Sekerat Rindu

image

Kepada rindu yang tidak ingin kutulis panjang-panjang, tapi tetap panjang-panjang. Aku bermaksud, semata ingin memantik api rindu. Yang kuyakini bahwa aku akan memahami perasaanku sendiri dengan cara menulis. Seumpamanya bathinku bergejolak menerima kenyataan, maka sangat bisa dengan menulis aku akan kembali ke gelombang yang sedikit lebih tenang, seolah ada urusan yang kuselesaikan dengan caraku sendiri.

Sejujurnya, aku tidak bermaksud mengumbar ini supaya banyak orang yang tahu. Tetapi aku bingung menentukan topik pembicaraanku sendiri. Sebab disini sepi sekali. Seringkali, kesepian kesepian seperti inilah yang mengundang aku untuk menuliskan sekerat dua kerat metafora yang kacau kepada angin yang meraba langit.

Langit yang separuh berbintang bintang redup dan sekelabat  kabut malam tipis yang menghiasi angkasa. Lalu, di separuh langit lainnya ada tanda tanda kalau air langit akan turun ke bumi, mencium dedaunan di gemunung sekitar sini. Sungguh sebuah malam yang menambah sepi. Tetapi tidak berarti aku menderita. Aku hanya sedikit merindukan seseorang yang kuinginkan mengada di depanku. Mungkin bisa menjadi teman berbincang yang tidak kaku seraya menikmati kopi. Seperi hal yang sudah biasa dilakukan bersamanya. Seperti itulah rindu menggali sumur kenangan.

Aku berada jauh di utara negeri. Dekat dekat ujung negeri. Namun sebagian perhatianku meratapi masa lalu yang belum selesai. Entah di sebuah titik yang mana masa lalu itu kini berdiam. Aku tidak semaksud ingin meragukan suatu komitmen yang sudah disimpul bersama. Sebuah keraguan akan melahirkan prasangka selanjutnya. Dan selalu wasangka itulah yang membuat sebuah simpul terurai. Disinilah rindu tepat hadir membunuh curiga.

Dengan menulis begini, beberapa bagian dari hal yang kuyakini menjadi semakin kuat.

Dan hujan betul-betul tumpah dari langit. Tergesa gesa seperti tidak ingin memberi ampun pada sebuah celah di udara. Suara hujan itu menderai atap, lalu tak ada yang bisa kudengar kecuali suara hatiku sendiri yang membatin bisu. Akan tetapi banyak sekali hal yang mampu kuingat selanjutnya di tengah gempuran hujan itu. Bukankah hujan yang terlalu deras juga pernah menjadi cerita seru yang tidak berhenti dipahami. Cerita tentang hujan di suatu senja yang segera berganti warna. Cerita seru itu bisa lebih mengangkat nostalgia daripada gerimis di awal musim berganti.

Ada hal yang aku cukupkan dengan hujan. Seperti menulis rindu ini. Rinduku menjadi jauh lebih cukup. Lalu, adapula yang aku takutkan pada hujan di akhir tahun begini. Seperti timbul tenggelamnya firasat yang tidak baik dalam benakku. Firasat kuat bahwa sebuah perpisahan akan diresmikan oleh nada nada hujan. Mungkin saja akan menyempurnakan akhir dari sebuah cerita rindu. Tetapi aku memilih optimis dan menenggelamkan ketakutan ke dasar samudera.

Seberapa cermatpun aku menanam rindu, bila memang tidak hendak berbuah maka akan percuma semua rasa saling percaya. Adakalanya sebuah optimisme mungkin akan berakhir dengan pilu. Dan sebuah rindu mustilah diselesaikan terlebih dulu. Dengan itu aku bisa perpuas diri menerima takdir rindu.

Sumentobol, di tanggal yang cantik 15-12-15

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s