Archive for November, 2015

Pegawai Negeri di Batas Negeri

Posted in features, Petualangan, Run Away with tags , , , , , , on November 16, 2015 by mr.f

image

Tidak banyak hidup yang bisa manusia rayakan. Dalam berbagai keadaan, manusia lebih suka menamainya ujian yang lalu diresponnya dengan gerutu dan rasa tidak pernah bersyukur. Seseorang yang selalu menampakkan keceriaannya merayakan hidup lalu kemudian selalu menyadari setiap geraknya adalah suatu cerminan keteladanan, maka dialah manusia yang kita sebut sebagai guru. Guru dalam hal apapun, guru yang mengajarkan bagaimana hidup harus dirayakan dengan syukur dan bahagia.

Mari saya perkenalkan satu guru kehidupan di tanah batas negeri ini.  Namanya Pak La Roi. Guru pegawai negeri di SD 003 Kelompok Desa Sumentobol, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sudah empat tahun menjadi guru di sekolah hulu sungai batas negeri. Angka empat tahun adalah angka sejarah bagi seorang guru luar yang mampu bertahan di pedalaman dan perbatasan negeri ini. Sungguh menjadi guru di sekolah tanah batas itu adalah ujian batin yang tidak kira-kira pilunya.

Bagaimana tidak, sekolah dasar tempat mengajar Pak La Roi itu mewadahi tujuh desa terdekat. Jauh teriosolir dari jaman. Hanya diakses dengan perahu longboat. Dari tujuh desa hulu sungai Kalimantan itu, hanya ada satu orang yang bergelar sarjana, gelar yang baru setahun ini ada bagi warga tujuh desa ini. Pak La Roi datang tidak semata menjadi guru di sekolah. Dia datang menjadi pelita di tengah gulitanya tujuh desa tanpa listrik ini.

Pak La Roi selalu menjadi cahaya bagi kegelapan berpikir masyarakat. Cahayanya tidak hanya meramba saat menjadi guru di kelas, namun cahaya itu menjalar ke seluruh ruang hidup masyarakat. Pak La Roi serupa seorang sarjana pendidikan yang semua bidang pengetahuan dikuasainya.

Sejujurnya, untuk hal yang filosofis seperti menjadi bahagia dengan apa adanya kesederhanaan dan keterbatasan, masyarakat hulu sungai ini sangat tidak perlu diajari.  Masyarakat sudah cukup mengerti apa itu hidup bahagia dengan alam, bahagia dengan gelap, bahagia tanpa listrik, bahagia dengan berburu, bahagia dengan masuk hutan mencari kayu gaharu berbulan-bulan. Orang-orang di hulu batas negeri ini cukup mengerti kalau sarjana adalah orang berpendidikan tinggi yang mengecap aroma pengetahuan teknologi dan kemutakhiran dunia.

Suatu ketika  Pak La Roi pernah membicarakan perihal keinginannya untuk pindah lokasi ke daerah yang lebih nyaman dari segi fasilitas. Namun tak ada seorang pun di desa yang mendukung rencana itu. Mereka mengkhawatirkan keberlangsungan sekolah dan nasib anak-anak mereka yang hanya diajar sekadarnya. Bahkan mereka rela berkorban untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan Pak La Roi agar Pak La Roi tetap berada di desa mengajar anak-anak mereka.

Dalam tugasnya, Pak La Roi memang pulang menemui istri dan anaknya di pulau yang lain. Waktu tempuh untuk melakukan pertemuan itu butuh berhari-hari untuk sampai. Maka, kepulangan dan perjumpaan Pak La Roi dengan keluarganya hanya dilakukan paling banyak dua kali setahun. Saat libur panjang sekolah, atau saat lebaran hari raya.

Pak La Roi tidak pernah tega membiarkan murid-muridnya terluntah dan hanya bermain di siring sungai. Pak La Roi benar-benar telah menjadi kunci bagi kehidupan masyarakat hulu sungai dan sekaligus menjadi rumah bagi murid-muridnya. Maka pegawai negeri seperti Pak La Roi adalah senyata-nyatanya pahlawan pendidikan di tanah batas negeri ini.

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”

Doa Besar Seorang Anak Kecil

Posted in Having Fun, Petualangan, Sajak with tags , , , , on November 16, 2015 by mr.f

image

Saat gelap datang, aku seorang anak kecil mencari cari Tuhanku.

Oh Tuhan, dimana cahaya itu?
Sungguh malam ini aku butuh cahaya.
Aku ingin belajar membaca dari Ibuku.
Juga tugas dari sekolah harus kukerja sebelum mentari pagi mengejarku ke sekolah.

Oh Tuhan…
Sampai kapan aku melihat gelap?
Aku ingin belajar menggambar dari Ibuku.
Aku ingin menjadi anak yang pandai.
Aku ingin menjadi anak yang rajin.

Oh Tuhanku…
Sampai kapan desaku gelap begini.
Ibu dan Bapakku tak sanggup beli generator.
Juga tak sanggup membeli minyak tanah setiap hari.
Harga-harga di desaku terlalu mahal kalau hanya untuk belajar.

Oh Tuhan…
Aku inhin rumah dan desaku menjadi terang.
Cukup cahaya itu, ya Tuhan, maka aku berjanji akan menjadi anak yang rajin belajar setiap malam.

Oh Tuhan…
Jika doaku terlalu besar, maka semua cita-citaku pasti akan lebih kecil dari doaku ini.
Aku memang masih kecil untuk doa sebesar ini.
Tapi aku yakin, Tuhan pasti mengabulkannya.

Sumentobol, 27 Oktober 2015