Archive for December, 2015

Sekerat Rindu

Posted in Blogger Kampus, Komunitas Daeng Blogger, Sajak with tags , , , , , on December 25, 2015 by mr.f

image

Kepada rindu yang tidak ingin kutulis panjang-panjang, tapi tetap panjang-panjang. Aku bermaksud, semata ingin memantik api rindu. Yang kuyakini bahwa aku akan memahami perasaanku sendiri dengan cara menulis. Seumpamanya bathinku bergejolak menerima kenyataan, maka sangat bisa dengan menulis aku akan kembali ke gelombang yang sedikit lebih tenang, seolah ada urusan yang kuselesaikan dengan caraku sendiri.

Sejujurnya, aku tidak bermaksud mengumbar ini supaya banyak orang yang tahu. Tetapi aku bingung menentukan topik pembicaraanku sendiri. Sebab disini sepi sekali. Seringkali, kesepian kesepian seperti inilah yang mengundang aku untuk menuliskan sekerat dua kerat metafora yang kacau kepada angin yang meraba langit.

Langit yang separuh berbintang bintang redup dan sekelabat  kabut malam tipis yang menghiasi angkasa. Lalu, di separuh langit lainnya ada tanda tanda kalau air langit akan turun ke bumi, mencium dedaunan di gemunung sekitar sini. Sungguh sebuah malam yang menambah sepi. Tetapi tidak berarti aku menderita. Aku hanya sedikit merindukan seseorang yang kuinginkan mengada di depanku. Mungkin bisa menjadi teman berbincang yang tidak kaku seraya menikmati kopi. Seperi hal yang sudah biasa dilakukan bersamanya. Seperti itulah rindu menggali sumur kenangan.

Aku berada jauh di utara negeri. Dekat dekat ujung negeri. Namun sebagian perhatianku meratapi masa lalu yang belum selesai. Entah di sebuah titik yang mana masa lalu itu kini berdiam. Aku tidak semaksud ingin meragukan suatu komitmen yang sudah disimpul bersama. Sebuah keraguan akan melahirkan prasangka selanjutnya. Dan selalu wasangka itulah yang membuat sebuah simpul terurai. Disinilah rindu tepat hadir membunuh curiga.

Dengan menulis begini, beberapa bagian dari hal yang kuyakini menjadi semakin kuat.

Dan hujan betul-betul tumpah dari langit. Tergesa gesa seperti tidak ingin memberi ampun pada sebuah celah di udara. Suara hujan itu menderai atap, lalu tak ada yang bisa kudengar kecuali suara hatiku sendiri yang membatin bisu. Akan tetapi banyak sekali hal yang mampu kuingat selanjutnya di tengah gempuran hujan itu. Bukankah hujan yang terlalu deras juga pernah menjadi cerita seru yang tidak berhenti dipahami. Cerita tentang hujan di suatu senja yang segera berganti warna. Cerita seru itu bisa lebih mengangkat nostalgia daripada gerimis di awal musim berganti.

Ada hal yang aku cukupkan dengan hujan. Seperti menulis rindu ini. Rinduku menjadi jauh lebih cukup. Lalu, adapula yang aku takutkan pada hujan di akhir tahun begini. Seperti timbul tenggelamnya firasat yang tidak baik dalam benakku. Firasat kuat bahwa sebuah perpisahan akan diresmikan oleh nada nada hujan. Mungkin saja akan menyempurnakan akhir dari sebuah cerita rindu. Tetapi aku memilih optimis dan menenggelamkan ketakutan ke dasar samudera.

Seberapa cermatpun aku menanam rindu, bila memang tidak hendak berbuah maka akan percuma semua rasa saling percaya. Adakalanya sebuah optimisme mungkin akan berakhir dengan pilu. Dan sebuah rindu mustilah diselesaikan terlebih dulu. Dengan itu aku bisa perpuas diri menerima takdir rindu.

Sumentobol, di tanggal yang cantik 15-12-15

Advertisements

Mengenal Patriot Energi

Posted in Blogger Kampus, Komunitas Daeng Blogger, Petualangan with tags , , , on December 25, 2015 by mr.f

image

Perkenalkan, saya seorang patriot. Bukan patriot dari militer. Saya Patriot Energi Indonesia. Tugas saya menggerakkan energi tanah air. Terdengar begitu heroik, berciri seorang calon pahlawan. Tapi begitulah tugas yang saya tahu sampai lima bulan ke depan. Bila betul, saya bisa menggerakkan energi di tempat bertugas dan energi itu berkelanjutan, maka boleh jadi saya betul-betul akan mendapat gelar kehormatan patriot energi yang sejati.

Sebelum bertugas di daerah yang tertinggal energi listrik. Selama sebulan saya mendapat pembekalan dan internalisasi nilai patriotisme. Empat kompetensi dasar seorang patriot penggerak energi tanah air. Yang pertama kompetensi kejuangan, yang di dalamnya tertanam ketahanan fisik, kekuatan mental dan kebaikan moral. Kompetensi kedua seorang patriot energi adalah tentunya kompetensi keteknikan, yang bermuatan akan pengetahuan teknik, kemampuan rekayasa teknik, dan kemampuan transfer pengetahuan teknik.

Kompetensi yang ketiga adalah kompetensi pembangunan berbasis masyarakat. Kompetensi ketiga ini meliputi pengetahuan keberlanjutan, kemampuan seputar kemasyarakatan, dan kemampuan perberdayaan masyarakat. Kompetensi terakhir, sekaligus menjadi kunci kompetensi patriotisme adalah kompetensi keikhlasan. Kompetensi ini mencakup hal abstrak dan mahaluas, tapi ada beberapa poin penting yang harus dipahami seorang patriot energi dalam menjalankan tugasnya. Poin-poin itu seperti pemahaman tentang posisi diri dan tanggung jawab sosial, empati dan akal sehat, serta kemampuan egaliter atau demokratisasi.

Selama pembekalan dan internalisasi nilai patriotisme itu, jiwa saya memang telah mengalami pergolakan sepanjang hari. Meleburkan kebiasaan-kebiasaan individulisme bawaan dari kehidupan sebelumnya, bukanlah hal mudah. Tidak hanya sampai di pergolakan jiwa itu, integritas yang murni juga diuji. Integritas yang selama ini tak lebih dari integritas semu yang miskin kejujuran, kini harus menampakkan wajah sejatinya. Wajah integritas yang sebenar-benarnya tanpa kamuflase. Saya suka dengan semua metode pelatihan yang diterapkan selama pembekalan.

Di mulai dengan pertemuan bersama beberapa tokoh nasional. Diskusi dengan Bang Ricky Elson (pencipta mobil listrik Indonesia), dengan Pak Hendro Sangkoyo, Pak Menteri ESDM Sudirman Said dan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, dan masih banyak tokoh nasional lainnya yang kini tidak mampu saya tuliskan namanya, namun tentunya ilmu yang didiseminasikan kala itu masih membekas di ruang ingatan.

Lalu setelah bertatap dan bercakap dengan tokoh nasional di Jakarta, kami digiring ke daerah dingin bernama Dusun Buni Kasih. Saya tidak tahu persis letak administratif dusun ini. Selain karena kami berdelapan puluh diangkut dengan mobil tentara yang tertutup, serta smartphone juga tidak diperkenankan untuk dibawa pergi, saya juga asing dengan daerah-daerah baru di Jawa Barat itu. Tapi bisa saya ingat, dusun itu mungkin masih di daerah Subang. Sebab terakhir kali saya ingat, di Subang atau waktu itu ada perkebunan teh yang elok bernama Ciater. Sekitar tiga jam rasa-rasanya kami di dalam truk tentara itu, terus menanjak dan akhirnya memasuki daerah yang dingin dan sunyi. Sebelum memasuki Dusun Buni Kasih kami disajikan dengan pemandangan alam hijau yang indah. Saat itu, pertarungan fisik telah dimulaui. Semua orang masing-masing membawa carriernya yang tidak kurang beratnya 15 kilogram. Dan berjalanlah bagai kawanan semut yang panjang sepanjang kelok jalan di perkebunan teh itu. Paling tidak jarak sejak kami diturunkan dari truk hingga ke dusun mungkin 4 kilometer, dengan durasi perjalanan sekitar tiga jam.

Dusun Buni Kasih, dusun yang dingin, tetapi masyarakatnya sama sekali tidak dingin. Dusun ini menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Ah, hampir saya lupa, dusun ini adalah dusun terakhir bila seseorang hendak mendaki gunung gemunung di belakang dusun itu. Nampaknya tidak terlalu tinggi, itu juga yang membuat saya tidak terlalu penting untuk mengingat nama-nama gunung gemunung itu.

Kami melewatkan Hari Raya Idul Adha, atau Hari Kurban di dusun kecil ini. Semuanya menjadi sederhana, sebab sudah tentu dusun tanpa PLN ini adalah dusun yang sederhana pula. Jaringan provider apapun disini juga menjadi sederhana dan nyaris tidak ada. Orang dusun terkadang menyoalkan hal itu di antara pembicaraan kami berikutnya.

Hanya tiga hari di dusun asri ini, kami bertolak ke Ciwidey, pastilah kami berjalan lagi menggendong ransel keluar dusun selama kurang tiga jam. Ciwidey itu seingat saya sepaket dengan wisata alam Kawah Putih.

Nah, disinilah hari-hari pengujian kekuatan fisik itu berlangsung, dan masuk pula ujian ketahanan mental menghadapi alam bebas. Kami digembleng oleh Wanadri selama total enam hari, siapa anak gunung yang tidak kenal Wanadri? Betul-betul enam hari itu hari yang panjang dan melelahkan. Saat menjalani waktu itu, rasanya seperti ingin melipat jarum jam, mempercepat waktu. Tetapi bukan patriot namanya kalau tidak menyiapkan ruang lapang dalam hati untuk mengikhlaskan segala kejadian hari-hari itu. Dan satu lagi, saya tidak sendiri, kala itu saya telah menjadi kami, jadi berdiri sama tinggi duduk sama rata. Semua harus menikmati hari-hari pembekalan fisik itu. Yang bisa dirangkum dalam beberapa hari bersama Wanadri adalah bahwa kami harus terlatih berada di titik nadir, berada dalam segala keterbatasan fasilitas, survival di bumi ini. Semuanya memang bersama tapi kami harus bertanggung jawab atas diri dan kawan di samping kanan kiri. Dan tak kalah membekasnya adalah internalisasi nilai nasionalisme Indonesia, metodenya sederhana dengan menggunakan metode repetisi. Kegiatan atau ucapan yang diulang-ulang akan menimbulkan pembiasaan dan pendalaman hingga ke sukma. Saya tidak akan melupakan Indonesia yang diteriakkan setiap tiga langkah sekali, dan upacara-upacara penaikan dan penurunan bendera setiap harinya. Rupanya menjadi Patriot Energi pun harus memasukkan Indonesia yang sejati jauh ke dalam sanubari.

Hari bersama Wanadri usai bersama titik hujan di suatu upacara perpisahan di lokasi bernama Rancaopas. Sejujurnya saya tidak bisa mengatakan saat itu saya bergembira karena telah usai hari yang terasa panjang itu, tetapi sedikit dari diri saya masih tetap ingin menjalani pelatihan yang menguras energi itu. Sebab sungguh banyak pengalaman baru yang didapat selama berhari-hari di alam bebas. Tidak terhitung banyaknya ceritera yang terjalin di sepanjang hari-hari itu. Tetapi perpisahan adalah suatu keniscayaan dari sebuah pertemuan. Maka pembekalan tetap harus dilanjutkan di tempat dan dengan pendekatan yang pasti akan berbeda lagi.

Setelah perpisahan di Rancaopas, kami kembali ke Subang, tepatnya di Desa Panaruban, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya kami sempat ke Jakarta selama tiga hari untuk memulihkan diri, tetapi lebih tepatnya disebut mengecek diri. Sebab kami berdelapanpuluh melakukan medical check up di Rumah Sakit TNI Angkatan Darat di Jakarta. Barulah ketika usai MCU kami langsung diangkut lagi pakai truk tentara ke Subang, di desa Panaruban itu.

Panaruban juga begitu terkenang, banyak pertemuan terjadi di tempat ini. Banyak sekali fasilitator dari berbagai bidang keahlian, namun semuanya menyangkut kompetensi pemberdayaan masyarakat, kompetensi ketiga. Walaupun nanti ada pula beberapa kali materi tentang kompetensi kedua, kompetensi keteknikan.

Saya akan menyebut orang-orang berkapasitas di bidangnya yang berhasil saya ingat hingga dua bulan setelah pertemuan itu. Di Panaruban, kami bergaul dengan fasilitator hebat, saya sebut ada Kak David, Kak Mike, Kang Jalil, Kang Herri, Kak Kurnia, Kak Sintia, Kak Alvi, Kak Gabon, dan banyak lainnya yang belum sempat saya ingat lagi. Di Panaruban kami juga kedatangan beberapa pembicara, ada Pak Kuntoro, Mantan Menteri ESDM Orde Baru. Ada Ibu Sri Palupi konsen membela tanah rakyat dari serobot pertambangan. Kang Suroto yang masih muda tapi sudah bergelut aktif di dunia perkoperasian Indonesia, dan juga kami kedatangan kembali Pak Hendro Sangkoyo, atau Pak Yoyok yang di kemudian hari menjadi teman email-emailan saya yang panjang-panjang.

Selain itu ada orang-orang IBEKA, institusi yang didirikan oleh Ibu Tri Mumpuni dan Bapak Iskandar Kuntoadji. Fasilitator IBEKA adalah fasil kawakan yang sudah malangmelintang di dunia sosial pemberdayaan masyarakat, terutama pada aktivasi potensi energi terbarukan di tanah air. Sayangnya saya hanya mampu mengingat dua nama dari sekian banyak fasil di dua bulan sejak akhir pembekalan itu, yaitu Kang Gun Gun dan Kang Iwak.

Dua minggu kami bergelut dengan materi dan praktek pemberdayaan masyarakat di Panaruban. Lalu kami akhirnya melangsungkan upacara pelepasan Patriot Energi ke ujung-ujung negeri. Kami dilepas langsung oleh Menteri ESDM Pak Sudirman Said di sebuah malam bergantinya tanggal di puncak bukit bersama dengan penaikan bendera besar.

Bendera itu dikhtiarkan untuk dikibarkan terus dan akan diturunkan ketika para Patriot Energi usai melaksanakan tugasnya di ujung negeri, sekitar akhir Maret 2016 bila waktu-waktu itu tanpa halangan. Bila terus memikirkan penurunan bendera itu, maka bayangan yang pasti datang adalah bayangan pulang dan meninggalkan lokasi tugas. Saya belum ingin memikirkan upacara itu, sebab rasanya saya baru saja memulai misi Patriot Energi.

Ada hal yang paling penting dari semua perkenalan Patriot Energi ini. Saya tidak mungkin luput mengenalkan orang-orang pemrakarsa Patriot Energi ini. Meskipun sudah sempat saya mention namanya sebagai pendiri IBEKA di bagian atas, tapi saya mutlak menghaturkan banyak terima kasih atas inisiatif pasangan ini mendeklarasikan Patriot Energi untuk para insinyur-insinyur muda di Indonesia. Pasangan inilah yang bekerja siang malam, menyiapkan segala hal yang bertalian dengan misi Patriot Energi ini. Beginilah jalan takdir meniti dan mempertemukan manusia-manusia dari berbagai tempat dan pulau-pulau se Indonesia. Di samping pasangan Ibu Puni dan Pak Is, ada Kang Yan Yan orang kepercayaan pasangan itu yang bertindak lincah menyelesaikan urusan-urusan.

Bagian akhir dari tulisan ini, tentunya saya ingin menyebut dengan segala itikad baik kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang memberikan ruang faedah bagi insinyur-insinyur muda mendapati dirinya di tengah keterasingan dan perbedaan yang banyak. Terima kasih ESDM atas kesempatan yang diberikan kepada kami berdelapan puluh mengabdikan diri untuk negeri. Patriot Energi, Siap Membangun Bangsa!!!