Archive for August, 2015

Semacam Harapan

Posted in Blogger Kampus, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Sajak with tags , , , on August 29, 2015 by mr.f

semacam harapan

Catatan kedua penghujung Agustus yang menggantung gantung. Aku sibuk membaca siapa yang akan aku temui di bulan depannya. Bulan yang tahunnya lebih dulu menekan daripada kehangatan hari-harinya. Sesungguhnya aku harus waspada pada banyak ucapan yang muntah di hari hari setelah ini.

Aku tahu, hatiku jauh lebih dulu mendengar daripada kupingku yang dua. Aku menulis sajak bukan semata karena aku sekarat melawan kesepian. Sajak adalah perlawanan atas terbenamnya perasaan. Sebaliknya, aku ingin menerbitkan doa dalam balut metafora yang absurd.

Maafkan aku, aku belum selihai pujangga yang lincah. Hatiku dan jemariku tidak mampu merespon kehadiran banyak perkara menjadi aksara. Karena senyumku selalu cukup hanya dengan menerawang makna sebuah isyarat.

Bagiku, tidak ada sekali lagi yang memuaskan. Aku tidak mengambil kesempatan setelah sekali yang diberi. Kusadari, aku bukanlah penggemar pantangan, tapi aku sebegitu menghormati perasaanku sendiri.

Tidak ada prinsip yang baku untuk mengeja perasaan. Selalu muncul klise pada logika yang dilumpuhkan. Perasaan yang datang terlalu cepat atau kesadaran yang datang tidak tepat.

Barisan kata ini, mungkin jauh dari rupa sajak. Aku ingin menamainya pada apa saja yang aku pikirkan sebelum Agustus berganti menjadi bulan kelahiranku. Semacam harapan yang ingin disambung oleh ucapan dari siapa saja yang gemar mengirim hadiah yang sederhana.

Sanrobone-Takalar, 27 Agustus 2015

Gambar; www.deviantart.com

Advertisements

Yang Belum Kumiliki

Posted in Blogger Kampus, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger with tags , , , on August 29, 2015 by mr.f

yang belum kumiliki

Aku ingin pulang sebelum ada yang ingin mengantarku meninggalkan kehadiran. Yang belum kumiliki adalah keinginan untuk tidak meninggalkanmu. Sampai jauh aku harus menemukan diriku yang paling salah dan bisa mengalasankan sebuah kesengsaraan yang sebenarnya pernah kualami.

Saat yang paling tidak hendak aku bicarakan dengan batinku yang tidak peduli bersama siapa jiwanya berada. Aku tidak ingin lepas dari keinginan menginginkanmu.

Kau tahu, aku tidak merasa pergi sama sekali, sekalipun aku kau tinggal sendiri. Aku selalu menjumpai kepulangan dimana saja saat aku memikirkanmu. Sesederhana itulah kecukupanku atas dirimu. Kebahagiaan yang hanya dipahami oleh hati yang meninggikan harapan atas masa yang akan.

Siapa saja tentu berhak mengangankan kejadian terbaik dalam pengalamannya. Tapi atas dirimu, hanya aku yang paling ingin meniadakan ketakutan pada masa depanmu.

Aku seegois itu membicarakanmu pada maha semesta yang langitnya gelap namun bintangnya selalu lebih kuhitung jari. Sekali kurasa aku berada pada sebuah kehadiran, maka aku secepatnya ingin pulang menemuimu melengkapi bintang.

Kepada siapa saja kamu pada masa depan yang tidak kumiliki saat sekarang. Aku juga selalu siap menjadi tempatmu pulang, pun dalam kehadiranmu yang paling terlambat.

Sanrobone-Takalar, 26 Agustus 2015

 

Gambar; www.kompasiana.com