Semacam Harapan

semacam harapan

Catatan kedua penghujung Agustus yang menggantung gantung. Aku sibuk membaca siapa yang akan aku temui di bulan depannya. Bulan yang tahunnya lebih dulu menekan daripada kehangatan hari-harinya. Sesungguhnya aku harus waspada pada banyak ucapan yang muntah di hari hari setelah ini.

Aku tahu, hatiku jauh lebih dulu mendengar daripada kupingku yang dua. Aku menulis sajak bukan semata karena aku sekarat melawan kesepian. Sajak adalah perlawanan atas terbenamnya perasaan. Sebaliknya, aku ingin menerbitkan doa dalam balut metafora yang absurd.

Maafkan aku, aku belum selihai pujangga yang lincah. Hatiku dan jemariku tidak mampu merespon kehadiran banyak perkara menjadi aksara. Karena senyumku selalu cukup hanya dengan menerawang makna sebuah isyarat.

Bagiku, tidak ada sekali lagi yang memuaskan. Aku tidak mengambil kesempatan setelah sekali yang diberi. Kusadari, aku bukanlah penggemar pantangan, tapi aku sebegitu menghormati perasaanku sendiri.

Tidak ada prinsip yang baku untuk mengeja perasaan. Selalu muncul klise pada logika yang dilumpuhkan. Perasaan yang datang terlalu cepat atau kesadaran yang datang tidak tepat.

Barisan kata ini, mungkin jauh dari rupa sajak. Aku ingin menamainya pada apa saja yang aku pikirkan sebelum Agustus berganti menjadi bulan kelahiranku. Semacam harapan yang ingin disambung oleh ucapan dari siapa saja yang gemar mengirim hadiah yang sederhana.

Sanrobone-Takalar, 27 Agustus 2015

Gambar; www.deviantart.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: