Bertanyalah Sebelum Didenda!

image

Berada di kampung rantau adalah sebuah pertarungan keterampilan bertahan hidup. Salah kaki melangkah, maka akan masuk ke lubang neraka. Salah mulut bicara, maka akan disalah makna. Salah tangan bertingkah, maka akan terkena denda.

Sudah tiga bulan saya terselip di desa perbatasan Indonesia – Malaysia. Tepatnya di desa Sumentobol, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Menjadi minoritas di antara masyarakat suku Dayak, suku asli penghuni pulau Kalimantan.

Saya adalah satu dari 80 relawan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dalam sebuah program pendampingan masyarakat bernama Patriot Energi dengan jargon “Penggerak Energi Tanah Air”.

Saya ditugaskan untuk mengidentifikasi dan mengaktivasi potensi energi baru terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan di desa yang masih tertutup oleh segala akses modernitas. Di desa tempat saya bertugas itu tidak ada listrik, sinyal, dan transportasi selain transportasi sungai. Bisa dibilang dunia di desa itu adalah dunia gelap Indonesia.

Dalam keseharian sebagai warga minoritas di segala hal. Adalah kemestian untuk selalu menjaga sikap dan tingkah laku. Desa tempat saya bertugas adalah termasuk salah satu desa adat di Kalimantan. Aturan hidup nomor satu adalah mematuhi hukum adat yang berlaku di desa. Desa ini tetap memiliki kepala desa, namun tata kehidupan di luar perihal administrasi desa dikendalikan oleh seseorang dengan jabatan Ketua Adat Kampung.

Roda kehidupan diatur oleh norma adat. Baik dan buruk ditimbang dengan takaran adat yang berlaku. Begitu pula dengan kaidah benar dan salah yang masyarakat anut.

Dalam lingkungan masyarakat yang masih memegang erat norma adat ini, tentu juga masih begitu kental keyakinan terhadap kekuatan-kekuatan mistis yang kadang jadi bahan untuk menumbuhkan ketakutan dan kepatuhan terhadap aturan adat.

Seorang pendatang semacam saya tidak terlepas dengan norma adat yang berlaku. Pendatang atau tamu tidak berarti bebas nilai terhadap aturan. Justru pendatanglah yang musti tunduk dan patuh pada segala adat istiadat di desa.

Di balik adat istiadat itu, maka tentu ada ganjaran atau denda yang akan dikenakan kepada siapa saja yang melanggar hukum adat. Sebuah tindakan kecil yang bisa saja tidak menjadi masalah di daerah lain, di desa ini akan menjadi hal yang rumit untuk dipahami. Banyak sekali kebiasaan di desa ini yang bagi orang pendatang adalah hal yang sangat tidak biasa di daerah lain.

Seorang perempuan yang berjalan di depan seorang lelaki adalah pantangan yang bermakna hina. Seorang tamu yang tidak mencicipi jamuan dari tuan rumah, berarti sang tamu tidak menghargai atau setara dengan menganggap remeh martabat sang tuan rumah. Seorang pemuda yang bertamu sendiri tidak boleh masuk ke rumah seseorang yang di dalamnya hanya ada seorang perempuan, meskipun masih dalam garis keluarga dekat. Dan masih banyak sekali poin aturan dan pantangan adat yang berlaku di desa.

Sebagai orang yang setiap hari berstatus tamu di desa adat ini, tentu saja banyak kerepotan yang saya hadapi. Oleh karena itu, kemampuan yang paling musti dikembangkan setiap hari adalah kemampuan untuk bertanya. Mempertanyakan banyak perkara dengan cara yang pelan dan halus. Sebab satu kendala utama dalam percakapan di desa ini, adalah kemampuan berbahasa Indonesia masyarakat yang masih sangat rendah.

Tetapi saya tidak boleh berhenti bertanya untuk terus menemukan kebaruan-kebaruan informasi yang ada di desa. Dalam kapasitas saya sebagai relawan untuk mengaktivasi energi bersih di desa terisolir seperti ini, saya memang harus pandai-pandai berkomunikasi. Menggali pehamaman masyarakat terhadap energi. Mengagitasi para local champion untuk menumbuhkan sikap skeptis terhadap dunia luar. Mendiseminasikan pengetahuan teknologi secara praktis. Dan kesemua itu saya harus teliti memilih kata dalam percakapan, sebab bisa saja orang di desa akan salah menangkap makna dari ucapan kita, lalu akan diperhadapkan dengan perkara adat.

Sehingga selalu tidak ada salahnya untuk rajin bertanya. Seandainya saya malu bertanya di awal-awal kedatangan saya di desa, maka saya pasti sudah beberapa kali mengalami sidang pelanggaran norma adat. Jadi, mari membiasakan diri untuk selalu mau bertanya. Mau bertanya nggak sesat di jalan #AskBNI

Sedangkan dalam kehidupan manusia modern, kita memang musti proaktif menyambut banyaknya perubahan, termasuk metode bertanya. Dalam dunia perbankan contohnya, kita seringkali menemui kebingungan dan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita masing-masing. Bank BNI sebagai salah satu bank terbaik di Indonesia menawarkan solusi praktis yang sangat memudahkan konsumen atau nasabahnya. Hanya dengan mengirim DM (direct message) via twitter lalu menuliskan pesan atau permasalahan nasabah dengan mengikutkan hashtag atau tagar #AskBNI maka nasabah akan segera menemukan jawaban atas permasalahannya. Silakan dicoba kalau tidak percaya. Saya juga sudah pernah membuktikannya.

Gambar; koleksi pribadi

Advertisements

28 Responses to “Bertanyalah Sebelum Didenda!”

  1. Pengalamannya seru!

    Untung Bung tak sempat kena sidang adat, ya. πŸ™‚

  2. tulisan ini mengingatkanku saat pelatihan penelitian desa yang kuikuti beberapa bulan yang lalu. sebelum kami berbaur dan melakukan treatment kepada masyarakat desa tujuan, fasilitator kami selalu mewanti-wanti untuk lebih dulu mengenal situasi dan budaya desa yang kami akan tempati.

    tak cukup membaca referensi dari buku, transek dan bertanya langsung kepada masyarakat adalah jalan yang paling tepat untuk mengetahui budaya mereka sendiri.

    terima kasih tulisannya dan selamat mengabdi ^^

  3. Putra Kato Says:

    Selalu ada cerita menarik dari lebatnya hutan Kalimantan, representatif dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Membaca setiap tulisan kak Ma’ruf tentang tanah Borneo mengingatkan saya pada setiap cerita di bangku sekolah dasar tentang kayanya Indonesia. Semoga generasi kini dan nanti masih dapat mendengar dan melihat kekayaan Indonesia. Semangat mengabdi kak Ma”ruf πŸ˜€

    • Siap Pak Ketua. Jalan masih panjang, kita musti lebih banyak lagi bertanya. Contohnya, fitur di aplikasi twitternya @BNI46 hanya dengan mengetik #ASKBNI masalah selesai dengan respon super cepat dan bukan oleh robot. Sehingga kita merasa dilayani dengan layanan prima sebagai konsumen atau nasabah.

  4. Dengan bertanya, maka kita akan lebih banyak ilmu ,, sukses selalu mas,,,

  5. NICE.. keep fighting kak πŸ™‚

  6. Betul Daeng, hal yg sama menjadi jurus andalan buat kebanyakan orang termasuk saya agar bisa survive ketika berada di rerantauan. Bahkan sebelum beranjak menuju titik yang dituju pun yang kita lakukan adalah bertanya. Entah bertanya kepada orang lain yang lebih tahu atau bahkan bertanya kepada mesin pencari lewat internet..
    Tetap semangat Daeng, baik-baik di rerantauan sana. Tetap jadi orang bermanfaat kpd orang banyak..

    • Iyya. Sebagai orang baru, kita musti bernyali untuk mempertanyakan semua keraguan. Seperti aplikasi twitter @BNI46 yang hanya dengan mengirim DM yang berisi tagar #ASKBNI masalah jadi terjawab.

  7. Jangankan di lingkungan baru kak, di lingkungan sendiripun bertanya menjadi sangat dibutuhkan. Bukan karena tidak paham lalu menanyakan pertanyaan berulang. Bukan itu.
    Melainkan, selalu muncul pertanyaan baru setelah jawaban sebelumnya ditemukan. . Be survive kaks… Tetap bijak di tanah orang…

  8. Kak ma’ruf…
    Long time no see kak.
    Membaca postinganmu berasa ada disana kak. Hehe. Tak mudah menjadi pendatang baru di suatu daerah, apalagi daerah yang masih sangat kental adat istiadatnya. Mesti beradaptasi dgn baik.
    Saya percaya kak ma’ruf bisa melebur dengan orang2 disana.
    Selamat mengabdi, selamat menginspirasi kak!
    Ditunggu postingan selanjutnya di tanah rantau 😁

  9. Bertanya jangan ditunda. Teruskan kakak Ma’ruf! Sukses ki di perantauan, semoga semakin khatam akan hikayat kehidupan. Keren ^^,

  10. Wah teryata bukan cuma hal mengabdikan diri tapi juga perlu usaha menyesuaikan diri ya kak, menyesuaikan dengan segala keterbatasan (keseserhanaan hidup dsana) sampai dengan kekakuan batasan-batasan adat dsana.
    Tapi sepertinya semuanya positif kok πŸ™‚

    Selamat mengabdi kak!

    • Saya tidak mau bilang mengabdikan diri, saya akan merasa besar diri kalau sudah merasa mampu mengabdi. Sejujurnya saya datang belajar hidup di sana, datang bertanya dan datang bekerja. Terima kasih jejaknya.

  11. Semakin bertanya semakin tahu.
    Saya orang baru, saya mau tahu πŸ˜€

    Great kak, ditunggu postingan selanjutnya.
    Semoga disana penuh berkah..

  12. mantap ka ma`ruf…..
    trus berjuang ka semoga apa yg dilakukan bernilai ibadah disisi-Nya

  13. husnainiashar Says:

    Sepertinya norma adat disana menjadi dasar hukum dalam bertingkah laku….saya belum bisa membayangkn bagaimana model sidang adat d sna.
    Selamat mengabdi di perantauan kak maruf….Tetaplah berbagi pengalamn yang menginspirasi dari perbatasan sana…
    D tunggu postingan selanjutnya kak super.hehe

    • Siap, adek Husna yang lebih super. Sering ada sidang adat, tapi saya tidak pernah pas momennya untuk mendokumentasikan. Apalagi pake bahasa daerah. Paling paling besar denda yang bisa saya tahu. Meski begitu, saya terus bertanya banyak kepada warga dan ketua adat. Supaya saya tidak terlalu banyak salah tafsir terhadap keadaan. Karena, mau bertanya itu keterampilan dalam berkomunikasi.

  14. Luar Biasa, Jika Soekarno Membutuhkan 10 Orang Pemuda Untuk Mengguncang Dunia, Maka Anda Ini Adalah Salah Satunya, Paling Tidak Anda Telah Berpartisipasi Langsung Membangun Indonesia Sebagai Patriot Energi !
    Terus Berkarya Bung πŸ˜€

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s