Ke-belummampu-an

image

Tak lama setelah saya menonton film pendek Cinta Subuh 3, saya melanjutkan menonton Istri Paruh Waktu 2, lalu menonton trailer film Tausiyah Cinta. Ketiga tontonan itu berhasil menggerakkan batin saya untuk mengukur diri, sejauh mana ikhtiar untuk takwa yang selama ini saya jalani. Rasanya kecil sekali. Belum dekat betul dengan Tuhan.

Tetapi ada hal lain yang muncul seiring kesadaran untuk berbenah itu. Masa lalu yang sudah lama itu terngiang, ada bayang wajah yang dulu begitu ingin saya lihat hingga saya menutup mata. Keberanian yang tidak ada pada saat itu, bersisa ketidakpuasan pada diri saya sendiri. Alangkah terlambatnya saya menyadari semua kegagalan itu untuk berbenah. Hidup yang melaju meninggalkan remah-remah penyesalan.

Ah, saya benci memakai kata seandainya untuk membenarkan keragu-raguan saya di waktu yang lampau. Yang dulu ada seorang perempuan kusenangi cara berjilbabnya. Yang karena tayangan di film pendek itu hampir mirip menampilkan wajahnya. Yang kesopanannya dipraktekan oleh perempuan-perempuan muslimah ayu jelita di film itu. Yang mungkin dialah  perempuan pertama yang menggetarkan saya. Yang dia jugalah yang pertama mengangankan saya tentang kehidupan indah dalam sebuah ikatan. Yang dialah awal saya paham kita boleh menginginkan sesuatu yang menurut kita baik tapi kita tidak mendapatkan. Sehingga, disitulah saya mengingkari frase “kutunggu jandamu!”.

Saat itu, tidak ada upaya lain yang bisa saya ikhtiarkan selain menunggu. Menunggu waktu yang tepat, yang ternyata itu tak datang pada saya. Malah, dialah yang menemukan seseorang yang datang tepat pada waktunya. Pada waktu hatinya terbuka, dan orang lain itu mengetuknya. Bukan saya.

Banyaknya keterlambatan dalam hidup saya menjadi titik-titik kesadaran yang saya temukan seusai mengukur diri. Termasuklah pada soal-soal memenangkan hati perempuan. Itu sungguh kesalahan yang sampai sekarang belum selesai saya lakukan.

Menurut saya, cerita ini adalah cerita paling polos yang pernah saya tuliskan di blog ini. Cerita yang konyol karena tidak mutu dan hanya berupa usaha mengais masa lalu yang sudah bukan milik saya lagi. Siapa saja yang membaca tulisan ini dan mengenal saya di keseharian, anggap saja saya sedang mendapat ilham untuk mengakui keteledoran. Dan ke-belummampu-an.

Sumber gambar; instagram @filmmakermuslim

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s