Archive for March, 2016

Cahaya di Ruang Baca

Posted in Blogger Kampus on March 28, 2016 by mr.f

image

Ini salah satu cerita yang kami bawa dari desa penempatan sebagai patriot energi. Cerita, berita dan derita orang-orang desa yang hidup tanpa listrik. Tepatnya bukan tanpa listrik, tetapi daerah atau desa yang tidak terlistriki oleh PLN. Sebab di desa tempat tugas saya ada beberapa keluarga yang punya mesin generator sendiri. Rata-rata patriot energi memang dikirim ke daerah yang belum terlistriki oleh PLN.

Akhir tahun 2015 harapan tumbuh di benak masyarakat Kelompok Desa Sumentobol yang kami dampingi. Disebut kelompok desa karena memang di bagian utara Kalimantan itu desa-desa hingga kini masih dibuatkan pemukiman secara berkelompok. Walaupun desa-desa itu pada kenyataannya sungguh jauh dari amanat undang-undang desa tahun 2014.

Kelompok desa Sumentobol begitu gelap di malam hari. Dari hampir 90 bangunan rumah, dapat dihitung dengan jari jumlah rumah yang memiliki penerangan. Selebihnya malam adalah kegelapan. Dan sudah tak ada lagi yang musti dilakukan di kegelapan itu selain tidur secepatnya. Maka bisa ditebak, anak sekolah di kelompok desa ini tak seorang pun yang mengenal PR yang biasanya dikerjakan di sore atau di malam hari. Kata PR adalah kesia-siaan yang dilontarkan oleh guru. Guru realistis ketika ingin membebani tugas yang dikerjakan di rumah alias PR untuk para siswanya yang kebanyakan belum bisa baca tulis hitung dengan baik, walaupun sudah di bangku kelas yang lebih tinggi. Para peserta didik tidak akan ada yang belajar malam. Karena tidak ada penerangan. Setiap rumah paling hebat hanya memiliki dua lampu senter yang dicharger dengan tenaga surya Solar Home System yang kini semua baterai dari SHS itu tidak ada yang berfungsi. Dengan hanya dua lampu charger itu, orang tua akan berbagi cahaya dengan penghuni rumah lain. Sehingga tak kebagianlah cahaya untuk belajar bagi anak-anak mereka, ditambah minat belajar rendah sedangkan godaan menonton sinetron di tivi tetangga begitu besar.

Namun kami sangat bersyukur di akhir-akhir keberadaan kami di desa. Kegelisahan dan harapan masyarakat tentang penerangan akhirnya terjawab. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dengan kapasitas 30 KWp menjadi jawaban yang ditunggu-tunggu selama ini. Dengan adanya listrik, anak-anak tidak perlu lagi berbagi cahaya dengan anggota keluarga lain. Karena tiap rumah diterangi oleh tiga lampu led.

Akan tetapi masih ada masalah lain, rendahnya minat belajar dalam hal budaya literasi dan budaya kreatif para anak-anak menuntut dilakukannya sebuah pola dan pendekatan lain yang tidak serupa dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Dalam banyak obrolan dengan orang tua anak-anak di desa. Sekolah hanya digunakan untuk mengenalkan siswa dengan huruf dan angka-angka sehingga ketika tamat SD nanti anak-anak mereka tidak lagi butuh aksara. Dengan kemampuan membaca dan  menghitung alakadarnya anak-anak mereka sudah dibolehkan hidup. Kata kebanyakan orang tua, “yang penting mereka tidak gampang dibodoh-bodohi oleh suaminya”.

Maka kami dari patriot energi berinisiatif menempuh ikhtiar membangunkan ruang baca yang menyenangkan bagi anak-anak di desa Sumentobol. Waktu yang tersedia tidak cukup lima bulan sejak kami mulai mengidentifikasi masalah ini. Perihal paling penting adalah menemukan kader loyal pengelola ruang baca setelah kami meninggalkan desa. Dan akhirnya ada tiga orang yang bersedia menjadi perawat ruang baca dan pengajar anak-anak. Sehingga kesedian kader itulah yang meneguhkan kami untuk terus berupaya menyelesaikan ruang baca yang menyenangkan.

Hingga akhirnya sebelum kami pulang meninggalkan desa, ruang baca itu telah betul-betul mewujud sebuah ruang baca yang kondusif. Meskipun bahan bacaan dan bermain edukatif masih sangat minim. Kami memberikan nama Ruang Baca Suara Sungai, sebagai sebuah apresiasi atas suasana sehari-hari di desa ini. Suara sungai adalah sebuah nyanyian kehidupan yang tidak pernah berhenti mengalun di ruang dengar masyarakat kampung hulu ini. Sehingga dengan nama itu semoga eksistensi ruang baca itu tetap bertahan sebagaimana sungai yang terus mengalir.

Ada banyak pihak yang perlu kami haturkan terima kasih yang mendalam terhadapnya. Tentu pertama dari pihak panitia atau fasilitator program Patriot Energi Kementerian ESDM yang selalu peduli terhadap apa yang dihadapi oleh para patriot di daerah penempatan masing-masing. Juga telah mengirimkan paket buku yang semoga akan menjadi bagian dari keseharian anak-anak di desa.

Selanjutnya terima kasih yang tulus kepada adik-adik saya di lembaga riset tingkat mahasiswa “Penalaran” kampus Universitas Negeri Makassar, yang sudah berjuang keras menjadi relawan kami mengumpulkan donasi, buku, dan alat peraga edukatif yang selanjutnya mengirimnya hingga ke batas nusantara ini. Membuat vidio untuk memantik api semangat belajar anak-anak pedalaman Kalimantan.

Dan juga terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam ikhtiar membangun generasi cerdas dan kreatif ini. Ada website kitabisa.com yang membantu mengampanyekan niatan membangun ruang baca ini. Ada juga teman-teman yang sedang berkuliah di luar negeri yang menyempatkan diri menjadi kontributor vidio penyemangat belajar untuk anak-anak di desa, vidio itu beberapa telah saya unggah di channel youtube Maruf Nur.

Akhirnya mari bersinergi berbuat hal positif di lingkungan terdekat. Kita belum terlambat untuk saling menopang dan bahu membahu melakukan perubahan.

Ke-belummampu-an

Posted in Blogger Kampus, flash fiction, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Sajak on March 5, 2016 by mr.f

image

Tak lama setelah saya menonton film pendek Cinta Subuh 3, saya melanjutkan menonton Istri Paruh Waktu 2, lalu menonton trailer film Tausiyah Cinta. Ketiga tontonan itu berhasil menggerakkan batin saya untuk mengukur diri, sejauh mana ikhtiar untuk takwa yang selama ini saya jalani. Rasanya kecil sekali. Belum dekat betul dengan Tuhan.

Tetapi ada hal lain yang muncul seiring kesadaran untuk berbenah itu. Masa lalu yang sudah lama itu terngiang, ada bayang wajah yang dulu begitu ingin saya lihat hingga saya menutup mata. Keberanian yang tidak ada pada saat itu, bersisa ketidakpuasan pada diri saya sendiri. Alangkah terlambatnya saya menyadari semua kegagalan itu untuk berbenah. Hidup yang melaju meninggalkan remah-remah penyesalan.

Ah, saya benci memakai kata seandainya untuk membenarkan keragu-raguan saya di waktu yang lampau. Yang dulu ada seorang perempuan kusenangi cara berjilbabnya. Yang karena tayangan di film pendek itu hampir mirip menampilkan wajahnya. Yang kesopanannya dipraktekan oleh perempuan-perempuan muslimah ayu jelita di film itu. Yang mungkin dialah  perempuan pertama yang menggetarkan saya. Yang dia jugalah yang pertama mengangankan saya tentang kehidupan indah dalam sebuah ikatan. Yang dialah awal saya paham kita boleh menginginkan sesuatu yang menurut kita baik tapi kita tidak mendapatkan. Sehingga, disitulah saya mengingkari frase “kutunggu jandamu!”.

Saat itu, tidak ada upaya lain yang bisa saya ikhtiarkan selain menunggu. Menunggu waktu yang tepat, yang ternyata itu tak datang pada saya. Malah, dialah yang menemukan seseorang yang datang tepat pada waktunya. Pada waktu hatinya terbuka, dan orang lain itu mengetuknya. Bukan saya.

Banyaknya keterlambatan dalam hidup saya menjadi titik-titik kesadaran yang saya temukan seusai mengukur diri. Termasuklah pada soal-soal memenangkan hati perempuan. Itu sungguh kesalahan yang sampai sekarang belum selesai saya lakukan.

Menurut saya, cerita ini adalah cerita paling polos yang pernah saya tuliskan di blog ini. Cerita yang konyol karena tidak mutu dan hanya berupa usaha mengais masa lalu yang sudah bukan milik saya lagi. Siapa saja yang membaca tulisan ini dan mengenal saya di keseharian, anggap saja saya sedang mendapat ilham untuk mengakui keteledoran. Dan ke-belummampu-an.

Sumber gambar; instagram @filmmakermuslim