Prompt

 prompt

Telah sebulan lebih absen mengisi blog. Saya merasa seperti berada di percabangan yang banyak, dan di situ saya melihat salah satu cabang kecil adalah menulis di blog ini. Terlalu banyak alasan untuk tidak menulis dan begitu juga terlalu banyak cara untuk menulis. Saya punya satu alasan yang paling emosional, saya tidak punya pemicu untuk tulisan saya.

Sejujurnya, dalam kesepian yang akut saya menjadi begitu narsis menyangka bahwa saya punya barisan pembaca blog ini. Saya tidak bisa memastikan pengakuan ini, tapi saya bisa merasakan hal-hal yang serupa mata pembaca yang mengintai tulisan terbaru saya. Sekali lagi, ini hanya sejenis firasat yang semestinya justru bisa menjadi prompt.

Dulu, beberapa waktu yang lampau, saya bersama seseorang yang saya klaim sebagai perempuan pembaca. Dengan dia, saya berbalas tulisan yang tidak saling sambung. Waktu berlalu, dan bersama dengan banyak cerita yang tertumpah, tanah kenyataan menguburnya. Begitu selalu perihal pertalian emosi, hangat dan sementara. Setelah kata maaf diuraikan, segalanya harus kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal banyak cerita berakhir –bersambung.

Ah, saya tetiba terlintas ingin mengabarkan ke-vakum-an saya di beberapa sosial media. Mungkin telah sampai masanya, saya menjadi berbeda memandang urgensi aktivitas di media sosial. Dan belum lama juga, saya menghapus 300-an gambar di akun instagram saya. Saya seperti terdesak untuk bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lain dari diri saya sebelumnya. Perasaan seperti ini, sebenarnya sering saya alami, tapi dampak yang diberikan selalu berbeda.

Analisa saya seperti ini, pesan-pesan agama terdoktrin ke ruang imajinasi. Begitulah adanya selepas perayaan puasa Ramadhan, seseorang musti berniat menjadi lebih baik atas diri sebelumnya. Lalu, diikuti langkah kecil dalam perbuatan yang semoga berantai terus menerus. Perubahan tidak selalu harus dramatis karena sebuah insiden spiritual yang menyebabkan titik balik pemikiran.

Kejadian menulis tidak sistematis seperti saat ini, adalah satu gejala nyata bahwa saya betul-betul berada di percabangan pemikiran yang semrawut. Selain itu,  nampak jelas prokraktinasi mengacaukan banyak sekali keinginan saya. Sampai saya harus pulang dari Café Black Box ini, dengan membawa percakapan singkat sang barista, “jomblo akut-ki juga dih?, malam minggu nongkrong sendiri di café.”

Gambar; www.liputan6.com

 

Advertisements

4 Responses to “Prompt”

  1. hahaha.. mblo mblo…..

  2. Entah kenapa, orang yang datang seorang diri ke café diidentikkan jomblo akut. Padahal, tidak selalu.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: