Kalabinti

image

Hujan turun deras sekali. Kalabinti mengamati titik-titik air yang jatuh dari langit. Sudah lima jam tidak berhenti. Konstan dan belum ada tanda akan usai.

Tidak ada senja, hujan telah membawanya jauh ke dalam gelap awan yang menggumpal. Matahari pun bersembunyi di balik tirai hujan yang tebal.

Kalabinti mulai cemas, isyarat musibah sebentar lagi akan datang. Sudah beberapa hari hujan mengguyur hulu sungai Sembakung-Lumbis. Mengguyur Bumi Dayak Perbatasan. Orang-orang hulu sungai di dekat batas negara Indonesia-Malaysia tidak banyak beraktivitas di kala hujan. Siapa pun lebih baik memilih berdiam di rumah daripada menerjang hujan yang berciri-ciri mendatangkan resiko melukai diri.

Malam pun datang, masih ada air yang jatuh dari langit, tapi pelan dan hanya rintik-rintik saja. Malam ini orang-orang Dayak penguasa hutan Borneo mungkin akan tertidur tanpa diiringi deru hujan.

Sebagai ketua adat di Kampung Sumentobol, Kalabinti memegang tanggungjawab yang besar. Tidurnya selalu gelisah seusai hujan yang lama seperti beberapa hari terakhir ini. Siapa sangka pukul empat dini hari ketika hujan betul-betul telah tiada. Kalabinti menyeru dengan bahasa isyarat di tengah kampung. Kampung batas negeri ini segera ramai. Apa gerangan?

Sungai besar itu ternyata telah dipenuhi air bandang. Desember kelabu menyapa sungai Sembakung-Lumbis. Kalabinti tidak berhenti menyeru hingga orang-orang kampung tersadar dari tidurnya. “Tengoklah air bah di sungai itu!” Suara batin Kalabinti yang terkandung dalam seruan pendek itu.

Orang-orang telah terbangun, beberapa menyalakan senternya dan segera mengerti keadaan. Kampung hulu yang gelap gulita tanpa cahaya listrik itu gaduh di subuh yang masih pekat. Banjir bandang telah sampai di hilir sungai. Akan celakalah kampung-kampung hilir yang datarannya lebih rendah. Dan dalam kondisi seperti ini, orang-orang hulu sungai akan merasa beruntung bermukim di tebing sungai yang sangat tinggi dari muka air.

Banjir ini memungkinkan adalah banjir kiriman dari Malaysia. Dari salah satu pangkal air sungai besar Sembakung-Lumbis. Sebab di Malaysia, hutannya telah disulap menjadi perkebunan kelapa sawit. Meski masih ada hutan yang bernama hutan lindung. Kalabinti mengurai sedikit analisisnya terhadap banjir besar di depan matanya itu.

Pengalaman banjir kado tahun baru 2014 itu selalu membekas di ingatan Kalabinti. Data berikutnya menyebutkan ada puluhan rumah di kampung hilir yang hanyut terbawa arus dan ada ratusan rumah yang tenggelam sampai dada orang dewasa. Bila ditambah dengan nilai aset atau barang berharga yang hancur, maka tentu kerugian yang ditimbulkan banjir akhir tahun itu mencapai miliaran rupiah.

Resiko banjir adalah pelajaran paling berharga yang bisa dilihat dengan logika sederhana. Tidak perlu menjelaskan dampak emisi dan pemanasan global yang ditimbulkan dari pergantian hutan menjadi perkebunan.

Kalabinti di usianya yang mulai sepuh, berniat akan mengakhiri jabatannya sebagai ketua adat hingga tarikan nafas terakhir. Dia telah berusia tapi kerjanya belum usai. Kalabinti akan memastikan hutan adat Sumentobol tidak diganggu oleh siapapun. Oleh kepentingan sebesar apapun. Oleh perjanjian apapun.

Kalabinti mampu melihat keadaan di depan. Ancaman semakin nyata di ujung mata. Jalan nasional telah dirintis di seberang kampung. Pembukaan jalan itu adalah sebuah dilematis bagi elit pemikir atau para tetuah adat kampung-kampung hulu. Mutlak bersamaan dengan datangnya faedah besar yang ada di balik terbukanya akses transportasi selain transportasi sungai, juga ada kepentingan besar yang sangat mungkin berniat jahat terhadap hutan-hutan perawan di tanah batas negeri ini.

Kalabinti telah berunding dengan semua kepala desa hulu sungai untuk tidak mudah menyerahkan tanda tangan kontrak pengelolaan hutan adat yang sebentar lagi akan sampai di meja mereka. Sekilas hutan yang menjelma perkebunan akan mendatangkan manfaat, namun itu adalah sesaat.

Kalabinti sudah beberapa kali membuktikan itikadnya menjaga hutan. Pada tahun 2004, Kalabinti bersama masyarakat Sumentobol berhasil menghentikan logging yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Malaysia dan menyita semua alat berat operasional perusahaan tersebut. Perusahaan itu melakukan logging tanpa izin resmi baik pemerintah maupun dari masyarakat adat setempat. Penyitaan itu bukan tanpa perlawanan. Kalabinti dan masyarakat adat lainnya berhadapan dengan anggota keamanan dari perusahaan yang dilengkapi senjata. Tetapi Kalabinti telah menyerahkan hidupnya untuk hutan Borneo. Dan dia tidak akan berhenti sampai mati menjaga hutan.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s