Fenomena Snobisme

snobisme

Semakin saya membaca buku berbau sastra, entah kenapa saya justru semakin menemui kesulitan menulis. Padahal, teori menulis yang saya peluk erat adalah “bila kamu merasa kesulitan dalam menulis, maka kembalilah menghitung buku yang telah kamu baca”. Sebenarnya, memang belum terlalu banyak buku yang saya khatamkan di dua caturwulan tahun ini. Tapi angkanya bisa bertambah jika menghitung semua naskah cerita pendek yang saya tuntaskan lewat gawai.

Ada betulnya kata para pakar, sekarang para penulis pemula lebih dulu menjadi sastrawan daripada menjadi manusia. Ini sindiran yang tidak berlebihan, ketika membaca analisa ini, saya menyelam ke dasar naluri menulis saya yang amat dangkal. Gejala nyang paling nyata dari keadaan masa kini adalah fenomena snobisme. Praktis dan instannya orang-orang mengaktualisasi diri di khalayak dunia maya memungkinkan orang-orang terjangkit fenomena snobisme.

Apa itu snobisme? awalnya terminologi ini saya temui di buku Gempa Literasi yang ditulis berdua oleh Gol A Gong dan Agus M. Irkham. Lalu saya reduksi dan mebuat definisi sendiri yang kurang lebih senada dengan istilah kekinian yakni pamer atau pencitraan. Fenomena ini merembes ke ranah sastra, atau lebih tepatnya ke wilayah literasi. Jika kamu pernah melihat teman-temanmu selalu membawa buku tebal yang tak pernah habis dibacanya, maka seperti itulah salah satu gejalanya.

Buku-buku hanya menjadi pelengkap dalam keperluan fotografi instan. Kutipan-kutipan sastrawi beredar tanpa nama. Orang-orang semakin apatis dan tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dipublikasikannya. Keadaan di atas, tidak lantas mendeskreditkan teman-teman kita yang memang punya selera dan gaya literasi seperti di atas. Tidak juga membuat kita harus selalu suudzon pada karakter seperti di atas.

Membahas fenomena ini, tidak mengesankan saya terlepas dari jerat snobisme. Begitulah selalu virus kekinian. Seperti orang yang mengecam pedasnya bumbu merica, namun sebenarnya sedang menikmatinya.

Mari kita lihat sekeliling. Seberapa banyak teman yang betul-betul memaknai sebuah karya sebelum mereka memamerkannya. Berapa banyak buku yang dibaca sebelum menjadi pengutip handal di tiap status-status media sosialnya.

Ada juga gejala yang berkebalikan dengan gejala snobisme, untuk hal ini saya belum punya terminology yang tepat. Beberapa orang terdekat saya, sangat rajin membaca, mungkin jumlah buku yang dibaca bisa dua kali lebih banyak dari buku yang saya baca. Tapi saya jarang sekali menemukan tulisan yang dibuatnya. Miliaran kata-kata yang dilahapnya terpenjara di dalam otak. Saya selalu menunggu, suatu saat akan ada karya yang menjadi letusan dari tampungan semua karya yang dibacanya. Harapan ini, tidak lepas dari teori literasi yang katakan di atas, seorang penulis hebat diawali dari seorang pembaca yang hebat. Dan sangat nihil kemungkinan seorang dianugerahi kemampuan menulis tanpa diberikan selera membaca yang tinggi.

Makassar, 23 Agustus 2015

 

 

2 Tanggapan to “Fenomena Snobisme”

  1. Kata AS. Laksana di opini Ruang Putih Jawa Pos, banyak membaca tapi tidak menulis, mungkin tergolong orang yang pelit.

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: