebatas slogan yang sering dikampanyekan, melainkan adalah sebuah ikhtiar yang dicontohkan baik secara sederhana maupun secara tegas. Jadi mari senantiasa mencintai produk bangsa sendiri dimulai dari hal-hal sederhana, dari hal-hal di lingkungan terdekat dan terpenting dari diri sendiri.

Nah, untuk memahami hak-hak sebagai warga negara dalam hal menjadi konsumen di negara ini, kita bisa menemukannya melalui informasi yang dibagikan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, silakan klik link berikut http://ditjenpktn.kemendag.go.id/ untuk mengetahui informasi lebih banyak seputar menjadi konsumen cerdas.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia sebagai rangkaian peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) tahun 2016.

Gambar: koleksi pribadi

Advertisements

16 Responses to “Konsumen Cerdas di Garis Batas”

  1. setuju kanda, semua orang berhak atas hanya sebagai konsumen. postingan ini mencerahkan. (y)

  2. Yuhuuu betul itu kak

  3. mujahidzulfadli Says:

    Nafas negeri ini di mulai dari kehidupan di kampung-kampung. Yap, benar sekali, bung.

    Jadi, apapun situasinya, pemerintah harus mengupayakan hadir di pelosok-pelosok demi memenuhi kebutuhan warga melalui ketersediaan produk dan komoditi dasar.

    Jika barang luar yang terbeli karena lebih affordable, masyarakat tidak sepenuhnya salah, sebab mereka bertarung dengan urusan ‘makan’ atau ‘tidak makan’.

    • yuhuuu, soal ini musti memang sampai ke meja stakeholder. urusan ini kompleks. nasionalisme dan tuntutan realitas harus disaksikan dalam satu bingkai. cerdasnya bangsa ini harus dipahami secara utuh. tetapi yang terpenting adalah cinta pada negeri ini harus tetap menyala. sebab angin dan cobaan selalu ada. terima komentarnya bung mujahidzulfadli 😉

  4. anhy chan Says:

    Thats right kak.

  5. Betul kak

  6. Mantapp daeng..

  7. Kritik dan logis. Mantaf

  8. Iyye kak. Haruski memang cerdas sebagai konsumen. Dan tidak lupa dukung terus produk dalam negeri.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: