Mengeja Kebetulan

image

Aku diajar oleh kebiasaan untuk tidak memandang remeh kebetulan. Kebetulan yang menjadikan keadaan sesaat begitu menyenangkan. Serupa tangan menggapai kejora. Lalu, manusia tak pernah puas dengan satu kebetulan. Diinginkannya bintang demi bintang, yang sebenarnya adalah kesemuan yang nyata.

Pun demikian dengam kebetulan yang pahit. Disegerakannya mencari obat penghapus yang manis. Dan tidak dipahaminya keadaan yang juga sementara. Seperti itulah, skenario Tuhan yang manusia terjemahkan sebagai kebetulan yang aneka rasa.

Masa depan yang hendak dan tidak kita rencanakan. Serta segala rupa kejadian di luar duga sangka. Seluruh hal yang tidak tertebak. Bahkan, bila manusia terbuka pada akalnya. Nafas yang saat ini berhembus, tak lebih dari kebetulan yang tidak dimengerti. Hingga pada terdapatnya pengetahuan di otak manusia serta terbesitnya nurani, juga adalah kebetulan yang ilahi.

Segala keadaan tak pernah berpisah dari akar yang menjadikannya dan tak pernah jauh dari hasil yang dikarenakannya. Hari ini dan yang lampau adalah sebab yang menjadikan akan datang. Sekarang dan setelahnya, adalah akibat dari kemarin yang mulai terlupa. Tambahkanlah rasa kebetulan dari ilahi. Supaya hati lapang menyaksikan yang hendak.

Sumentobol, Jumat, 06 November 2015

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s