Menggagas Ruang Baca Suara Sungai di Batas Negeri

image

Si Donni telah berusia 7 tahun lebih. Dia masih ingusan di usia itu. Lubang hidungnya tak pernah kosong. Apalagi di pergantian musim begini. Akan terlalu rumit mengurusi barang yang ada di hidung itu setiap saat.

Donni tinggal di kampung yang bernama Sumentobol, sebuah kelompok desa yang berisi persatuan 7 desa kecil. Masuk dalam wilayah Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Propinsi Kalimantan Utara.

Donni baru saja masuk sekolah, seragam putih merahnya masih nampak baru, sebab hingga masuk jadwal ujian semester pertamanya, liburnya masih lebih banyak ketimbang dia masuk sekolah. Sepatunya pun masih kelihatan hitam pekat, meskipun pada saat-saat digunakan sudah pasti akan berlumur lumpur. Tapi ibunya, selalu mencuci sepatunya setiap akhir pekan.

Donni belum pandai berhitung sampai angka dua puluh. Dia hanya mengingatnya sampai sebelas atau kadang bisa sampai angka tigabelas. Dia juga belum mengenal huruf di alfabet sedikit pun. Donni adalah cermin dari puluhan anak seusianya di kampung hulu sungai Sembakung-Lumbis,  Sungai yang pangkalnya dari dua negara, Indonesia dan Malaysia. Kampungnya sudah sangat dekat dengan perbatasan Malaysia. Tidak cukup satu jam melawan arus sungai deras dengan longboat, maka akan sampai pada patung garuda raksasa di tepi sungai di gerbang batas dua negara.

Donni sekilas nampak bisa bermain dengan teman-temannya. Namun ketika saya mengajaknya berbicara, maka dia akan menghindar. Kadangkala, bila begitu terdesak dan tak bisa melarikan diri dari pertanyaan atau spekulasi yang saya ajukan. Maka dia hanya akan mengeluarkan kata, “iya, iya, ya” dari mulutnya.

Awalnya saya menganggap ini adalah semacam gejala penolakan dia terhadap saya. Namun seiring waktu, Donni masih berlaku sama. Saya sudah upaya memasuki kehidupan bermainnya, mengajaknya ikut bernyanyi bersama teman-teman seusianya ketika saya berkesempatan mengiringnya dengan gitar.

Donni, rupanya tidak mengoleksi banyak kosa kata bahasa Indonesia. Dia tidak mampu merangkai bahasa Indonesia, sebab baru kali ini dia harus terlatih mengucapkan bahasa nasional itu. Sebelumnya, dia sekolah, gurunya juga terkadang menggunakan bahasa daerah untuk mengajar anak kelas satu SD, sebab bila langsung berbahasa Indonesia. Anak-anak ini tentu akan mengangah dan tidak memahami maksud ucapan guru dengan baik.

Di rumah, Donni hidup bersama dengan ibu dan bapaknya yang juga tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-harinya. Dengan kedatangam saya di kampungnya, saya dan Donni sama-sama belajar keras untuk saling mengerti maksud. Berkomunikasi dengan cara bernyanyi. Sebab dia cukup mudah terpancing dengan dua atau tiga petikan gitar. Mungkin dengan bernyanyi dia bisa bicara. Mungkin dengan menggambar dia bisa bicara. Bicara dengan bahasa Indonesia.

Meskipun dia tidak menghafal lagu-lagu yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Dia hanya mengikut akhiran kata saja. Lagu-lagu yang berhasil menetap di ingatan teman-temannya adalah warisan lagu-lagu yang pernah diajarkan oleh tentara perbatasan di sekolah minggu. Lagu-lagunya adalah lagu-lagu anak yang kental dengan aroma rohani dan puji Tuhan.

Pada suatu malam, ketika saya mengajak beberapa teman-temannya belajar berhitung dan menggambar, dia mencari alasan untuk menghindar dan tiduk ikut terlibat. Dia lebih tertarik bernyanyi dan untuk urusan gambar menggambar dia memilih tempat untuk menyendiri, menjauh dari mata teman-temannya.

Sejujurnya, hampir semua anak begitu tertarik dengan acara menggambar, apalagi bisa sampai mewarnai gambarnya. Jika diberi pilihan antara baca-tulis-hitung dengan menggambar atau bernyanyi, maka pilihan anak-anak hulu sungai ini akan jatuh pada menggambar. Mereka sanggup bernyanyi sambil menggambar. Tetapi mereka rasanya tidak terbiasa membagi pikirannya ketika perihal baca-tulis-hitung.

Olehnya kondisi itu, maka sangat perlu menentukan langkah strategis untuk menyelesaikan terlambatnya anak-anak di hulu sungai ini memahami banyak hal yang semestinya telah mereka bisa pahami. Di kampung Donni, tidak ada taman kanak-kanak atau yang sejenisnya. Sebab, begitu sulitnya menyerap dan membetahkan guru luar. Guru lokal memandang diri pesimis untuk bisa membangun sistem pendidikan yang handal, manakala akses transportasi dan komunikasi masih tertutup rapat seperti sekarang.

Namun, seorang putri kampung yang telah berhasil keluar dan menyelesaikan pendidikan SMK, bahkan sempat berkuliah dua semester di salah satu kampus swasta di Jogjakarta yang akhirnya pulang karena orang tuanya tak lagi mampu membiayai kuliahnya. Namanya Lena, dia telah berikhtiar dan menetapkan hati akan membimbing anak-anak di kampung hulu sungai ini.

Saya membuat kesepakatan dengan Lena untuk bersama menggagas ruang baca yang bernama Suara Sungai. Ruang baca inilah yang akan selanjutnya disempurnakan pada suatu waktu yang tepat untuk menjadi taman kanak-kanak yang resmi dan diakui pemerintah. Gagasan awalnya, berupa ruang baca bagi anak-anak untuk membolak-bolak balikkan buku bergambar. Tidak peduli, apakah anak-anak ini mampu membaca buku yang ada disana atau hanya sekedar melihat gambar. Di situ pulalah anak-anak ini akan mendapatkan suasana yang baik untuk menggambar cita-cita mereka. Memulainya dengan banyak hal, termasuk pembentukan karakter dan moral yang baik. Pelajaran yang masih sulit kita temukan di rumah-rumah mereka.

Mari segenap doa, daya, dan upaya untuk bersama menyatakan gagasan ini. Kita bisa mengawali dengan niat untuk membantu, lalu bisa bersinergi membangun ruang baca Suara Sungai ini. Membangkitkan gairah dan minat baca anak-anak hulu sungai.

Kepada siapa saja yang merasa terpatri dalam bathinnya untuk berbagi. Benda berupa buku bacaan dasar, majalah, poster edukatif, alat tulis menulis, crayon, dan yang selalu diinginkan oleh anak-anak adalah buku gambar. Sudi kiranya sedikit ataupun banyak boleh berkirim ke kami. Di alamatkan ke sini:

Ma’ruf M Nur (Pendamping PLTS Sumentobol)
Alamat, Rumah Pak Camat Lumbis Ogong, Desa Mansalong, Kec. Lumbis, Kab. Nunukan, Prov. Kalimantan Utara, Kode Pos 77457.

No hp:  082143105120 (iin arisandi)

Bila berbentuk donasi, bisa mengarah ke rekening BRI saya dengan nomor:

361501025485534 atas nama MA RUF M NUR

Selanjutnya, semoga semua doa dan upaya akan diijabah dan dimudahkan oleh Tuhan. Balasan yang setimpal pasti Tuhan telah janjikan. Donni, teman-teman, dan adik-adiknya selalu sabar untuk menanti mewujudnya Ruang Baca Suara Sungai.

Advertisements

4 Responses to “Menggagas Ruang Baca Suara Sungai di Batas Negeri”

  1. ku share kanda

  2. Indonesia kaya, kaya akan sumber daya alam begitupun sumber daya manusia, namun kekayaan ini belum bisa dimaksimalkan pemanfaatannya. Banyak tenaga pendidik yang menganggur dan tidak banyak pula siswa-siswi yang menganggur belajar karena tidak adanya pendidik, serta ada juga siswa yang menganggur bukan karena tidak ada pendidik, namun pendidik yang seharusnya mendidik tidak melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya mereka lakukan.

    mudah-mudahan kedepannya Donni dan ribuan Donni di Indonesia mendapatkan pendidikan dan fasilitas pendidikan yang selayaknya mereka dapatkan

    • Aamin. Betul sekali apa yang Dhila utarakan. Kita bisa memulai semuanya dengan niat dan ikhtiar. Belum terlambat untuk Donni menerima hak pendidikan yang dijanjikan Undang Undang Dasar 45.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s