Anggap Saja Ini Alasan

sanrobone-takalar

Dua postingan sebelum ini adalah satu cara menghargai imajinasi saya. Jelas sekali itu terlihat kacau dan tidak dewasa. Tapi setidaknya saya tidak menggugurkannya. Bagi saya, menulis itu memang punya alasan. Bila saya membacanya ulang, maka saya merasa ingin berhenti melakukan hal seperti ini lagi. Namun, rupa-rupanya belum saatnya saya memalingkan muka dari urusan blog ini. Pasti akan tiba masanya, saya menjadi tidak lagi seperti sekarang.

Untuk dua postingan itu, saya abai pada persepsi. Walau dalam jangkau kenarsisan yang berlebihan, saya menduga akan ada yang bisa saja merasa menjadi “kamu” yang saya samarkan. Yang justru itu, saya tidak tahu siapa. Mungkin akan jenaka, bila seseorang merasa berhak untuk membuat postingan balasan, entah di mana. Boleh saja, menulis di dasar hati.

Persoalan hati yang digeser menjadi bahan literasi memang akan potensi menimbulkan multitafsir. Saya sendiri beberapa kali terkecoh dengan postingan orang lain. Inisial dan identitas yang tidak jelas, adalah kamuflase yang rawan disalah baca. Di sekitar kita, ada banyak hal yang direspon dengan tingkat kepekaan yang tinggi. Adapula yang justru sering sengaja tak diberi reaksi. Bila menulis adalah apa yang terlintas di pikiran, maka jangan lagi ada penulis yang mengklaim fakta sebagai kenyataan.

Pikiran kita sangat sering sibuk mengindera hal hal yang justru tidak nyata. Sedangkan fakta adalah pengalaman inderawi. Bagi saya, menulis juga perlu mengabaikan faktor persepsi para pembenci. Terlalu banyak orang di luar sana yang senang sibuk membahas keburukan orang lain. Anggap saja, pembaca kita adalah semuanya orang-orang yang mendukung dan menghargai aktivitas literasi. Sehingga, kita bisa sambil bersenang-senang sendiri membayangkan orang-orang “pendukung karir” kita ikut pula merasa senang.

Anggap saja, postingan ini sebagai apologi atas ketidakdewasaan saya menghargai waktu dan memaknai sebuah masa. Setelah menulis, memang semestinya makna bukan lagi urusan kita. Apa yang telah kita sebar, telah menjadi kepemilikan dunia. Inilah periode waktu yang sedikit lagi kita betul-betul menjadi seorang sosialis sekaligus individualis sejati.

Makassar, 30 Agustus 2015

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: