Preambule Kronik Borneo

image

Jika kamu merasa berhutang atas hidupmu, maka secepatnyalah kamu bersyukur dan segeralah lunasi utang itu. Kamu hanya perlu menengok pintu atau jendela duniamu. Mungkin disana ada ruang yang bisa memuat langkahmu menuju pelunasan utang hidup itu.

Tidak ada pintu yang benar-benar tertutup. Ketuklah sekali dua kali untuk menegaskan ikhtiarmu. Bila sudah lelah, cobalah kembali hingga nafas menjadi taruhannya. Di saat yang nyaris “mati” itulah tempat kita berpasrah pada satu kuasa ilahi yang mengatur takdir manusia.

Utang hidup tidak selalu menegasikan hal-hal besar luar biasa yang tersangkut di ingatan. Utang hidup adalah segala apa yang diinderai hingga kini. Segala apa yang kita rasakan dalam bathin. Utang hidup bernilai linear dengan manfaat hidup. Semakin besar kita merasa berutang terhadap hidup, maka semakin besar tuntutan bathin kita untuk menjadi manfaat atas hidup . Atas segala karunia hidup yang mampu kita kenal.

Tentu kita musti bergerak untuk menjadi manfaat atas hidup kita dan hidup itu sendiri. Kita bisa menamainya ikhtiar. Ikhtiar untuk selalu berhijrah. Hijrah yang semakna dengan perpindahan. Sebuah perpindahan mutlak membutuhkan usaha. Sebagaimana Newton telah merumuskan postulat untuk mengukur besar usaha dan gaya dalam hukum fisika.

Atas alasan utama itulah, sebuah hidup harus bermanfaat sebelum mati. Kita bisa bersepakat bahwa utang hidup itu ada banyak sekali. Mungkin yang paling besar adalah tentu kepada Tuhan yang mencipta kehidupan itu sendiri. Tuhan yang menjadi kausa prima atas segala utang hidup kita kepada yang lainnya. Kepada Tuhan, kita juga mungkin bisa menamainya utang pada agama. Lalu selanjutnya, kita tidak boleh lupa bahwa manusia dan alam semesta juga menyumbang besar atas kehidupan kita. Maka tentu kita berutanag kepada dua hal itu.

Barisan kalimat pembuka ini adalah ikhwal yang mendasari saya untuk merampungkan salah satu niat saya untuk menjadikan hidup saya bermanfaat. Falsafah hidup bermanfaat mengantar saya merasa fardu untuk menyebarlebarkan hidup baik yang saya alami. Yang dengan itu, kiranya hidup saya bisa bernilai manfaat dan utang-utang hidup saya perlahan terlunasi.

Meskipun dalam perhitungan sederhana, tak ada utang hidup yang terlunasi sampai kita menjadi tak hidup lagi di dunia. Sebab, semakin kita merasa hidup, maka semakin besar pula utang kita terhadap hidup.

Preambule Kronil Borneo ini mulai dibuat ketika saya baru saja menyelesaikan kronik hari 31 saya di tanah Borneo dan terputus penulisannya hingga hari 46. Cita-cita besar Kronik Borneo ini adalah untuk melunasi utang hidup saya. Mungkin terdengar egois, tapi di balik itu saya berharap besar ada beberapa catatan yang bisa menjadi manfaat bagi sesiapapun yang membacanya. Beberapa kesepian mungkin tidak lagi menjadi kesepian ketika kita membagikannya. Dan kebaikan yang dibagikan justru ibarat bola salju yang bergulir.

Dengan itu, saya bisa memetik manfaat bersamaan dengan orang yang membacanya. Saya belum berniat untuk mempostingnya satu persatu di blog ini. Mungkin hanya ada beberapa catatan krusial yang bisa saja juga berwajah sajak. Itu tetap saja bisa tepat dikatakan kronik selama masih merunut waktu.

Kehidupan saya di kampung hulu sungai batas negeri ini sungguh mendobrak naluri saya untuk bisa menebar manfaat sekecil zarra pun. Mengacu pada kata Tuhan dalam kitab suci bahwa Tuhan mencipta segala hal tidak ada yang sia-sia.

Termasuk menjadi alasan saya bisa terselip di tengah hutan Borneo ini. Di antara perbedaan yang sangat kontras. Di antara kehidupan sebelumnya yang begitu terpaut. Jauh berjarak dalam banyak dimensi. Dan disempurnakan dengan berbagai keterbatasan yang justru membuat kehidupan saya menjadi terasa mewah dari kehidupan yang lalu.

Terima kasih, telah membaca pengantar ini. Sampai berjumpa pada Kronik Borneo yang berwujud buku. Saya membutuhkan dukungan moril yang melangit untuk menyelesaikan misi pelunasan hidup ini.

Kepada siapa saja yang ingin terkait dengan agenda ini, saya menyertakan doa yang khusyuk supaya Tuhan membantu kita yang berjalan dalam jalan kebaikan. Semoga hidup kita mampu kita pahami sebagai kehidupan yang tidak percuma. Serta, jika kita sependapat atas perkara utang hidup ini, maka tidak banyak spasi yang harus kita ketuk untuk kita melanjutkan usaha merampungkannya. Hingga mati.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s