Namanya Aliya

image

Hei, kenalkan namanya Aliya. Sekarang kelas 5 SD. Di antara semua anak yang saya kenal di kampung Sumentobol, Aliya inilah anak yang paling antusias untuk belajar. Anak yang pertama kali menghabiskan novel Zadig-nya Voltaire. Sebelumnya tidak ada anak yang mampu membaca novel. Semuanya hanya tertarik pada gambar. Selain itu memang kemampuan membaca anak-anak yang lain tidak selancar dengan Aliya.

Aliya berbeda. Dia bersungguh-sungguh kalau melakukan sesuatu. Saat belajar memainkan gitar, dia tidak kehilangan fokus. Saat membaca dia tidak surut minatnya hingga buku itu selesai dibacanya. Saat jadi penanya dan pendengar cerita tentang saya, dia memperlihatkan betapa tertariknya ia dengan cerita.

Aliya juga adalah anak yang paling sopan dalam berbicara dengan orang lain di kampung ini. Yang lebih tua dipanggilnya Kakak, yang sudah berkeluarga dipanggil Om jika laki-laki, sedang ditambahkan kata Tante kalau dia perempuan. Sedangkan anak-anak yang lain di kampung ini, bagi orang yang terbiasa dengan sapaan kata ganti yang lebih sopan, disini tidak ada kata ganti di depan nama orang yang disebutnya. Mau dia lebih tua, sudah berkeluarga, bahkan sudah beranak-cucu, anak seumur jagung pun hanya memanggil dengan kata “kau”, atau namanya langsung, bila orangnya tidak ada maka ditambah kata “si ini, si itu”.

Makanya Aliya ini anak yang berbeda dari keseluruhan anak-anak di kampung ini. Menjadi anomali di tengah tradisi. Melawan arus. Entah atas didikan siapa. Tapi pengaruh paling besar, bisa ditebak adalah dari guru dan lingkungan sekolah. Sebab Aliya memang tidak bersekolah di desa, dia bersekolah di kecamatan. Orang tuanya adalah korban keterbelakangan zaman dan tatakrama di sekolah kampung. Bapaknya dulu berhenti sekolah di tingkat SMP, karena tidak mampu mengimbangi pengetahuan anak anak yang lain. SMP adalah tingkatan sekolah yang tidak ada di desa hulu sungai dan hanya ada di kecamatan.

Karena itulah kakek dan bapaknya bersikeras untuk membangun rumah sendiri di kecamatan. Rumah untuk anak dan cucunya yang ingin bersekolah. Sekolah di kampung tidak mengajarkan apa apa selain bisa membaca dan menulis seadanya. Kecakapan berbahasa Indonesia tidak terpenuhi di sekolah kampung, kesopanan dan tatakrama tidak mampu tumbuh dan ditularkan dari lingkungan sekolah. Sikap-sikap positif yang diusahakan oleh guru di sekolah kampung, mental di ruang pendengaran. Kebiasaan di rumah membentuk tradisi dan kepribadian yang hampir sama terhadap semua anak didik di sekolah kampung.

Oleh karena Aliya sejak kecil tumbuh bukan di lingkungan kampung dan hanya datang ke kampung ketika ada acara keluarga, maka dia terdidik untuk menjadi begitu berbeda dengan anak di kampung.

Saya mengenal Aliya, awal mula ketika saya menginap di rumah kakeknya di kecamatan. Ketika itu, kakeknya memberi saya “penginapan” karena rumah singgah warga Sumentobol di kecamatan sedang  penuh dan banyak orang yang mabuk. Sehingga kakeknya menerima saya untuk tidur di rumahnya. Dan disitulah Aliya memperkenalkan diri dengan cara bertanya-tanya kepada saya.

Selanjutnya beberapa kali datang ke kampung karena ada acara adat, dan selalu hadir mengakrabkan diri. Terakhir ini, dia datang bersama ibunya menghadiri Ritual Amakan, ritual adat apabila ada kerabat yang meninggal dunia. Kebetulan ritual itu diselenggarakan di Bangsal atau Balai Adat yang tepat di depan rumah yang saya tempati selama ini. Sehingga rumah saya pun menjadi titik temu sebelum masuk ke bangsal. Aliya lebih banyak di rumah yang saya tempati dibanding di Balai Adat, sebab di rumah saya itu juga ada anak perempuan dari Bapak Piara saya yang seumuran dengan Aliya.

Wajah Aliya selalu tampak tenang. Tidak menampilkan wajah yang begitu riang tidak juga memperlihatkan air muka anak yang muram dan ababil. Wajahnya jauh lebih dewasa dari umurnya. Dengan bahasa majas, boleh dibilang watak orang dewasa yang terperangkap di tubuh dan usia anak-anak.

Sampai disitu, saya berharap bisa melakukan perpisahan yang baik dengan Aliya nanti. Ingin sekali saya melihat Aliya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sebab sampai saat ini, belum ada seorang anak perempuan mampu meraih pendidikan di atas tingkat SMA di kampung Sumentobol. Bagaimanapun Aliya adalah masih anak kampung. Anak kampung hulu sungai perbatasan utara nusantara.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s