Archive for February, 2016

Sesuatu yang Jauh

Posted in Blogger Kampus, Komunitas Daeng Blogger, Sajak on February 17, 2016 by mr.f

image

Setiap kali aku melihat sesuatu yang jauh, aku merasakan mabuk yang bersumber dari pangkal hatiku yang hendak bercabang-cabang kemana saja. Ke tempat dan waktu tidak menentu karena aku sendiri lebih banyak meragukannya.

Sesuatu yang jauh itu menjelma menjadi banyak sekali. Sehingga begitu sulit aku mengenalinya. Aku tidak menemukan kompas yang mampu menghantarku keluar dari kesesatan perasaan ini. Hanya ormet yang menandakan keberadaan sebuah wujud yang jauh sulit terjangkau itu.

Ada sesuatu yang jauh yang hidup dalam ingatan panjangku. Tapi aku tidak memahaminya dengan utuh. Sepenggal-sepenggal ceritera membuat sesuatu yang jauh itu samar dalam keheningan yang berkedip kedip. Aku memahami sesuatu yang jauh itu ditemani banyak sesuatu yang lain. Itulah yang membuatnya rumit ditemukan.

Seribu cabang mengantarnya pada ketidakjelasan. Dengan begitu, sesuatu yang jauh tetap saja mampu menerbitkan rindu yang abu-abu. Sebuah pengharapan sekaligus ketidakpastian yang nyata.

Sesuatu yang jauh, bukan adalah yang mudah diartikan. Meski hanya sesuatu, wujudnya tidak sejelas sesuatu. Begitulah seringkali rasa diterjemahkan manusia. Ada walaupun tidak ada. Menjadi sesuatu yang walaupun tidak ditemukan sesuatu yang mewujud sesuatu.

Pada tahap pengakuan murni, sesuatu yang jauh yang aku yakini akhirnya musti hanya ada satu. Pada waktu yang digariskan Tuhan, sesuatu yang jauh akan menampakkan jati diri yang selalu kuamini. Sesuatu yang jauh tetapi senantiasa dekat sekali dengan ingatanku. Bahwa aku memang saat ini tidak menemukannya. Kabut perbedaan jadi penghalang tembusnya cahaya yang menjelaskan keragu-raguanku saat ini. Bahwa sesuatu yang jauh masih juga belum juga dapat kujangkau.

Gambar; koleksi pribadi

Balasan Surat Terduga

Posted in Blogger Kampus, flash fiction, Komunitas Daeng Blogger on February 14, 2016 by mr.f

image

Suratmu sudah saya duga seketika saya mendengar berita bahagia yang justeru memang membuatmu mungkin tidak bahagia. Saya tidak bisa langsung mengabaikan begitu saja kemungkinan tidak baik yang akan kau lakukan setelah kamu mendengar berita itu. Kita sudah tidak akrab sejak beberapa bulan terakhir, lagipula saya tidak terlalu banyak memikirkan soal hidup-hidup orang lain, orang-orang yang dulu dekat sebelum saya kehilangan banyak cerita karena tertutupnya segala aspek informasi.

Saya juga harus katakan, suratmu memang wajar kamu tulis dengan emosi yang betul-betul tertumpah di semua kata-kata itu. Pada intinya takdir masa depan yang dulu rumit kita perbincangkan akhirnya terjawab juga. Entah kesimpulan takdir ini baik atau buruk buatmu, saya tuangkan kembali pada kelapangan hatimu untuk menanggapinya. Tetapi nada suratmu memang tidak tegas, separuh ada cemburu separuhnya kamu bergeser lebih dewasa dan banyak bersyukur ikhlas.

Sudah lebih dua tahun tema ini pasang surut kita pertahankan di ruang-ruang percakapan yang semu. Percakapan dunia maya tanpa percakapan wajah. Surat terakhir yang kamu tuliskan di blog rahasiamu, sudah berlalu hampir setahun. Tapi perasaan sungguh sulit diatasi. Kamu pernah bercerita lewat percakapan BBM, bahwa patah hatimu telah pulih dan kamu belajar menerima kenyataan, meskipun seolah kamu menganggap dipermainkan oleh keadaan. Orang lain yang merasa di atas angin lalu pula merasa berhak menarik ulur perasaan orang lain. Perkataanmu itu sepenuhnya tidak saya setujui walaupun ada sebagian kenyataan yang mendukungnya.

Hingga rasa bahagia saya menjadi sempurna sebagai seorang sahabat dari orang yang kamu anggap mengacaukan perasaanmu. Tidak lama rasa bahagia itu, saya seperti otomatis menghubungkan kebahagiaan itu dengan kemungkinan ketidakbahagiaanmu. Sehingga saya merasa layak menuliskan pergolakan ini ke dalam sebuah postingan balasan surat yang kamu tuliskan tidak lama dari hari yang tidak jelas tendensi perasaannya itu.

Supaya postingan balasan surat ini berimbang dan bukan dianggap semacam spekulasi menunggu reaksi pihak tertentu, saya musti memohon maaf sebelumnya, karena dengan lancang menempelkan suratmu yang lebih tepatnya postingan di blogmu itu di postingan balasan ini. Saya paham kamu mati-matian menyembunyikan keadaan ini dan hanya memahamkannya kepada orang tertentu yang kau anggap rapat mengunci bicara. Tetapi saya juga bisa memastikan, hanya kita berdua yang tahu persis persoalan yang saya tuliskan ini. Tentang siapa kamu, saya yakin hanya saya seorang yang mengetahuinya. Orang lain yang mungkin sepintas membaca ini hanya akan melahirkan duga sangka pada sederet nama tertentu yang bisa masuk dalam semesta pembicaraan di postingan ini.

Inilah isi postingan suratmu yang utuh, saya hanya mengubah kapital tidaknya sebuah huruf dan berbagai dasar penulisan yang saya ketahui. Memanjangkan semua kata yang kamu pendek-pendekan dengan sengaja untuk mengefisiensikan durasi penulisan;

Selamat malam Mister yang bijaksana. Hari ini, seseorang yang menghubungkan kita sedang begitu berbahagia dalam hidupnya. Let me guess, Mister juga pasti menjadi orang yang berbahagia dengan kabar ini. Tetapi sebagian dari hatiku juga sudah sanggup merasa bahagia. Sebagian lagi dari hati itu masih sulit mempercayai kejadian ini. Izinkan saya bercurhat sedikit tentang tema kita selalu ini.

Manusia hanyalah mampu berencana, namun Tuhanlah yang menentukan. Kisah masa muda yang pernah terjungkir bahkan koprol dalam percintaan menjadi bumbu menuju pemikiran yang lebih dewasa dan hati yang lebih kuat. Menjalani hati yang koyak karena soal persepsi yang berbeda. Karena mata yang masih buta, karena hati yang masih belum anggun, dan jiwa yang masih sangat berapi. Pesan terakhirku saat itu kepada seorang lelaki yang sangat aku harapkan menjadi ujung dalam kisah percintaan masa muda masih selalu ku ingat, “cukup aku saja yang kau buat begini”. Aku bergetar bahagia saat aku tau waktunya telah tiba. Ia memilih wanita yang sangat ia puja menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
Jujur saja, ada perasaan tak karuan. Hati ku berkata, “kalau dia bahagia, kenapa kamu tidak?” Bukan seperti pesakitan yang di tinggal kawin oleh sang kekasih, Aku justru bahagia, Dia mendengarkan pesan  terakhirku untuknya. Sungguh aku ikhlas dan sangat bahagia. Ketika dua insan saling mencintai dan berhenti mencari mereka di pertemukan dalam bahagia. Rasanya benar-benar menyenangkan. Aku ikut bahagia dari hati yang terdalam.
The ending is the new beginning. Rasanya, itu adalah hal yang benar. Setelah setengah tahun aku belajar soal ikhlas dan menjauhkan benci, menyerahkan semua pada Tuhan, Tuhan justru berbisik lirih dan indah di hati ini.

Pagi itu aku datang terlambat ke kantor. Aku berdiri di loby menunggu lift. Ku lihat sesosok bayangan tinggi dari balik pintu lift yang mengkilap. Dia mempersilahkan seorang OB untuk jalan terlebih dahulu. Baik sekali pikirku. Pintu lift terbuka, aku masuk dia pun masuk. Saat aku berbalik, dan dia berbalik, mata kami beradu. Saling kaget. Hi Fi.. akhirnya kita ketemu juga.. Kebetulan adalah takdir yang disengaja. I hope the story beginning…

Aku belajar, ternyata, “ikhlas” akan di bayar mahal oleh Tuhan. Tuhan membayarnya dengan membuka mataku,  bahwa apa yang buatnya tidak baik untukku akan dia ganti dengan yang lebih baik, yang lebih kubutuhkan. Tuhan membukakan hatiku yang telah bertahun-tahun terkunci dan kuncinya hilang entah kemana. Manusia hanya mampu berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Semua ada di tanganNya. Dan aku bersyukur, Tuhan tidak pernah pergi dari hidupku. Tuhan selalu mengajarkan keikhlasan dalam hidupku. Alhamdulillah.. Saya Ikhlas..

Jumat, November 20, 2015

Aku, seseorang yang mencintai karya sastra. Perempuan yang gemar menulis isi hatinya daripada menangis. Perempuan yang mencintai kesederhanaan. Perempuan yang tetap menunggu cintanya.

Di komentar saya tentang keadaan berbaur rasa ini. Semoga semua keikhlasan dan kesyukuran selalu ada pada semua tindakan dan pilihan-pilihan. Kita musti meninggalkan definisi lama tentang waktu yang selalu sempit dan selalu salah menurut keinginan egois manusia. Mari berbahagia dengan semua keluasan dimensi dunia ini. Sebab, bahagia itu luas. Dan kunci hatimu segera disemestikan pada tempatnya.

Gambar; koleksi pribadi

Matinya Seorang Demonstran*

Posted in Blogger Kampus on February 14, 2016 by mr.f

image

PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado, dan penjual bensin eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi tidak mampu mengubah kenangannya.

Ratih tersenyum membaca nama jalan itu. Teringat apa yang dikatakan Eka. ”Banyak orang ingin jadi pahlawan, agar namanya dijadikan nama jalan. Mungkin, itulah satu-satunya keberuntungan menjadi pahlawan di negara ini.” Ada sinisme dalam kata-katanya. Tapi itulah, yang ketika pertama kali bertemu dalam satu diskusi, membuatnya suka pada Eka. Dia selalu menarik perhatian dengan pernyataan-pernyataan yang disertai kelakar. ”Militerisme pasti mati di Republik ini. Dan aku adalah orang sipil pertama yang akan menjadi Panglima ABRI. Tak hanya dapat Bintang Lima. Tapi Bintang Tujuh. Lumayan, bisa buat obat sakit kepala…” Saat itu Presiden Soeharto memang baru mendapat gelar Jenderal Besar Bintang Lima. Dan Bintang Tujuh adalah merek puyer obat sakit kepala.

Ratih kemudian tahu, Eka seorang penulis. Mungkin itu sebabnya dia cenderung penyendiri. ”Aku kurang flamboyan sebagai aktivis,” katanya tertawa. Dia tak suka tampil berorasi di mimbar. Mungkin sadar, suara cemprengnya tak akan membuat terpesona para demonstran. ”Dalam perjuangan, ada yang menggerakkan, ada yang memikirkan. Aku memilih yang kedua,” katanya. ”Mimbar dan panggung itu godaan. Banyak yang tampil di mimbar hanya ingin mendapatkan sebanyak mungkin tepuk tangan. Begitu turun panggung, mereka lupa dengan apa yang mereka katakan.”

Ratih ingat ketika Eka mengantar pulang setelah menonton pertunjukan teater di Auditorium Fakultas Filsafat. Eka yang menulis naskahnya. Ratih yakin, saat itu Eka mengajaknya nonton karena dia pingin pamer naskah yang dia ditulis. Naskah yang menurut Ratih terlalu sok filosofis: bagaimana seseorang mesti berani meneguk racun untuk membela pemikiran yang diyakininya. Penulisnya seperti hanya ingin menunjukkan bahwa ia adalah mahasiswa filsafat yang merasa lebih hebat dari Socrates yang dipujanya. ”Lakon yang kamu tulis itu membuktikan kamu memandang hidup ini getir. Makanya selalu sinis.”

”Sinis bagaimana?”

”Ya, hampir semua hal kamu tanggapi dengan nyinyir…”

”Jangan salah,” Eka menatapnya tajam. ”Kamu harus membedakan antara filsuf dan orang biasa. Kalau orang biasa sinis, akan dianggap nyinyir. Tapi kalau filsuf sinis, itu disebut kritis.”

”Gundulmu, Ka!!

Eka tertawa dan memeluk pundaknya. Entah kenapa, saat itu ia tak mencoba mengelak.

Laki-laki romantis adalah laki-laki yang bisa membuat perempuan tertawa. Ratih teringat kalimat di sebuah buku: menikahlah dengan laki-laki pertama yang membuatmu tertawa. Ia lupa judulnya. Yang tak ia lupa ialah ketika Eka datang ke rumahnya pertama kali pada malam Jumat. Tidak membawa bunga, tapi martabak. ”Pertama, mesti kutegaskan,” katanya. ”Aku sengaja datang malam Jumat, karna tahu, malam Minggu kamu sudah milik orang lain. Aku tak berhak mengganggunya. Seseorang yang bahagia adalah seseorang yang diberi kesempatan memilih dalam hidup. Maka aku memberimu kesempatan, agar kamu bisa memilih sendiri kebahagiaanmu. Tak perduli, apakah bagimu nantinya aku pilihan kedua atau pertama.”

”Jadi kamu tahu aku sudah punya pacar?”

”Kalau perempuan semanis kamu tidak punya pacar, pasti ada yang salah pada selera semua laki-laki di dunia ini.”

Ratih tertawa.

”Dan kedua, soal martabak ini. Sebagai anak kost, aku mesti yakin, bahwa aku tidak membelikanmu sesuatu yang akan sia-sia. Itu sebabnya aku membawakanmu martabak.”

”Kenapa?”

”Karna bila kamu tak suka, aku bisa memakannya sendiri.”

Ia memang tak suka martabak. Hanya mencicip sepotong untuk basa-basi, selebihnya Eka yang menghabiskan. Sejak itu (seperti yang selalu diistilahkan Eka) dia menjadi ”pemilik malam Jumat”. Sebab ”pemilik malam Minggu” adalah Munarman, mahasiswa ekonomi sefakultas yang sudah dua tahun menjadi pacar Ratih. Keduanya kutub yang bertolak belakang.

Munarman–lebih suka di panggil Arman–bertubuh tegap atletis. Seorang yang selalu tak ingin ketinggalan baju-baju yang sedang menjadi mode di majalah popular. Eka ringkih dan selalu tampak kucel dengan kaos yang seminggu bisa dipakainya terus-menerus. Dia punya argumen: jauh lebih berguna menghabiskan waktu untuk membaca buku dari pada untuk mencuci baju. Arman selalu mengajaknya ke kafe, diskotik atau ramai-ramai karaokean dengan kawan-kawan gaulnya. Bila mengajaknya keluar, Eka membawanya ke acara-acara diskusi, pembacaan puisi, pameran lukisan atau sampai larut menghabiskan sepoci teh di warung deket kampus. Seringkali malah hanya jalan kaki, menyusuri jalanan tanpa tujuan. ”Jalan kaki ini bukan perkara idiologi,” kata Eka, ”tapi karena aku memang tak punya mobil.” Terdengar sinis seperti biasa. Seakan ditujukan pada Arman yang memang selalu menjemput Ratih dengan mobil terbarunya.

Arman anak purnawirawan Kolonel Angkatan Darat. Ayah Eka guru Sekolah Dasar Inpres di sebuah desa–yang dalam ungkapan Eka sendiri disebutnya ”tak akan pernah pantas dimasukkan dalam peta Indonesia saking terbelakangnya”. Arman selalu pamer pangkat orangtuanya. ”Orang-orang seperti ayahkulah yang memiliki negara ini,” kelakar Arman yang kerap diulangnya dengan nada bangga. Eka begitu menghormati kemiskinan ayahnya. ”Aku ingin menjadi filsuf karena merasakan nasib ayahku. Seorang yang dalam hidupnya sanggup menanggung dua penderitaan sekaligus. Pertama, karena ia guru. Kau tahu nasib guru di negara ini, kan? Mulia statusnya, tapi melarat nasibnya. Kedua, karena ia beristri perempuan yang tak hanya cerewet tapi juga galak dan menindas. Penindasan paling kontemplatif selalu datang dari seorang istri. Itu sebabnya ayahku selalu murung dan termenung. Nah, kini kau tahu, kenapa aku mengagumi ayahku dan Socrates! Itulah alasan filosofis, kenapa aku memilih masuk Fakultas Filsafat. Alasan idiologisnya, karena aku tertindas. Sedang alasan praktisnya, karena jurusan filsafat tak banyak peminatnya.”

Ratih sering bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ia bisa menyukai dua laki-laki itu? Mungkin karena bersama Arman ia menikmati hidup. Sementara dengan Eka ia merasa ada sesuatu yang mesti diperjuangkan dalam hidup.

Di bulan-bulan penuh demonstrasi menjelang reformasi, ia sering mencemaskan Eka. Aparat semakin keras dan represif menghadapi para mahasiswa yang turun ke jalan menuntut Soeharto mundur. Berkali-kali terjadi bentrokan dan aparat tak hanya menembakkan gas air mata. Lima mahasiswa terluka tertembak peluru karet, dalam satu bentrokan di bundaran kampus. Seorang mahasiswa yang sedang memotret dihajar puluhan aparat, tubuhnya yang sudah terkapar terus ditendang, kameranya diinjak-ijak. Tubuh mahasiswa yang sudah berdarah-darah itu diseret lebih dari 100 meter di aspal jalan yang panas sambil terus ditendangi dan dipukuli dengan pentungan.

Sementara usai demonstrasi menutup jalan pertigaan depan kampus IAIN Sunan Kalijaga, delapan kawan mahasiswa diciduk aparat. Kabarnya mereka disekap di Kodim. Beberapa aktivis segera berkumpul di rumah kontrakan di Gang Rode yang sering dijadikan tempat pertemuan–”rapat gelap” istilah mereka–dalam suasana penuh kecurigaan. Beberapa orang dianggap sebagai intel militer yang disusupkan. Eka mengajaknya ke pertemuan itu. Daulay, Ata, Toriq, Maria, Seno, Budiman, Semendawai, Afnan, Damai, Leyla, Rizal, Rahzen, dan beberapa yang hadir tak bisa menyembunyikan ketegangannya, bicara dengan nada tinggi, membentak dan saling tuding.

”Secepatnya kita harus melakukan lobby untuk membebaskan kawan-kawan kita.”

”Biar intel militer kayak kamu yang urus!”

Seseorang menggebrak meja. Ratih tak melihat jelas siapa. Ia agak sembunyi di belakang Eka.

”Ada yang sudah dapat kabar keadaan mereka?”

”Tenang,” kata Eka. ”Penjara, akan membuktikan tangguh tidaknya mereka. Lagi pula, penjara justru meningkatkan martabat para pembangkang.”

Penjara. Sering Ratih merasa ngeri setiap membayangkan pada akhirnya Eka akan mengalaminya. Sanggupkah tubuh Eka yang kurus menahan siksaan disetrum, dibaringkan di atas balok es semalaman, dijepit jempolnya dengan tang atau digampar popor senapan? Eka memeluknya ketika Ratih mengungkapkan kecemasannya. Malam itu pertama kali Ratih menginap di kamar kost Eka. ”Kekuatan manusia bukan pada tubuhnya, tapi jiwanya,” kata Eka. ”Kau sudah baca novel Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis? Pada akhirnya bukan Hazil yang muda, bersemangat, dan tampak kuat yang mampu bertahan oleh siksaan. Tapi Guru Isa yang tua, kelihatan lemah dan impotent.” Malam itu Ratih merasakan badan Eka hangat dan gemetar. Eka tak bisa menyembunyikan kegugupan ketika mulai menciuminya. Ratih tahu, itu bukan kegugupan laki-laki yang baru tidur pertama kali dengan perempuan.

Demonstrasi nyaris terjadi setiap hari. Ia sering bersama Eka malam-malam keluar masuk gang-gang menyebarkan selebaran. Seperti gerilyawan kota, kata Eka. Sementara Arman mulai terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. ”Jangan dikira aku tak tahu hubunganmu dengan Eka,” katanya. ”Persetan dengan politik! Tapi pada akhirnya aku yakin, kamu akan memilih aku. Terlalu beresiko kamu hidup dengan Eka. Pertama, kamu akan menderita. Kedua, kamu cepat jadi janda. Eka pasti akan mati diculik atau diracun. Karna begitulah nasib aktivis.”

Bila Ratih semakin cemas, itu bukan karna ucapan Arman, tapi rasanya memang ada yang tak akan pernah mungkin mampu ditanggungnya bila ia terus dekat Eka. Ibu pun sudah mulai tak suka setiap kali Eka datang ke rumah. Berita-berita demonstrasi di televisi membuat ibu melarangnya pergi. Ia tak menyalahkan. Itu perasaan wajar seorang ibu yang telah bertahun-tahun hidup sendirian mencemaskan anak perempuan satu-satunya.

Ratih sedang makan malam dengan ibunya ketika bentrokan antara mahasiswa dan aparat di jalan tak jauh dari rumah terus berlangsung hingga selepas isya. Mahasiswa yang berdemonstrasi sejak pagi terus bertahan menutup jalan hingga malam. Semakin malam semakin banyak warga yang ikut bergabung. Aparat membubarkan paksa, dengan menembakkan gas air mata. Truk-truk yang mengangkut pasukan terus menderu melintas, suaranya terdengar dari rumah Ratih. Serentetan suara senapan dan ledakan sesekali menggelegar. Suasana mencekam bahkan terasa hingga ke dalam rumahnya. Beberapa demonstran beberapa kali terlihat berlarian masuk ke dalam gang samping. Aparat menggedor-gedor pintu, mencari mahasiswa yang sembunyi di dalam rumah penduduk. Saat itulah Ratih mendengar pintu diketuk. Ibu terlihat pucat. Hati-hati ia mengintip dari celah korden, ternyata Arman. Dia buru-buru masuk dengan gugup. Dia bercerita kalau dirinya terjebak di tengah-tengah kerusuhan ketika menuju ke mari. Di jalan ada dua panser yang memblokade jalan. Mobilnya digebrak-gebrak dan diancam hendak dibakar. Mobil ia tinggalkan, dan segera berlari menyelamatkan diri. Ibu memberinya segelas air putih. Tangan Arman gemetaran memegangi gelas.

Baru tengah malam bentrokan mereda. Karena merasa sudah aman, Arman pamit pada ibu untuk melihat mobilnya sekalian mau beli rokok. Ada dua hal yang tak gampang diduga: nasib dan politik. Esok siangnya Ratih mendengar kabar yang tak pernah dibayangkan. Arman mati tertembak peluru nyasar, ketika bentrokan kembali memanas di jalan itu dan aparat dengan serampangan melepaskan tembakan. Ratih juga tak lagi bertemu Eka setelah bentrokan yang terus berlangsung hingga subuh itu. Tak ada yang tahu ke mana Eka. Kawan-kawannya yakin Eka diculik, dan tak jelas nasibnya.

Begitu lulus kuliah, Ratih memilih pergi dari kota ini. Berusaha melupakan ingatan pahit itu. Hanya pulang sesekali untuk menengok ibunya. Dan setiap kali pulang, mau tak mau ia pasti melewati jalan ini, dan kenangan itu selalu muncul kembali. Dulu ia mengenal jalan ini sebagai Jalan Sutowijayan. Kini bernama Jalan Munarman. Pecundang memang sering kali lebih beruntung.

Yogyakarta, 2010-2013

(Cerita buat Eka Kurniawan)

*Cerpen ini adalah karya Agus Noor yang beberapa hari yang lalu saya baca ulang di file notes smartphone. Karena yang membatasi kita membaca adalah kebanyakan hanya sifat malas. Bukan karena bacaan itu dari kertas atau media elektronik. Intinya, postingan ini adalah postingan kutipan. Sumbernya dari website kumpulan cerpen kompas. Begitu pula dengan gambarnya.