Archive for April, 2016

Konsumen Cerdas di Garis Batas

Posted in features, Opini, Petualangan with tags , , , , , , , , , , , on April 15, 2016 by mr.f

cerdasdigarisbatas

“Indonesia bukan hanya Jawa dan Jakarta, jendela bangsa Indonesia itu sebenarnya ada di kampung-kampung seperti ini, kampung-kampung yang tepat di garis batas negara.”  Kalimat itu seringkali saya dengar ketika berbincang dengan masyarakat batas nusantara di pedalaman Kalimantan Utara. Tentu kalimat tersebut bukan bermaksud untuk menghakimi pihak tertentu atau sekadar ungkapan untuk mengutuk keadaan.

Ada banyak sekali peristiwa menggelitik rasa nasionalisme ketika kita tahu bagaimana rasanya hidup di garis batas. Melalui pendekatan partisipatif, selama lima bulan saya hidup di lingkaran masyarakat suku Dayak perbatasan di Kalimantan Utara. Dengan hidup berbaur dan melaukukan infiltrasi diri, saya mulai paham dan tahu sedikit pola dan tingkah laku hidup masyarakat di batas nusantara tersebut.

Hidup di garis batas nusantara adalah sebuah pertarungan prinsip hidup. Taruhannya tidak ringan, melainkan identitas kebangsaan yang sangat rentan untuk disusupi banyak sekali godaan. Kadangkala soalnya kedengaran sangat sederhana, misalnya karena soal produk untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena soal seperti itu, isu pindah negara dan hasrat untuk mengibarkan bendera negara tetangga tidak terjadi sekali dua kali.

Beruntungnya, di garis batas itu, selalu ada orang-orang cerdas yang masih memegang nasionalisme tinggi. Tidak hanya bertindak sebagai warga, tetapi jauh sampai pada peran menjadi konsumen atas produk yang masuk ke kampung-kampung mereka. Hingga pada soal-soal menjadi konsumen semacam itu, negara ini tidak boleh mengabaikan begitu saja hal-hal tersebut. Bahkan soal-soal semacam tersebutlah yang kelihatan sepele tetapi justru penting untuk mengukur rasa nasionalisme sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Apalagi memasuki tahun dimana gerbang MEA terbuka lebar, mau tidak mau masyarakat di garis batas mutlak menjadi masyarakat atau konsumen cerdas. Hal-hal sederhana seperti ketelitian saat membeli atau bertransaksi , memperhatikan tanggal kadaluwarsa, memastikan produk sesuai standar mutu (SNI), memperhatikan label, manual dan Kartu Garansi Bahasa Indonesia dan paling penting adalah senantiasa menjadikan produk dalam negeri sebagai pilihan utama adalah poin-poin yang musti ada dan selalu menjadi pertimbangan ketika hendak memutuskan untuk bertransaksi.

Bahwa sejujurnya, dengan kompleksnya kondisi di daerah batas negara. Tuntutan untuk menjadi masyarakat atau konsumen cerdas adalah hal yang kian hari kian menjadi utama dalam prioritas sebagai warga negara Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Walaupun dengan segala keterbatasan, tantangan, dan ketimpangan keadaan, tetapi itu tidak lantas menjadikan masyarakat di garis batas yang sebenaranya adalah wajah asli bangsa Indonesia dalam hal urusan bernegara.

Contoh kasus tentang pertarungan idealisme bernegara itu bisa disaksikan  dalam kehidupan sehari-hari. Di daerah perbatasan semacam inilah yang menjadi titik temu produk dari dua negara yang bertetangga. Sehingga pengetahuan-pengetahuan akan pentingnya memilih produk dalam negeri di tengah perbandingan produk dari negara lain itu sangat penting juga tentang pengetahuan akan hak dan kewajiban sebagai konsumen.

Konsumen yang cerdas itu adalah konsumen yang paham akan hak dan kewajibannya, meliputi hal seperti  paham akan hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Paham akan hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Tahu akan hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan jasa. Berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan. Berhak untuk mendapat advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Juga berhak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. Mempunyai hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Hingga berhak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Saya dengan segala pengetahuan sebagai warga negara yang mencintai bangsa ini sepenuh hati. Selama lima bulan itu berusaha meneladankan bagaimana usaha menjadi warga negara yang senantiasa memilih dan mendahulukan produk dalam negeri ketimbang produk dari negara tetangga. Walaupun godaannya terasa berat, semisal adanya pertimbangan kualitas barang yang serupa. Akan tetapi saya selalu menyakini, bahwa mencintai produk dalam negeri bukanlah sebatas slogan yang sering dikampanyekan, melainkan adalah sebuah ikhtiar yang dicontohkan baik secara sederhana maupun secara tegas. Jadi mari senantiasa mencintai produk bangsa sendiri dimulai dari hal-hal sederhana, dari hal-hal di lingkungan terdekat dan terpenting dari diri sendiri.

Nah, untuk memahami hak-hak sebagai warga negara dalam hal menjadi konsumen di negara ini, kita bisa menemukannya melalui informasi yang dibagikan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, silakan klik link berikut http://ditjenpktn.kemendag.go.id/ untuk mengetahui informasi lebih banyak seputar menjadi konsumen cerdas.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia sebagai rangkaian peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) tahun 2016.

Gambar: koleksi pribadi

Traveler Pasir Pulau

Posted in Blogger Kampus, Feature, Having Fun, Petualangan, Run Away with tags , , , , , , , , , , , , , , , on April 7, 2016 by mr.f

Derawan

Tahun 2016 mungkin akan menjadi tahun bersejarah bagi ambisi petualangan pulau dan pasir pantai dalam hidup saya. Tahun ini, syukur tiada henti di dalam hati, sebab beberapa keinginan untuk menikmati wisata bahari Indonesia satu persatu mewujud nyata. Lima tahun terakhir saya terus bertualang mencari dan memenuhi ambisi itu. Ambisi petualangan itu mulai tumbuh sejak tahun 2011, tahun itu menjadi titik awal saya ingin mengenal lebih dekat wisata bahari Indonesia.

tanjung tinggi

Tahun 2011 saya berhasil menyaksikan sendiri keindahan Pantai Tanjung Tinggi di Pulau Belitung. Siapa yang tidak kenal dengan pantai yang diperkenalkan oleh Andrea Hirata dalam novelnya yang fenomenal, Laskar Pelangi yang kemudian difilmkan di lokasi yang sama dalam novel. Pantai ini, selain pasir putihnya yang menawan, pantai ini juga populer dengan batu-batu besar yang menjadi keunikan tersendiri untuk menarik wisatawan. Tahun 2011 itu, saya tidak hanya ke Belitung, melalui kegiatan Sail Belitong yang menggunakan KRI 590 Makassar, saya diperkenankan melihat keindahan wisata bahari Indonesia bagian barat, mulai dari Kepulauan Natuna, Batam, Dumai, dan Pulau Bangka. Saat itu, kami berlayar selama hampir sebulan lamanya. Dan pengalaman berlayar bersama TNI AL itu berhasil menyadarkan saya betapa luar biasanya potensi bahari negeri ini.

image

Tahun 2013, untuk ketiga kalinya saya kembali ke pantai  Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tahun 2013 itu saya kembali dengan membawa perasaan dan sensasi berbeda dari kedatangan saya sebelumnya. Pantai ini adalah pantai dengan pasir putih terhalus yang pernah saya temui. Pemandangan sekitar pantai pun tak kalah eksotisnya, termasuk air laut yang nampak biru kehijau-hijauan. Saya menduga, siapapun yang pernah ke pantai ini, mungkin akan datang lagi untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya.

MG_2913

Akhir tahun 2013, untuk kali pertama saya nekat melakukan perjalanan roda dua dari Pulau Jawa hingga ke Pulau Sumbawa selama 9 hari. Pada saat itu, total saya mendatangi lima pulau. Saya mulai dari Kediri, Jawa Timur lalu berleha-leha di Pulau Bali sambil menikmati keindahan pantai-pantai yang membuat saya penasaran dengan apa yang membuat sedemikian terpikatnya para turis dari luar negeri seluruh dunia nekat-nekatan datang ke Pulau Dewata ini. Di situ saya paham, bahwa pantai-pantai di Bali memang menawarkan pemandangan bertaraf dunia. Pasirnya yang putih, ombaknya yang tepat menjadi arena selancar, sunset-nya yang begitu indah, dan kearifan lokal yang memang layak dikunjungi untuk menambah khasanah pengetahuan kebudayaan Indonesia. Semua terangkum di Pulau Bali. Dan jangan pernah mengaku penikmat pantai kalau belum pernah ke Pulau Bali, mungkin begitu kesimpulan saya pada keindahan pantai di Pulau Bali.

pantai pink lombok

Setelah bersenang-senang dengan pantai Bali, saya melanjutkan ke Pulau Lombok. Tebak kemana saya menuju? Pastilah ke Pantai Pink. Siapa yang tidak terpikat dengan pemberitaan media sosial sebegitu gemparnya memamerkan pantai yang begitu berbeda dengan pantai lainnya. Dan memang begitulah adanya, pantai ini luar biasa indahnya. Saat itu akses menuju kesana terbilang sulit, sehingga bayarannya memang pantas dengan keindahan yang saya dapatkan.

IMG_3051

Setelah Pantai Pink, ada Pantai Senggigi masih di Pulau Lombok. Tidak jauh dari pusat kota Mataram. Panorama senja di sini tidak mungkin bisa dilupakan. Sungguh pengalaman batin yang mengesankan. Pantai ini tidak sepenuhnya pantai yang ditutupi pasir putih, melainkan sebagian ditutupi bebatuan yang tersusun rapi oleh kehendak Sang Pencipta.

Gili Trawangan

Kemudian menjadi rangkaian perjalanan saya di akhir tahun itu adalah mengunjungi Pulau Gili Trawangan. Di pulau ini, seakan-akan kita tidak sedang di Indonesia. Saking indah dan ramainya oleh wisatawan mancanegara. Pantai di pulau ini juga begitu indah dengan pasir putih di seluruh tepian pulau. Pulau Gili Trawangan adalah pulau terakhir dari rute panjang perjalanan saya di akhir tahun 2013. Dimulai dari Pulau Jawa, ke Pulau Bali, lalu ke Pulau Lombok, terus ke Pulau Sumbawa, dan kembali lagi ke Pulau Lombok dan menyeberang ke Pulau Gili Trawangan dan akhirnya kembali lagi ke Surabaya.

patok nol sebatik

Dan tahun 2016 ini, saya kembali menuntaskan satu ambisi pasir pantai terindah di Indonesia yakni di Pulau Derawan. Sebelum ke Pulau Derawan, bulan januari lalu saya juga sempat ke Pulau Sebatik, pulau kecil di Kalimantan Utara. Pulau kecil yang dimiliki oleh dua negara, yaitu separuh pulau pada bagian selatan adalah milik Indonesia dan separuh pulau di bagian utara dimiliki oleh Malaysia.

derwan

Lalu pada bulan maret lalu, bermodalkan kenekatan dan berhasil mengajak beberapa kawan untuk berbagi biaya perjalanan. Akhirnya saya sampai dengan selamat di Pulau Derawan, Kalimantan Timur. Ternyata di Pulau Derawan, saya tidak hanya mendapatkan keindahan pasir putih namun ada begitu banyak sensasi yang mungkin tidak akan terlupakan sepanjang hidup saya. Di Pulau Derawan-lah untuk pertama kalinya saya berenang bersama dengan penyu liar yang tidak dalam wilayah penangkaran. Lalu snorkeling untuk menyaksikan pemandangan bawah laut dengan karang dan ikan-ikan yang sangat mempesona.

drawanDan pengalaman yang tiada tandingannya adalah pengalaman berenang dan “bermain” bersama ikan hiu-paus di laut lepas. Hiu dengan panjang lebih dari empat meter begitu bersahabat meskipun di alam bebas. Berenang bersama hiu-paus itu mengajarkan saya untuk senantiasa mengendalikan rasa panik dan juga tentang bagaimana melawan rasa takut yang terpelihara di dalam diri saya.

DCIM100MEDIA

Penaklukan Pulau Derawan di tahun ini bukanlah akhir dari petualangan saya mengunjungi dan mengenali tempat-tempat terbaik di negeri ini. Raja Ampat di Papua, Pantai Ora di Maluku, Pantai Nihiwatu di Sumba dan tak kalah penasarannya saya dengan Pulau Weh di Sabang, Provinsi Aceh, pulau di titik terbarat Indonesia yang terkenal dengan Tugu Nol Kilometer.

Namun, sebelum ke Sabang tentu saya musti mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, masjid dengan menara setinggi 35 meter dan 7 kubah, yang arsitektur bangunannya menjadikan masjid ini menginspirasi banyak masjid di Indonesia hingga ke Semenanjung Malaysia.

divin sabang

Lalu mengapa Pulau Weh di Sabang masuk dalam ambisi penaklukan pulau saya, tidak lain karena Sabang sendiri adalah kata kunci untuk sektor pariwisata di Aceh. Terutama sektor wisata bahari. Lalu apa yang bisa dinikmati di Sabang? ada banyak sekali pesona bahari di Sabang, mulai dari kegiatan wisata yacht, dive, snorkeling, dan masih banyak lainnya. Sehingga layaklah disebut bahwa Sabang-lah jantung pariwisata bahari di Aceh. Selain itu ada Gua Sarang di kawasan Iboih yang baru-baru ini menggemparkan dunia, dan recomended untuk dikunjungi.image

Sedangkan di Pulau Weh, seorang petualang bahari belum afdhol dan sempurna rasanya jika belum pernah mengunjungi Tugu Nol Kilometer tersebut dan memiliki sertifikat Kilometer Nol Indonesia. Di Pulau Weh juga terdapat sebuah danau air tawar bernama Danau Aneuk Laot yang tepat untuk para penikmat wisata air.

image

Berkunjung ke Sabang adalah ambisi terkuat petualangan saya tahun ini. Ambisi menembus jantung pariwisata Aceh. Saya merasa ada magnet yang sedemikian kuat yang menarik saya untuk sampai kesana. Serupa ada misi hidup yang harus tunai tahun ini di Sabang. Bila berhasil menuntaskan ambisi petualangan pulau tahun ini, bukan berarti menjadikan saya berhenti menjelajahi Indonesia. Sebab semakin kita mengenali negeri ini, maka semakin cinta kita pada bumi pertiwi ini. Jangan berhenti bertualang, Indonesia masih sangat luas dan masih banyak tempat-tempat indah yang belum terekspose. Dan jangan lupa terus posting cerita perjalananmu agar semakin banyak orang yang menyadari bahwa negeri ini lebih layak dikelilingi terlebih dulu sebelum travel keliling dunia. Oleh karena itu, gunakanlah jaringan 4G LTE untuk mendukung kebutuhan internetmu, dan jadilah bagian dari generasi 4G yang diperkenalkan oleh Smartfren sebagai salah satu vendor terbaik di Indonesia. Salam blogger, salam traveler.

 

Catatan:
Foto-foto yang digunakan adalah koleksi pribadi, kecuali pada foto diving diambil dari situs http://www.bisnisaceh.com, foto Kilometer 0 Indonesia dari situs http://www.rakanwisata.com dan foto paling bawah diambil dari akun instagram @lumitrip_.

Magis Manggris

Posted in Blogger Kampus, flash fiction, patriot energi, Petualangan, Run Away with tags on April 1, 2016 by mr.f

image

Ada sebuah kampung hulu sungai pedalaman Kalimantan bernama Sumentobol, kampung di ujung negeri yang separuh hutannya telah ditanda oleh bendera negara tetangga. Sumentobol adalah kampung yang hutannya masih perawan. Di kampung ini ada satu jenis pohon yang begitu bersahaja dan terkenal di sepanjang generasi manusia di Sumentobol. Pohon itu adalah pohon manggris yang magis.

Manggris ini adalah manggris yang sangat perkasa dan telah hidup berumur mungkin lebih tua dari umur manusia tertua di kampung ini. Sebab orang tertua pun mengakui manggris magis telah raksasa ketika orang tertua tadi mulai mampu mengingat kejadian masa lalu. Besar curiga orang, manggris ini telah ada sebelum orang-orang berinisiatif bermukim di kampung Sumentobol.  Untuk umurnya orang kampung boleh bertaruh bahwa pohon manggris ini telah hidup lebih dari seratus tahun. Sumentobol saja baru disahkan keberadaannya setelah ada kata pembeda tanah air antara Indonesia dan Malaysia. Separuh hutannya yang kini bernegara Malaysia sangat diyakini orang Sumentobol adalah masih wilayah hutan adat nenek moyangnya yang bersuku Dayak, penghuni hutan tropis Borneo yang sejati.

Pohon manggris ini betul-betul besar, jika hanya lima orang yang memeluk pangkal pohonnya, maka dipastikan semua jemari orang yang memeluk itu belum saling bersentuhan. Manggris itu telah melewati banyak pergantian nama tahun. Satu abad bahkan telah dilampauinya. Di bawahnya malah dijadikan tempat peristrahatan terakhir manusia-manusia yang mangkat dari hidupnya. Berjejer rapi makam-makam manusia yang telah mendahuluinya mati. Manggris magis ini telah menyaksikan banyak sekali upacara kematian, sementara dia masih terlihat kuat untuk sekedar hanya menghadapi hari tumbangnya. Setidaknya, tidak ada tanda-tanda kalau manggris ini akan runtuh dalam beberapa waktu ke depan. Pernah di suatu tahun yang kemaraunya begitu panjang, Sumentobol di pedalaman Kalimantan pun merasakan lamanya hujan tak menyapa bumi. Air sungai begitu jernih dan dangkal. Pohon-pohon juga nampak kekeringan. Tak ayal, si manggris tua juga kebagian hawa kemarau. Lalu di tahun itu diingat orang kampung sebagai tahun yang benar-benar magis terhadap si manggris. Sebab dalam semalam, seluruh daun di pohon manggris itu luruh tak bersisa sedikit pun. Orang kampung meyakini sepenuh rongga jiwa, bahwa peristiwa itu adalah peristiwa diputarnya si manggris dari akar menjadi daun, dari daun menjadi akar, atau bahasa mudahnya, atas menjadi bawah, bawah menjadi atas. Pengakuan orang kampung, bagian atas manggris itu memang persis seperti akar pohon. Magis si manggris tidak dibuat-buat, ratusan mata menjadikannya fakta yang nyata. 

Manggris ini bukannya tidak diinginkan tumbang oleh orang kampung. Sebab bila dihitung secara matematis, pohon manggris ini sudah tentu akan menghasilkan beberapa kubik kayu yang menjanjikan. Tapi kemungkinan menjanjikan itu, lebih dulu mental di benak orang kampung ketimbang semua resiko magis yang akan menimpah siapa saja orang yang mencoba-coba menumbangkan si pohon manggris. Bila ditengok, tepat dari sekitar pangkal pohon, maka manggris ini nampak seperti sesuatu, katakanlah tali besar yang menghubungkan dunia tanah dan dunia langit. Maka, manggris ini betul-betul tinggi.

Untuk sekadar melukai pohon manggris ini saja, tak ada orang kampung yang hendak melakukannya. Pernah suatu waktu yang telah lampau, bertahun-tahun yang lalu, seorang warga kampung yang entah didesak oleh pikiran apa, mencoba menebas pangkal pohon manggris itu dengan sebilah parang, maka apa yang terjadi, pangkal pohon manggris itu malah memuncratkan cairan berwarna merah. Selanjutnya, orang kampung yang menyaksikan kejadian magis itu meyakini bahwa itu adalah darah dari penunggu pohon manggris yang uzur itu. Sebagai sebuah peringatan untuk tidak berbuat macam-macam terhadap si manggris. Setelah kejadian magis terakhir yang disaksikan mata itu, tak ada lagi pikiran untuk menumbangkan pohon magis itu.

Orang kampung hulu pedalaman Kalimantan seperti kampung Sumentobol ini sebenarnya sudah terbiasa hidup dengan pohon-pohonan. Tidak lupa diyakini bahwa setiap pohon yang mampu tumbuh lama dan perkasa maka selalu ada istilah “penunggu” di situ. Keyakinan ini adalah sebuah keniscayaan orang hulu yang bersuku Dayak ini.

Siapa nyana di suatu hari yang cerah, sekelompok orang asing datang ke kampung untuk mengerjakan sebuah proyek dari kecamatan. Pembangunan Posyandu Sumentobol, tapi para tukangnya dari luar kampung. Ada lima orang, lebih detilnya tiga orang bersuku Jawa. Satu yang nampak paling berumur di antara semua, sudah tujuh belas tahun di rantau, di utara Kalimantan ini. Sedang dua orang bersuku Jawa lainnya baru tiga tahun menetap di tanah Borneo terlihat masih muda dan belum banyak menelan asam garam kehidupan. Bisa diduga, kedua anak muda ini mungkin baru tamat SMP telah memilih merantau mencari jalan takdir yang lebih mujur, dan diambillah jalan menuju Kalimantan lalu akhirnya kini tersemat di tengah hutan Borneo yang pekat dan penuh aura magis. Dua orang tersisa adalah berasal dari hilir, suku aslinya Bugis, tapi dua orang ini sama-sama lahir dan besar di tanah orang bersuku Dayak. Penjelasan tentang muasal suku ini penting untuk ceritera selanjutnya. Sebab seringkali di utara Borneo ini, masalah bermula dari muasal suku dan berkonflik pada temali masalah lainnya. Sejarah tanah yang banyak dimukim orang rantau rentan tersusupi isu primordialisme yang buta membaca perbedaan.

Di antara lima orang ini, seperti biasa tentu ada yang bertindak sebagai kepala tukang, dialah Suroto bersuku Jawa yang air mukanya paling matang di antara semua. Tetapi umur tidak selalu sejalan dengan dewasa berfikirnya seseorang. Argumen di atas sekaligus menceritakan nasib Suroto yang mungkin tidak dewasa mengecap masalah dalam hidup.

Tak sampai sebulan, pekerjaan Posyandu di kampung Sumentobol itu dirampungkan. Suroto sebagai kepala tukang tidak terlalu perfeksionis dalam urusan pekerjaan proyek begini. Dia sudah hafal aksara dan angka-angka dalam sebuah pekerjaan pemerintah serupa ini. Dalam kosa-kata yang paling kasar, semakin tidak terjangkau lokasi sebuah proyek, maka asal jadilah pekerjaan itu. Termasuklah Sumentobol ini, sebab kampung hulu sungai pedalaman ini beruntung saja mendapat jatah pendirian bangunan seperti Posyandu. Siapapun, dengan logika berpikir kapitalisme yang untung rugi, maka rasa-rasanya sungguh sangat rumit menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik di kampung yang berdiam di tengah hutan begini. Yang menjadi rawan adalah bila ada proyek di tempat rumit, maka disitu bisa saja menjadi ladang memetik untung bagi orang yang berkepala korup. Biaya operasional di mark up dan kualitas pekerjaan yang diabaikan. Inilah kenyataan pahit bagi tanah berdaulat di daerah perbatasan sekelas Sumentobol.

Suroto sedikit banyak mempraktekan pengalamannya di bidang proyek bangun-membangun ini. Kali ini dia menjadi kepala tukang yang memberi intruksi layaknya tubuh manusia yang bagian kepala terdapat otak, sumber segala perintah pada anggota tubuh lainnya. Pekerjaan di tengah hutan begini tidak perlu sempurna, asalkan selesai. Begitulah kurang lebih bahasa yang mencuat-mencuat di balik semantik ucapannya pada anggota lainnya.

Posyandu Sumentobol betul-betul telah layak huni. Sisanya adalah peresmian yang mungkin sudah cukup oleh kepala desa atau paling banter oleh satu orang dari kecamatan yang bisa saja hanya seorang staf. Camat terlalu bergengsi untuk memasuki hutan belantara seperti di kampung Sumentobol ini.
Suroto telah berkemas untuk pulang ke kecamatan, tersebab urusan proyek sudah kelar. Dan barulah diamatinya baik-baik sebuah pohon yang tidak disadari dengan sepenuh penghayatan, bahwa pada jam-jam menjelang siang, di lokasi pembangunan Posyandu, dia dipele oleh sebuah pohon raksasa, pohon manggris yang magis. Pohon itu di dekatinya, sampai kulitnya menyentuh kulit pohon manggris yang putih pucat itu. Seperti orang yang sedang mengukur sesuatu, dia menjajal kemampuan mistisnya ke pohon itu. Begitulah dia sampaikan ke orang-orang yang menanyakan sedang apa dia di bawah pohon yang magis itu. Suroto berkesimpulan ilmu kanuragannya masih lebih hebat dari kekuatan ghaib yang ada di pohon manggris itu. Dia membesar-besarkan sebuah cerita masa lalunya di Jawa yang pernah bertarung secara tidak kasatmata dengan sebuah penunggu bangunan tua. Suroto tegas mengatakan kekuatan gaib dari Jawa yang dipunyainya jauh lebih tinggi dibanding kekuatan si penunggu yang diyakini Suroto adalah kekuatan dari penunggu yang mewakili suku Dayak.
Setelah Suroto sampai pada kesimpulan itu. Dia sempatkan bertanya ke beberapa orang yang lebih tua di Sumentobol. Dan hasilnya menekan Suroto untuk jangan sekali-sekali mencoba mengganggu pohon manggris itu. Kata orang tua yang ditemuinya penunggu pohon manggris memiliki kekuatan yang dahsyat, tentu saja itu magis. Tapi Suroto bersikeras ingin menaklukkan pohon berusia ratusan tahun yang menjulang ke langit itu dengan kekuatan Jawa-nya. Sebenarnya, seorang tukangnya yang berdarah Bugis itu sempat menimpali dan mengingatkan untuk tidak perlu melakukan hal-hal pantang begitu. Sebab kejadian terakhir yang memuncratkan darah itu sudah menjadi bukti yang menggoyahkan keinginan. Tukangnya yang berdarah Bugis menambahkan untuk jangan mencoba-coba menguji kekuatan mahluk gaib di tanah Dayak. Apalagi di tengah hutan begini, semua kejadian sangat bertalian dengan hal-hal magis. Untung saja mereka tidak diganggu selama mereka kurang lebih sebulan lamanya di kampung Sumentobol ini, menurut argument salah satu tukangnya.

Tetapi Suroto bukannya mundur mendengar ceritera magis begitu, justru semakin merasa kuat. Terakhir, karena ngotot, salah satu orang tua yang bernama Kalabinti juga ternyata adalah ketua adat di Sumentobol, mengizinkan Suroto untuk menebang pohon manggris yang selama ini belum ada yang berniat seperti Suroto. Sebelum ditebang tentu ada kesepakatan antara Suroto dengan orang kampung, semuanya seputar hitung-hitungan matematis yang mungkin juga materialis, sebab pembicaraan mereka tidak dibesarkan, hanya seperti orang yang hendak bersekongkol mengelabui musuh bersama.

Dengan mesin gergaji kayu atau lazim disebut chainshaw yang dibawa Suroto, esoknya di pagi yang matahari baru merangkak ke langit. Suroto telah ditonton orang sekampung yang penasaran menyaksikan hari bersejarah tumbangnya pohon manggris yang magis itu. Banyak orang bergidik ketika Suroto mulai menyalakan mesin chainzoo-nya. Tapi nampak sebelumnya, Suroto seperti sedang berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan isyarat tangannya yang ditengadahkan ke langit yang tetiba menjadi gelap bertudung mendung. Hari itu, mungkin kekuatan doa sedang berperang di langit. Sehingga gelaplah seketika penglihatan. Padahal hari masih pagi belum terlalu siang dan matahari sedari tadi biasa-biasa saja. Namun beginilah kejadian langit saat percobaan penaklukan manggris itu terjadi.
Suroto memulai menyeret dan hendak menenggelamkan rantai chainshaw lebih dalam ke pangkal pohon. Namun belum cukup 20 centimeter terbenam. Rantai chainshaw sudah putus. Saat itu tidak ada cairan serupa darah yang muncrat karena kulit pohon manggris tersentuh benda tajam. Tetapi kekuatanya berhasil memutus rantai chainshaw. Rantai chainshaw Suroto tetap terputus meski sudah diganti tiga kali, dan hasilnya belum sama sekali bisa memberi tanda kalau pohon manggris ini akan tumbang oleh cubitan kecil di pangkalnya itu.
Bila matahari tidak tertutup awan mendung, maka saat itu, matahari sudah di tengah ubun-ubun. Suroto memilih beristirahat. Orang kampung kecewa, sebab tidak berhasil menyaksikan pertunjukkan yang mungkin tidak pernah terlupa hingga akhir hayat. Kalabinti menghampiri Suroto yang terlihat sangat ambisi sekaligus optimis akan memenangkan pertarungan praktis-mistis ini. Kalabinti menyarankan Suroto untuk berhenti. Kalabinti menegaskan ancaman nyawa di balik apa yang dilakukannya hari ini. Suroto bergeming tidak acuh pada nasehat ketua adat kampung. Disinilah nampak betul belum dewasanya manusia yang meski sudah berusia lebih setengah abad. Seolah tidak pernah mendengar peribahasa tua, bahwa dimana bumi dipijak maka disitu langit dijunjung. Suroto hirau dengan ancaman magis yang disebutkan Kalabinti. Di sore hari, dia meminjam rantai chainshaw milik orang kampung dan dibenamkannya kembali chainshaw-nya ke manggris itu. Dan lagi usahanya terhenti hanya sesaat setelah dia memulainya. Akhirnya, Suroto memilih jedah hingga esok, sebab dinilainya, hari ini dia hanya tidak beruntung. Langit hanya mendung tidak jelas berpihak ke siapa. Sekilas langit mendung begini akan menguntungkan Suroto yang bekerja di bawah pohon yang rantingnya puluhan meter dari muka tanah. Pasti bila matahari betul-betul terik, maka terpaparlah Suroto yang bekerja di situ.

Esoknya, di pagi yang mungkin seperti kemarin. Suroto belum nampak bersiap melanjutkan usahanya. Yang ada adalah Suroto diserang sakit perut sejak semalam ketika malam berganti tanggal. Dan pagi itu belum sembuh juga penyakitnya dari semalam. Suroto melilit kesakitan, beraknya juga tidak kesulitan, hanya perutnya saja yang memang sangat perih.

Sampai hari berganti malam, Suroto belum juga pulih dari sakitnya, para tukangnya kini hanya terduduk menonton kepala tukang yang sedang melilit sembari terus mengusap perutnya. Seharian ini semua apa yang dimakan Suroto telah dikeluarkan kembali, bahkan mungkin isi perutnya yang berfungsi menetralisir asam lambung juga ikut keluar di beraknya.
Hingga dua hari, Suroto belum ada tanda sembuh. Orang kampung yang dikenal sebagai dukun, yaitu orang yang mampu menyelesaikan urusan medis secara mistis didatangkan untuk menyelesaikan perkara perut Suroto yang sudah dua hari tak juga usai. Sang dukun menggeleng ketika meraba perut Suroto yang mulai dehidrasi terkulai tak berdaya. Jika dituliskan dalam kata, maka sang dukun akan menulis kalau apa yang diderita Suroto saat itu adalah perkara medis yang betul-betul mistis. Penyembuhannya juga pasti mistis dan butuh ilmu yang bukan sembarang ilmu.

Sang dukun dengan segala kesadaran nuraninya memilih angkat tangan setelah diagnosa terakhirnya tentang kekuatannya yang belum sampai untuk level penyakit mistis semacam yang dialami Suroto. Suroto semakin lemah, makanan yang masuk ke perut juga semakin sedikit, sebab makin sulit juga dia melakukan apa yang sehari-hari dilakukan manusia, yaitu makan.
Hari ketiga, tidak ada jalan lain, Suroto harus dibawa ke rumah sakit terdekat mengingat tak ada dukun sakti yang mampu mengatasi penyakit di perut Suroto. Tapi, jelas sudah kalau di tengah hutan begini tidak ada rumah sakit yang dekat. Yang terdekat adalah paling cepat sampai sekitar 6 jam. Bila semua berjalan mulus. Satu-satunya akses untuk keluar-masuk kampung hulu ini adalah dengan menggunakan perahu tempel dan paling cepat lima jam untuk sampai di rumah sakit.
Malam keempat itu, perut Suroto nampak ada perbedaan dari semula. Perutnya perlahan membesar dan ada warna biru seperti yang nampak pada luka memar. Perut Suroto semakin hari semakin membengkak bukan lagi membesar, semakin mirip perut perempuan yang sedang mengandung. Suroto masih bisa berbicara, tapi suaranya seperti orang berbisik. Dia sangat tersiksa dengan apa yang sedang dideritanya. Suroto pasrah, pikirannya kembali ke beberapa hari terakhir yang dialaminya sebelum dia diserang penyakit aneh ini. Sama sekali dia tidak menghubungkan sakitnya dengan hal magis dari manggris yang ingin sekali dia tumbangkan. Suroto kuat menduga sangka, sakitnya adalah keracunan minuman air tapai yang disajikan di tempayan. Minuman dari air tapai dalam tempayan adalah minuman lokal sekaligus menjadi warisan budaya masyarakat Dayak hulu sungai batas negeri. Minuman ini mengandung alkohol dengan kadar tertentu tetapi sangat bisa membuat teler orang yang meminumnya di atas takaran. Meskipun sebenarnya minuman ini memang ditujukan untuk bisa memabukkan, semakin memabukkan maka semakin itu yang diinginkan. Namun memang kadangkala dalam beberapa kasus, ada kesalahan pemilihan ubi sebagai bahan dasar minuman ini. Ada jenis ubi yang dianggap mengandung zat tertentu yang membuat orang keracunan.
Dalam wasangka Suroto itu, dia ingin tegas mengatakan bahwa dia sakit begitu bukan karena kalah dari kekuatan penunggu manggris yang ingin sekali dia tebang. Dokter yang menangani Suroto juga dibuat bingung, sebab nampak jelas perut Suroto biru membengkak tapi hasil rontgen tidak memperlihatkan bukti apa-apa bahwa ada “sesuatu” di dalam perut Suroto. Orang kampung yang prihatin dan punya kesempatan yang disempat-sempatkan untuk menjenguk Suroto atas nama kemanusiaan, mendengar pengakuan dokter itu lalu menarik benar merah seolah ada satu kata yang bisa mewakili apa yang dialami Suroto kini adalah kata “magis”, magis dari si pohon manggris. Beberapa hari setelah kebingungan dokter tentang penyakit Suroto yang juga berarti kebingungan menyembuhkannya, Suroto berpulang ke rahmatullah masih di dalam rumah sakit.

Dulu peristiwa terbaliknya pohon itu, lalu muncratnya cairan serupa darah, dan kini Suroto meninggal dalam kondisi perut yang membengkak, menjadi korban magis dari pohon manggris. Sedangkan si manggris masih terlihat sangat kuat menunggu kiamat. Bertahun-tahun setelah “korban”-nya meninggal, manggris masih “sehat” meski tak ada yang merawat.

Memasuki era baru dunia yang makin modern, manusia juga semakin meningkat kebutuhannya. Anggaplah dengan generalisasi yang sedikit keliru bahwa manusia semakin membutuhkan uang untuk hidup. Digaraplah apa yang bisa menjadi uang. Maka pepohonan di hutan Borneo masih sangat luas untuk menjadi uang. Gamblangnya, hutan Borneo tidak hanya kaya ragam biodiversitas hayatinya, tetapi di bawah tanah hutan Borneo terkandung mineral yang selama ini digunakan untuk menyalakan dunia. Batubara di sana sini. Cuma sayangnya, batubara itu diangkut ke luar pulau Kalimantan, dan muncul ironi bahwa tanah itu mampu memandikan cahaya pulau lain sementara banyak kampung di pulau ini masih berselimut gulita yang mencekam. Seperti di Sumentobol dan masih banyak sekali kampung lainnya yang belum tahu apa itu cahaya.
Potensi hutan Borneo melimpah ruah, bahwa hanya orang malaslah yang akan mengeluh atas hidupnya. Dan menebang pohon bukanlah satu-satunya cara untuk mempertahankan atau memajukan kehidupan. Di wilayah Kalimantan bagian utara, manusia tak pernah tepat untuk mendefinisikan dirinya sebagai warga miskin. Hutan menyediakan kekayaan yang luar biasa dan tidak akan habis kalau hanya digunakan seperlunya untuk hidup yang sederhana. Tentunya harus terlebih dahulu memahami, bahwa di pedalaman Kalimantan, kemiskinan yang mungkin ada hanyalah kemiskinan harta, tetapi kemiskinan makanan adalah sebuah kemustahilan.
Maka cukuplah pohon manggris yang diyakini magis itu menjadi penanda bahwa alam juga punya kekuatan yang tidak boleh diremehkan manusia. Kebutuhan hidup manusia memang sangat wajar mengalami peningkatan, tetapi tidak berarti bahwa apa saja menjadi boleh untuk ditaklukkan. Kadangkala kebodohan dan ambisi berada dalam satu bilik pikiran yang sama dan sulit dibedakan. Manusia musti berpikir panjang untuk kelangsungan hidup generasi berikutnya. Manusia bisa saja merasa kuat tetapi tidak bisa berbuat apa saja terhadap apa yang ada di hadapannya. Di sekeliling manusia banyak dimensi kehidupan, ada yang nampak mata ada pula yang tak kasat oleh mata. Tugas manusia hidup berdampingan secara harmonis dengan segala dimensi itu.