Di Antara Mereka

Di Antara Mereka

Saya selalu punya kawan yang akrab dalam berbagai lingkar pergaulan. Sejak masih sekolah dasar, saat mulai mengenal emosi dan marah, saya telah punya kawan pelarian dan bolos sekolah untuk pergi mencari durian “orang” yang jatuh. Di hukum bersama, di jemur di lapangan upacara. Kawan yang selalu mau diajak ribut dan gaduh di kelas. Kawan yang punya peduli dengan tulus dan belum memahami individualism.

Di tingkat sekolah lainnya, saya berkawan akrab dengan beberapa orang dari berbagai desa berbeda. Kawan bersepeda ke sekolah, pulang dan pergi saling menunggu. Makan di kantin berbagi nasi. Bersaing meraih peringkat di kelas. Bersama ikut-ikutan les bahasa inggris, walaupun tak ada yang bisa di pahami. Mandi telanjang di sungai yang dilewati saat pulang sekolah. Dengan semua itu, saya belum berani mengatakan kalau saya dan beberapa kawan telah saling memahami. Kekonyolan bersama yang saya lakukan adalah kekonyolan yang akan dilakukan oleh semua orang saat keadaan memang mengizinkan untuk berbuat konyol.

Saat berseragam abu-abu, yang kejadiannya telah lampau sepuluh tahunan yang lalu, hingga sekarang kawan akrab di masa itu masih berstatus sahabat. Seingat saya, hanya tersisa saya seorang yang belum berani menerapkan teori percintaan yang dirangkum saat ada kegiatan malam mingguan di sekolah bertajuk Mabit “Malam Bina Iman dan Taqwa”. Tema pembicaraan di bangku sekolah saat jeda jam belajar memang lebih hidup dengan melibatkan nama-nama perempuan yang telah diujicobakan teori pendekatan emosional sebelum memacarinya.

Di tingkat yang lebih dewasa, ketika orang masing-masing ribut mengeja cita-citanya. Masa kuliah tidak hanya menjadi masa menuntut ilmu atau menerapkan teori percintaan yang lebih kompetitif dibanding saat masih bersekolah. Kuliah lebih menjadi seperti kertas putih tanpa bercak. Saya memberi warna yang banyak sekali. Di saat berkuliahlah saya bergaul tidak hanya dengan satu lingkar persahabatan.

Saya punya banyak teman kelas yang sangat solid. Pada masanya. Teman hedon dan menghabiskan waktu sisa kuliah, hingga kembali bertemu pagi keesokannya.Teman bepergian yang addict. Teman hura-hura di studio music, sampai simbal drum berhasil pecah-pecah karena emosi yang meledak melebihi dentuman bas. Teman yang suka berpura-pura serius di kelas saat ada tugas kuliah. Selama kurang lebih lima tahun, hampir semua soliditas itu menguap kembali terpapar oleh urusan yang lebih kini. Hanya tersisa sedikit saja kedekatan. Waktu adalah musuh yang nyata dalam perkara kenangan. Kalau bukan karena semakin canggihnya teknologi yang mendukung kekalnya pertemanan, maka mungkin ingatan saya tentang sahabat di lingkar kelas kuliah telah sirna tergerus jaman.

Di lingkar pertemanan lainnya, kehidupan kos-kosan di kota ternyata memberi ruang kita untuk berbaur dan mengenal lebih banyak suku. Percakapannya mungkin tidak tiap hari, tapi saat tak ada teman kuliah, aktivitas bersendagurau sesama penghuni kos bisa menjadi meningkat. Taraf kebaikan tetangga kos berbeda-beda, tak ada yang bisa dirangking dengan soliditas atau solidaritas. Satu-satunya hal yang bisa saya sebut adalah hanya kebaikan. Mereka semua teman kos yang baik. Baik untuk saya, dan semoga perbuatan meraka juga baik untuk mereka. Saya mulai lupa dengan banyak kebaikan mereka, meski lingkar pertemanan dengan mereka belum berlalu lama. Juga komunikasi dengan mereka, sekarang saya tak tahu bagaimana dan dari mana saya harus menyambung atau memulai.

Saat mahasiswa, bila ada angka yang menggenapkan kesempurnaan, maka organisasilah angka itu. Salah satu hal yang ingin saya bicarakan disini tentu hanya seputar garis singgungnya dengan pertemanan. Saya tidak ingin mengkhianati kebersamaan saat berada di payung organisasi dengan enteng menganggap bahwa semua itu terjadi karena pragmatism pertemanan. Sangat tidak etis menghitung untung dan rugi dalam urusan pertemanan. Apalagi dalam sebuah frame yang secara real berjuang bersama mencapai visi organisasi.

Namun sekali lagi, ingatan boleh diasah, sayangnya waktu menganjurkan kita untuk lupa. Kita boleh kuat mengingat, tapi dalam perihal merawat, kenangan tak mungkin lagi sedahsyat rasanya yang dahulu saat berbalut rasa bersama. Saya punya beberapa lingkaran pertemanan organisasi yang terkorelasi dengan wujud keberadaan saya berstatus mahasiswa.

Di organisasi tingkat jurusan, cukup lama saya mengekor dan mulai mengakar saat angka semester telah mencapai dua digit. Beberapa orang adik junior yang kali ini saya sebut sebagai teman akrab, tidak begitu sulit memvisualkannya. Di antara banyak orang yang bergabung dalam sebuah organisasi, tak ada motivasi yang lebih jernih selain keinginan belajar dan menyerap banyak cerita dan memperkaya jiwa. Bukan hanya ingin mengejar dialektika kata-kata yang berujung wacana hampa.

Lalu ada satu organisasi yang begitu dalam menancap ke rongga ingatan. Rasa-rasanya, tidak hanya sekadar menjadi ingatan, tapi justru menjelma menjadi masa depan. Bertahun-tahun saya hidup dalam satu atap, bahkan bantal dan piring makan, maka bila ada kemungkinan yang mustahil, maka kemungkinan untuk melupakan organisasi ini adalah kemustahilan.

Bahkan hingga saat ini, saat saya telah menjadi alumni sejak dua tahun lebih yang dahulu. Maka, jerat tali dan keterikatannya masih mempunyai rasa, walaupun jelas sekali sudah ada niat untuk menjauh dan menarik diri secara teknis.

Saya di antara mereka, adalah satu titik yang membentuk sebuah garis lingkar persaudaraan. Tidak peduli apakah saya adalah sebuah titik kecil yang terjepit atau bahkan menjadi titik besar yang menonjol dalam sebuah garis. Walaupun saya sangat menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa setiap hal yang diawali di dunia ini, maka mutlak akan ada akhir yang memutuskannya. Soal keabadian dalam pertemanan tidak mungkin lepas dari soal waktu yang menjadi dimensinya. Semua orang akan sepakat, bahwa di antara kami, kepergiaan dan kehilangan tinggal menghitung hari. Satu persatu sahabat menjauh, ada yang melangkah, berlari, melompat, atau bahkan ada yang terbang ke tempat setinggi bintang. Inilah hukum alam yang sangat nampak, ditambah selera melankolis kita yang membantu untuk mengakui sebuah kenyataan.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu di antara meraka, menggaris waktu tidak lebih dari dua tahun yang akan datang, sudah tidak ada keadaan yang semacam gambar di atas. Lalu saya memepetkannya, menggaris lebih dekat, tidak cukup setahun mendatang, saudara-saudara saya yang di atas itu akan mengalami pemisahan yang begitu jauh. Faktor usia menopang teori saya. Hampir semua saudara saya yang di atas, tidak lagi berada di wajah remaja. Pembicaraan nikah dan berkeluarga akhir-akhir ini mutlak akan segera dirasakan. Bantu saya mengaminkan perkataan saya sebelum kalimat ini.

Inilah lingkaran persaudaraan saya yang paling terakhir saat saya menulis cerita ini. Berada di antara mereka, dengan apa dan siapa saya yang paling murni dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena, mereka juga berada di antara saya dengan apa adanya saya yang paling asli.

“Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dialah ladang hatimu yang dengan kasih kau taburi, dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kau menghampirinya di kala gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan, kecuali saling memperkaya jiwa.” –Kahlil Gibran

Advertisements

2 Responses to “Di Antara Mereka”

  1. Wew, nice post..jdi pengen kopdar sama tmen angkatan–yg sekarang tersebar rata di kota2 indonesia.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: