Archive for January, 2016

Bertanyalah Sebelum Didenda!

Posted in #AskBNI, Blogger Kampus, Feature, patriot energi, Petualangan with tags , , , , , on January 23, 2016 by mr.f

image

Berada di kampung rantau adalah sebuah pertarungan keterampilan bertahan hidup. Salah kaki melangkah, maka akan masuk ke lubang neraka. Salah mulut bicara, maka akan disalah makna. Salah tangan bertingkah, maka akan terkena denda.

Sudah tiga bulan saya terselip di desa perbatasan Indonesia – Malaysia. Tepatnya di desa Sumentobol, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Menjadi minoritas di antara masyarakat suku Dayak, suku asli penghuni pulau Kalimantan.

Saya adalah satu dari 80 relawan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dalam sebuah program pendampingan masyarakat bernama Patriot Energi dengan jargon “Penggerak Energi Tanah Air”.

Saya ditugaskan untuk mengidentifikasi dan mengaktivasi potensi energi baru terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan di desa yang masih tertutup oleh segala akses modernitas. Di desa tempat saya bertugas itu tidak ada listrik, sinyal, dan transportasi selain transportasi sungai. Bisa dibilang dunia di desa itu adalah dunia gelap Indonesia.

Dalam keseharian sebagai warga minoritas di segala hal. Adalah kemestian untuk selalu menjaga sikap dan tingkah laku. Desa tempat saya bertugas adalah termasuk salah satu desa adat di Kalimantan. Aturan hidup nomor satu adalah mematuhi hukum adat yang berlaku di desa. Desa ini tetap memiliki kepala desa, namun tata kehidupan di luar perihal administrasi desa dikendalikan oleh seseorang dengan jabatan Ketua Adat Kampung.

Roda kehidupan diatur oleh norma adat. Baik dan buruk ditimbang dengan takaran adat yang berlaku. Begitu pula dengan kaidah benar dan salah yang masyarakat anut.

Dalam lingkungan masyarakat yang masih memegang erat norma adat ini, tentu juga masih begitu kental keyakinan terhadap kekuatan-kekuatan mistis yang kadang jadi bahan untuk menumbuhkan ketakutan dan kepatuhan terhadap aturan adat.

Seorang pendatang semacam saya tidak terlepas dengan norma adat yang berlaku. Pendatang atau tamu tidak berarti bebas nilai terhadap aturan. Justru pendatanglah yang musti tunduk dan patuh pada segala adat istiadat di desa.

Di balik adat istiadat itu, maka tentu ada ganjaran atau denda yang akan dikenakan kepada siapa saja yang melanggar hukum adat. Sebuah tindakan kecil yang bisa saja tidak menjadi masalah di daerah lain, di desa ini akan menjadi hal yang rumit untuk dipahami. Banyak sekali kebiasaan di desa ini yang bagi orang pendatang adalah hal yang sangat tidak biasa di daerah lain.

Seorang perempuan yang berjalan di depan seorang lelaki adalah pantangan yang bermakna hina. Seorang tamu yang tidak mencicipi jamuan dari tuan rumah, berarti sang tamu tidak menghargai atau setara dengan menganggap remeh martabat sang tuan rumah. Seorang pemuda yang bertamu sendiri tidak boleh masuk ke rumah seseorang yang di dalamnya hanya ada seorang perempuan, meskipun masih dalam garis keluarga dekat. Dan masih banyak sekali poin aturan dan pantangan adat yang berlaku di desa.

Sebagai orang yang setiap hari berstatus tamu di desa adat ini, tentu saja banyak kerepotan yang saya hadapi. Oleh karena itu, kemampuan yang paling musti dikembangkan setiap hari adalah kemampuan untuk bertanya. Mempertanyakan banyak perkara dengan cara yang pelan dan halus. Sebab satu kendala utama dalam percakapan di desa ini, adalah kemampuan berbahasa Indonesia masyarakat yang masih sangat rendah.

Tetapi saya tidak boleh berhenti bertanya untuk terus menemukan kebaruan-kebaruan informasi yang ada di desa. Dalam kapasitas saya sebagai relawan untuk mengaktivasi energi bersih di desa terisolir seperti ini, saya memang harus pandai-pandai berkomunikasi. Menggali pehamaman masyarakat terhadap energi. Mengagitasi para local champion untuk menumbuhkan sikap skeptis terhadap dunia luar. Mendiseminasikan pengetahuan teknologi secara praktis. Dan kesemua itu saya harus teliti memilih kata dalam percakapan, sebab bisa saja orang di desa akan salah menangkap makna dari ucapan kita, lalu akan diperhadapkan dengan perkara adat.

Sehingga selalu tidak ada salahnya untuk rajin bertanya. Seandainya saya malu bertanya di awal-awal kedatangan saya di desa, maka saya pasti sudah beberapa kali mengalami sidang pelanggaran norma adat. Jadi, mari membiasakan diri untuk selalu mau bertanya. Mau bertanya nggak sesat di jalan #AskBNI

Sedangkan dalam kehidupan manusia modern, kita memang musti proaktif menyambut banyaknya perubahan, termasuk metode bertanya. Dalam dunia perbankan contohnya, kita seringkali menemui kebingungan dan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita masing-masing. Bank BNI sebagai salah satu bank terbaik di Indonesia menawarkan solusi praktis yang sangat memudahkan konsumen atau nasabahnya. Hanya dengan mengirim DM (direct message) via twitter lalu menuliskan pesan atau permasalahan nasabah dengan mengikutkan hashtag atau tagar #AskBNI maka nasabah akan segera menemukan jawaban atas permasalahannya. Silakan dicoba kalau tidak percaya. Saya juga sudah pernah membuktikannya.

Gambar; koleksi pribadi

Kalabinti

Posted in Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , , on January 18, 2016 by mr.f

image

Hujan turun deras sekali. Kalabinti mengamati titik-titik air yang jatuh dari langit. Sudah lima jam tidak berhenti. Konstan dan belum ada tanda akan usai.

Tidak ada senja, hujan telah membawanya jauh ke dalam gelap awan yang menggumpal. Matahari pun bersembunyi di balik tirai hujan yang tebal.

Kalabinti mulai cemas, isyarat musibah sebentar lagi akan datang. Sudah beberapa hari hujan mengguyur hulu sungai Sembakung-Lumbis. Mengguyur Bumi Dayak Perbatasan. Orang-orang hulu sungai di dekat batas negara Indonesia-Malaysia tidak banyak beraktivitas di kala hujan. Siapa pun lebih baik memilih berdiam di rumah daripada menerjang hujan yang berciri-ciri mendatangkan resiko melukai diri.

Malam pun datang, masih ada air yang jatuh dari langit, tapi pelan dan hanya rintik-rintik saja. Malam ini orang-orang Dayak penguasa hutan Borneo mungkin akan tertidur tanpa diiringi deru hujan.

Sebagai ketua adat di Kampung Sumentobol, Kalabinti memegang tanggungjawab yang besar. Tidurnya selalu gelisah seusai hujan yang lama seperti beberapa hari terakhir ini. Siapa sangka pukul empat dini hari ketika hujan betul-betul telah tiada. Kalabinti menyeru dengan bahasa isyarat di tengah kampung. Kampung batas negeri ini segera ramai. Apa gerangan?

Sungai besar itu ternyata telah dipenuhi air bandang. Desember kelabu menyapa sungai Sembakung-Lumbis. Kalabinti tidak berhenti menyeru hingga orang-orang kampung tersadar dari tidurnya. “Tengoklah air bah di sungai itu!” Suara batin Kalabinti yang terkandung dalam seruan pendek itu.

Orang-orang telah terbangun, beberapa menyalakan senternya dan segera mengerti keadaan. Kampung hulu yang gelap gulita tanpa cahaya listrik itu gaduh di subuh yang masih pekat. Banjir bandang telah sampai di hilir sungai. Akan celakalah kampung-kampung hilir yang datarannya lebih rendah. Dan dalam kondisi seperti ini, orang-orang hulu sungai akan merasa beruntung bermukim di tebing sungai yang sangat tinggi dari muka air.

Banjir ini memungkinkan adalah banjir kiriman dari Malaysia. Dari salah satu pangkal air sungai besar Sembakung-Lumbis. Sebab di Malaysia, hutannya telah disulap menjadi perkebunan kelapa sawit. Meski masih ada hutan yang bernama hutan lindung. Kalabinti mengurai sedikit analisisnya terhadap banjir besar di depan matanya itu.

Pengalaman banjir kado tahun baru 2014 itu selalu membekas di ingatan Kalabinti. Data berikutnya menyebutkan ada puluhan rumah di kampung hilir yang hanyut terbawa arus dan ada ratusan rumah yang tenggelam sampai dada orang dewasa. Bila ditambah dengan nilai aset atau barang berharga yang hancur, maka tentu kerugian yang ditimbulkan banjir akhir tahun itu mencapai miliaran rupiah.

Resiko banjir adalah pelajaran paling berharga yang bisa dilihat dengan logika sederhana. Tidak perlu menjelaskan dampak emisi dan pemanasan global yang ditimbulkan dari pergantian hutan menjadi perkebunan.

Kalabinti di usianya yang mulai sepuh, berniat akan mengakhiri jabatannya sebagai ketua adat hingga tarikan nafas terakhir. Dia telah berusia tapi kerjanya belum usai. Kalabinti akan memastikan hutan adat Sumentobol tidak diganggu oleh siapapun. Oleh kepentingan sebesar apapun. Oleh perjanjian apapun.

Kalabinti mampu melihat keadaan di depan. Ancaman semakin nyata di ujung mata. Jalan nasional telah dirintis di seberang kampung. Pembukaan jalan itu adalah sebuah dilematis bagi elit pemikir atau para tetuah adat kampung-kampung hulu. Mutlak bersamaan dengan datangnya faedah besar yang ada di balik terbukanya akses transportasi selain transportasi sungai, juga ada kepentingan besar yang sangat mungkin berniat jahat terhadap hutan-hutan perawan di tanah batas negeri ini.

Kalabinti telah berunding dengan semua kepala desa hulu sungai untuk tidak mudah menyerahkan tanda tangan kontrak pengelolaan hutan adat yang sebentar lagi akan sampai di meja mereka. Sekilas hutan yang menjelma perkebunan akan mendatangkan manfaat, namun itu adalah sesaat.

Kalabinti sudah beberapa kali membuktikan itikadnya menjaga hutan. Pada tahun 2004, Kalabinti bersama masyarakat Sumentobol berhasil menghentikan logging yang dilakukan oleh salah satu perusahaan Malaysia dan menyita semua alat berat operasional perusahaan tersebut. Perusahaan itu melakukan logging tanpa izin resmi baik pemerintah maupun dari masyarakat adat setempat. Penyitaan itu bukan tanpa perlawanan. Kalabinti dan masyarakat adat lainnya berhadapan dengan anggota keamanan dari perusahaan yang dilengkapi senjata. Tetapi Kalabinti telah menyerahkan hidupnya untuk hutan Borneo. Dan dia tidak akan berhenti sampai mati menjaga hutan.

Mengenal Kampung Hulu Perbatasan Nusantara

Posted in Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , , , , on January 18, 2016 by mr.f

image

Matahari pagi bersanding dengan kabut yang baru saja ingin terangkat dari pucuk-pucuk dedaunan hijau di hutan batas negeri Indonesia-Malaysia. Hijaunya masih perawan, pepohonan tumbuh perkasa berjejer seluas gunung gemunung yang dibelah oleh sebuah sungai besar, Sungai Sembakung. Sungai yang pangkalnya dari dua negara. Satunya dari Indonesia, dan lainnya  dari Malaysia.

Orang-orang di hulu sungai ini memanggil dirinya dengan sebutan Masyarakat Adat Suku Dayak Agabag. Siapa yang tidak kenal dengan Suku Dayak? Dayak adalah suku besar di Kalimantan, dan memiliki banyak sub-suku, seperti Dayak Tagelan, Dayak Punan, Dayak Tidung, Dayak Kenya, Dayak Puduk, Dayak Agabag, dan masih banyak sekali sub-suku yang tersebar di dataran dan hutan Borneo. Suku besar yang mendiami hutan Borneo yang merupakan hutan dengan keanekaragaman biodiversitas.

Borneo menjadi rumah bagi lebih dari 15.000 jenis tanaman, 300 jenis pohon, dan 221 spesies mamalia. Sekaligus rumah bagi sekian banyak seni dan budaya yang menakjubkan. Hutan Borneo juga terkenal dengan sebutan hutan hujan tropis yang mendunia. Dengan tingkat curah hujan lebih dari 1200 mm per tahun, sehingga hutan Borneo masuk dalam tipe hutan evergreen. Hutan Borneo adalah hutan hujan tropis tertua di dunia yang telah berusia 130 juta tahun, tua 70 tahun dari hutan hujan tropis Amazon.1

Di utara Borneo, masyarakat suku Dayak Agabag telah bertahan hidup bersama hutan. Secara terminologi, masyarakat setempat mengartikan Agabag sebagai pakaian nenek moyang mereka yang menutup bagian perut ke bawah dengan cara melilitkan pengikatnya di pinggang. Suku Dayak Agabag inilah yang mayoritas bermukim dan hidup berkelompok di sepanjang sungai yang pangkalnya bercabang ini, hingga pada muaranya di daerah Sembakung. Tepat berhadapan dengan Pulau Tarakan, di Kalimantan Utara.

Ada banyak hal unik dan menarik pada kehidupan masyarakat adat Dayak Agabag ini. Mari kita mulai dari cara mereka bertahan hidup bersama hutan dan sungai. Sungguh orang-orang Dayak Agabag ini akan punah tanpa hutan dan sungai. Meskipun keadaan terkini, tidak kita temukan lagi masyarakat yang betul-betul hidup seratus persen dari hutan tanpa sentuhan modernisasi. Tetapi setidaknya, prinsip hidup kebanyakan mereka masih sangat berpegang pada tata aturan adat.

Dan atas itulah, mereka mengklaim diri sebagai satu-satunya masyarakat adat terbesar di Indonesia yang mampu eksis dengan segenap kebiasaan dan adat istiadat nenek moyang mereka.
Secara administratif, kampung-kampung di hulu sungai ini masuk dalam wilayah Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Propinsi Kalimantan Utara. Sebuah kecamatan yang memiliki 49 desa dan baru memisahkan diri dari Kecamatan Lumbis (Induk) empat tahun yang lalu.

Di tepi hulu sungai, terdapat beberapa kampung hingga ke pangkal air, baik kampung yang masuk dalam wilayah Indonesia maupun yang berbelok ke arah pangkal air di Malaysia. Dan di dalamnya terdapat beberapa desa. Inilah keunikannya, kampung ini merupakan penggabungan beberapa desa-desa kecil. Desa kecil ini sungguh adalah adalah desa pengecualian dari amanah dan syarat desa yang ada di Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Faktanya, dalam satu kelompok, biasanya terdapat lima sampai sepuluh desa kecil. Dalam satu desa, hanya terdapat maksimal 30 kepala keluarga. Bahkan ada beberapa desa yang hanya berisi 10 kepala keluarga. Seperti beberapa di desa di Kelompok Sumentobol. Salah satu nama kelompok kampung di sepanjang hulu sungai Sembakung ini.

Masyarakat adat hulu sungai batas negeri ini terisolir dengan segala aspek-aspek kemajuan hidup manusia. Satu-satunya alat transportasi yang harus dipakai untuk sampai di kampung-kampung hulu ini adalah dengan menggunakan longboat, atau masyarakat lokal menyebutnya perahu tempel dari pusat kecamatan yang terbilang maju dalam beberapa perbandingan dengan kehidupan di hulu sungai akan menghabiskan waktu enam sampai belasan jam dalam berbagai kondisi dan tantangan alam yang dinamis.

Semua kampung di hulu sungai ini masih gelap gulita sebab tidak ada yang terlistriki oleh negara dan dipastikan tidak ada sinyal telefon sedikit pun dari semua provider. Jelas, ini tidak hanya sekadar ironi sebuah kampung Kalimantan yang merupakan lumbung batu bara negeri ini. Lumbung sumber energi listrik Indonesia.

Keunikan lainnya adalah bahwa, sebab rumitnya akses transportasi yang bisa membuka kehidupan masyarakat hulu ini. Maka segala pemanfaatan sumber daya alam akan berputar dan berakhir di kampung masing-masing. Transaksi jual beli hanya berlangsung pada barang-barang yang memang berasal dari luar. Barang-barang yang tidak mampu diciptakan sendiri oleh masyarakat seperti bensin, beras, gula, garam, dan semacamnya. Selain itu, semuanya masih bisa diatasi dengan sistem adat dan kekeluargaan. Untungnya, mata uang digunakan bertransaksi masih rupiah, padahal gerbang batas Malaysia sudah sangat dekat dan justru hanya pedagang dari Malaysia-lah yang datang menawarkan barangnya menggunakan perahu.

Pekerjaan utama mereka adalah mencari kayu gaharu di hutan belantara. Kayu yang harganya sangat mahal, bisa mencapai 500-an juta perkilogramnya. Mencari kayu gaharu bukanlah perkara mudah, terkadang ada unsur hoki di dalamnya.

Sekelompok orang yang biasa terdiri 3 sampai 5 orang, naik dan turun gunung menyasar satu persatu pepohonan gaharu yang dicurigai mengandung inti yang dimaksudkan. Pada perkara inilah, istilah hoki itu bisa ditafsirkan. Tidak semua mata akan menuju pada pohon gaharu yang mungkin berisi inti hitam itu. Sebuah pohon yang tumbang bisa jadi itulah pohon gaharu yang telah dicari berhari-hari bahkan berminggu-minggu di hutan.

Pekerjaan mencari kayu gaharu bukan tanpa aturan adat. Bahwa setiap desa itu memiliki wilayah hutan adat yang mereka jaga dan pelihara dengan cara mereka sendiri. Membatasinya dengan penanda tertentu sebagai batas hutan adat tiap desa. Pemberian denda melalui hukum adat masih terlihat lebih berkekuatan ketimbang aturan administratif atau hukum kenegaraan. Setiap siapapun warga wajib melapor dan membayar biaya sebelum memasuki hutan adat desa lain.

Aturan ini terkhusus untuk keperluan mencari kayu gaharu. Bila hanya berburu babi, maka boleh saja tanpa izin dari ketua adat desa pemilik hutan.
Selain mencari kayu gaharu, tentu masyarakat hulu sungai ini membutuhkan asupan makanan. Sumber karbohidrat didapatkan dari ubi-singkong yang diolah menjadi tepung basah, dan orang setempat menyebutnya Ilui. Sebuah makanan khas masyarakat Suku Dayak Agabag yang selalu melengkapi hidangan makan pada lauk yang berkuah.

Sedangkan kebutuhan protein dan lemak di dapatkan dari babi hutan yang disediakan oleh hutan Borneo serta dari ikan batu yang tak pernah habis di dalam sungai. Namun babi hutan hanya mampu memenuhi untuk kebutuhan hidup sehari saja. Sebab, tidak ada alat yang mampu mengawetkan daging selama berhari-hari. Babi buruan yang didapatkan, adalah konsumsi bersama dalam sebuah kampung. Satu ekor dagingnya akan terbagi hingga habis di rumah-rumah tetangga terdekat. Selain itu, aturan adat kampung menegaskan untuk tidak memburu anak babi atau babi yang masih kecil. Bila ketahuan bisa jadi akan mendapat denda adat jutaan rupiah. Sedangkan terhadap ikan di sungai, juga diatur oleh adat bahwa hanya boleh menangkapnya dengan cara menjala atau memasang pukat kecil. Menggunakan setrum ikan atau meracun sungai adalah pelanggaran besar terhadap aturan adat, maka pasti akan mendapat denda adat.

Hutan selalu penuh dengan aroma kehidupan. Pada suatu saat, orang-orang di hulu sungai ini betapa merindukan kehidupan berbeda yang nampak maju yang ditawarkan oleh modernisasi. Wajah palsu modernisasi yang di dalamnya terbungkus rapi sejumlah agenda pembalakan dan pengerusakan hutan alami. Dalam situasi inilah, terdapat paradoks terhadap pelestarian hutan Kalimantan. Kehidupan modern telah di depan mereka, setelah jalan nasional Indonesia-Malaysia terbuka, maka tantangan dan pola hidup masyarakat adat dalam memandang hutan pasti akan berbeda. Oleh sebab itu, mari tetap kritis menghadapi situasi. Menjaga dan memeperjuangkan kelestarian hutan Indonesia.

]1  Caption Akun Instagram @eigeradventure