Archive for August, 2015

Buku-Buku yang Akan Saya Baca

Posted in Blogger Kampus, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger with tags , , , on August 31, 2015 by mr.f

pramoedya

Sehari sebelum September, saya merencanakan beberapa hal yang mungkin. Mungkin bisa saya lakukan sejak September ini. Di antara banyak hal yang berkelabat di kepala saya itu, yang ingin saya bagi lewat postingan ini hanya tentang buku-buku yang akan saya baca.

Sebenarnya, tentang buku-buku, saya punya target lain beberapa bulan lalu yang belum tuntas. Saya ingin membaca 1000 cerpen sebelum tahun 2016. Rasanya, saya lebih sering lupa dengan target itu dibanding melakukannya. Target itu saya lempar ke langit kira-kira empat bulan yang lalu dan anggap saja saya telah menunaikannya dua puluh persen. Cerpen-cerpen yang saya baca itu juga lebih banyak tidak berbentuk buku melainkan bundelan hasil print sendiri yang saya temukan melalui penelusuran di google.

Saya belum menyerah dengan target membaca cerpen itu. Walau terlihat terlalu banyak untuk orang semalas saya, dengan sisa empat bulan lagi rasanya saya bisa melakukannya. Itu artinya saya musti membaca paling tidak 200 cerpen perbulan. Masih dalam angka yang wajar. Jika buku-buku kumpulan cerpen rata-rata memuat 12 sampai 20 cerita, maka saya musti membaca sekitar 15 buku kumcer perbulan.

Saya telah mengantongi beberapa nama penulis cerpen yang jadi incaran, Seno Gumira Aji Darma, Agus Noor, AA Navis, Jenar Mahesa Ayu, Eka Kurniawan, dan lain-lainnya, sedang incaran yang paling nyata semua buku M Aan Mansyur, termasuk buku puisinya Melihat Api Bekerja.

Pengalaman saya, saya cenderung menunggu rekomendasi judul buku atau sekaligus nama penulis yang disebut oleh penulis andalan saya. Misalnya, M Aan Mansyur, merasa iri dengan aktivitas membaca Eka Kurniawan, lalu Eka Kurniawan mencantol nama-nama penulis dunia di Jurnal-nya. Begitu seterusnya.

Selain tidak melupakan target membaca cerpen itu. Saya juga tidak boleh seenaknya menelantarkan beberapa buku yang telah saya beli tahun 2015 dan belum selesai dibaca. Angkanya memang tidak terlalu banyak, di paragraf selanjutnya akan saya tulis beberapa judul yang rasanya layak untuk saya habisi tahun ini.

Tahun ini saya membeli dua buku Prof . Rhenald Kasali, Self Driving dan satunya sebenarnya bukan tulisan professor, melainkan oleh mahasiswa-mahasiswanya yang berjudul 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor. Kedua buku di atas belum tuntas, walaupun isinya sangat inspiratif dan menggugah selera perubahan.

Ada juga buku pemberian dari sahabat “Bung Ilham”, sebuah novel biografi Buya Hamka berjudul Tadarus Cinta Buya Pujangga ditulis oleh Akmal Nasery Basral, penulis yang sama untuk buku “Sang Pencerah”, novel biografi KH. Ahmad Dahlan, pendiri ormas Muhammadiyah. Juga belum tuntas, walaupun saya telah meletakkannya tepat di atas kepala saya setiap malam sebelum tidur. Kenyataan ini adalah menyakitkan untuk seorang blogger. Hahay.

Sembilan buku Pramoedya Ananta Toer juga masih sebatas koleksi yang belum dikhatamkan, termasuk Tetralogi Buru yang baru selesai di sequel pertama, Bumi Manusia. Beberapa buku mahakarya memang sengaja tidak saya baca dalam durasi yang singkat. Apologi ini sekaligus ingin mengesankan bahwa saya sebetulnya adalah pemerhati literasi yang keliru.

Dua buku Prof. Kamaruddin Hidayat yang berisi petuah-petuah kehidupan beragama. Toleran dan pluralistic. Membangun kebijaksanaan dalam berpikir dan mengelola perbedaan. Satu judulnya Wisdom of Life dan satunya Ungkapan Hikmah, dibeli di saat bersamaan, tapi sampai sekarang juga sama-sama belum habis terbaca.

Buku terakhir yang baru saja datang dari jauh, Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy. Buku yang semaksud dengan hadiah ulang tahun dan tentunya lebih dari sebuah doa. Terima kasih. Kata sang pemberi hadiah, novel ini jangan dibaca sekaligus, perlahan, mungkin maksudnya supaya pemberian ini lebih berasa.

Buku-buku di atas adalah buku-buku dengan prioritas lebih dari buku yang tersisa tahun lalu. Akan dibaca dengan kesempatan yang sama untuk melunasi target cerpen 2015. Bulan-bulan penghujung tahun ini pasti akan dipadati oleh rantai kata-kata. Semoga tuntas!

Makassar, 31 Agustus 2015

Gambar; ekonomi.frontroll.com

Advertisements

Anggap Saja Ini Alasan

Posted in Blogger Kampus, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Opini with tags , , , on August 30, 2015 by mr.f

sanrobone-takalar

Dua postingan sebelum ini adalah satu cara menghargai imajinasi saya. Jelas sekali itu terlihat kacau dan tidak dewasa. Tapi setidaknya saya tidak menggugurkannya. Bagi saya, menulis itu memang punya alasan. Bila saya membacanya ulang, maka saya merasa ingin berhenti melakukan hal seperti ini lagi. Namun, rupa-rupanya belum saatnya saya memalingkan muka dari urusan blog ini. Pasti akan tiba masanya, saya menjadi tidak lagi seperti sekarang.

Untuk dua postingan itu, saya abai pada persepsi. Walau dalam jangkau kenarsisan yang berlebihan, saya menduga akan ada yang bisa saja merasa menjadi “kamu” yang saya samarkan. Yang justru itu, saya tidak tahu siapa. Mungkin akan jenaka, bila seseorang merasa berhak untuk membuat postingan balasan, entah di mana. Boleh saja, menulis di dasar hati.

Persoalan hati yang digeser menjadi bahan literasi memang akan potensi menimbulkan multitafsir. Saya sendiri beberapa kali terkecoh dengan postingan orang lain. Inisial dan identitas yang tidak jelas, adalah kamuflase yang rawan disalah baca. Di sekitar kita, ada banyak hal yang direspon dengan tingkat kepekaan yang tinggi. Adapula yang justru sering sengaja tak diberi reaksi. Bila menulis adalah apa yang terlintas di pikiran, maka jangan lagi ada penulis yang mengklaim fakta sebagai kenyataan.

Pikiran kita sangat sering sibuk mengindera hal hal yang justru tidak nyata. Sedangkan fakta adalah pengalaman inderawi. Bagi saya, menulis juga perlu mengabaikan faktor persepsi para pembenci. Terlalu banyak orang di luar sana yang senang sibuk membahas keburukan orang lain. Anggap saja, pembaca kita adalah semuanya orang-orang yang mendukung dan menghargai aktivitas literasi. Sehingga, kita bisa sambil bersenang-senang sendiri membayangkan orang-orang “pendukung karir” kita ikut pula merasa senang.

Anggap saja, postingan ini sebagai apologi atas ketidakdewasaan saya menghargai waktu dan memaknai sebuah masa. Setelah menulis, memang semestinya makna bukan lagi urusan kita. Apa yang telah kita sebar, telah menjadi kepemilikan dunia. Inilah periode waktu yang sedikit lagi kita betul-betul menjadi seorang sosialis sekaligus individualis sejati.

Makassar, 30 Agustus 2015