Respon

bulan ramadhan

Selamat sore,

Saya mendapat respon yang cepat dari teman korespondensi saya soal surat balasan yang menjawab tiga pertanyaannya. Kali ini surat saya tidak direspon lewat postingan blog. Tapi lewat email yang panjang. Nada korespondensi kami memang serupa curhat.

Akhirnya saya juga mendapat komentar yang lebih objektif tentang cara saya menulis. Saya senang berada di bulan Juli Ramadhan ini. Hal yang paling pribadi dari tulisan saya adalah kebenaran dan kejujuran saya dalam menulis. Maksud saya adalah karena ini adalah bulan suci, maka saya tidak ingin mengotorinya dengan cerita-cerita fiksi yang bisa membuat orang menyangka tulisan itu adalah kenyataan atas diri saya. Sebagian besar sebenarnya cerita yang menggunakan tokoh “aku” di blog ini bukanlah lahir dari kenyataan hidup saya. Kadang-kadang saya menjelma menjadi orang lain dan memandang dunia dari orang lain, lalu menulisnya dengan aforisme yang dangkal.

Akibatnya, saya tidak berhak lagi membantah ketika beberapa teman mengatai tulisan saya tulisan galau. Kali ini, Miss yang jauh di sana, yang saya belum pernah bertemu muka dengannya, merespon tulisan saya dengan bahasa sendiri. Maka izinkan saya menegaskan kalau, tulisan ini adalah kebenaran dan kejadian adanya.

Dan saya memposting respon atas jawaban tiga pertanyaan di postingan sebelumnya. Begini bunyi suratnya:

Dear Mister F,

Sejujurnya tulisan Mister ini seperti tidak memuaskan saya. Jawabannya masih sangat umum. Ada kesan tergesa dalam tulisan Mister. Tidak terlalu berjiwa seperti tulisan pertanyaan untuk saya yang mister tulis itu. (Saya cuman tukang komen, nulis aja amburadul. Jadi yaaa jangan anggap serius) hahahahah. Saya merasa Mister hanya mendeskripsikan soal masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Seperti tenses.

Saya mulai jawaban/saran mister :

Pertama :

Saya setuju dengan ini.

“Salah satu guna dari mempelajari masa lalu adalah menggeser sudut pandang dari sebuah rasa sakit. Jika kita masih terpaku pada bangku yang sama untuk melihat masalah, maka tentu kita masih akan merasakan luka meski telah tertimbun kenyataan yang lain.”

Ini kesalahan saya. Saya tidak benar-benar pergi dari masa lalu. Saya masih membingkainya rapi. Ada pertanyaan yang belum terjawab, makanya saya tidak bisa lari dari masa lalu dan hanya meletakkannya di sudut hati. Bukan membuangnya.

Kedua :

“Salah satu elemen yang paling penting ada dalam pembicaraan ini adalah elemen keyakinan. Dalam bahasa sehari-hari, bisa saya katakan kalau orang-orang yang menyakini Tuhan adalah juga orang-orang yang meyakini masa depannya. Menyakini tidak berarti memaksakan. Setiap orang terlahir dengan masa depannya. Masa depan adalah tentang keyakinan. Masih banyak orang di luar sana tidak bisa merasakan kenikmatan hidupnya saat ini karena menganggap masa depannya jauh berjarak dengan kenyataan yang sekarang dialaminya.”

Saya masih tidak mengerti kenapa mister menulis ini : meyakini bukan berarti memaksakan buat saya. Ini masih dalam konteks teman Mister itukah?

Saya tidak pernah bermaksud memaksakan cinta saya ke teman Mister itu. Buat saya dia abu-abu. Tapi entah mengapa saya selalu merasa yakin dengannya. Tapi sekarang saya belajar, Tuhan membuat saya bersinggungan sekali lagi dengan dia karna banyak alasan. Mengajarkan saya untuk membuka mata. Pola pikirnya yang ternyata cukup berbeda dengan saya. Meskipun banyak kesamaan dengan saya seperti kesukaannya, musik, film, hobi, dsb. Meskipun firasat Tuhan juga selalu berpihak padanya, tapi firasat hanya firasat.

Dia menyebutnya “itu cara hidup saya”, dia bilang itu hanya persepsi saya. Mau tidak mau saya terima itu. Saya yang selalu kalah dengan logika. Meskipun dia sendiri tak terkoreksi soal persepsi. Saya cukup sebal waktu dia bilang segala sesuatunya “itu kan persepsi kamu”.

“Tidak ada cara yang lebih pasti untuk memastikan masa depan selain menjalani kenyataan saat ini. Bila pembicaraan ini tentang jodoh, maka tak ada cara pasti yang lain setelah kenyakinan selain pernikahan.”

Saya juga setuju dengan ini. masih soal teman Mister itu. Dengan teman Mister itu saya baru menyadari dia selalu bilang ” liat nanti”, “belum tahu”, kata-kata yang selalu hadir ketika kita berbicara soal pertemuan. Berbeda dengan kedekatan waktu masih kuliah dulu. Kami dulu punya visi yang sama. Mengamini setiap langkah yang kami tempuh. Waktu mengikis kisah-kisah masa lalu termasuk visinya. Ya sudahlah…. Manusia memang selalu dinamis. Dengan teman Mister itu selalu ada “ketidakpastian” serba ” lihat nanti”, ” belum tahu”, “gak bisa dipastikan” . Saya lebih suka kejujuran yang menyakitkan daripada soal menjaga perasaan tapi dibalut kebohongan. 

Sekarang saya mencoba mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi belakangan ini. Ikhlas itu sulit, ikhlas itu mustahil, tapi saya mau menujunya. Bahagia itu tujuan. Jika dia bahagia disana, kenapa saya harus sedih. Bahagia orang juga berbeda beda. Mungkin saya click dengan dia. Tapi dia tidak click dengan saya. Soal jodoh. Soal takdir. Soal menerima dan memperbaiki takdir. Intinya bersyukur. Hal sepele yang sering membuat lupa. Ada hikmah dalam setiap kejadian. Ada makna di balik semua pertanda. Saya akan menemukannya.

Akhirnya untuk maju terus kedepan, saya menutup diri dari tokoh masa lalu saya itu. Itu keputusan yang cukup keras untuk saya sendiri. Tapi apa boleh buat. Saya tidak mau saat roda saya sudah maju ke depan dia menarik saya lagi kepada ketidakpastian lagi. Saya mencoba cukup bahagia dengan hidup kami masing-masing.

Terima kasih sudah banyak sharing dengan saya. Suatu hari kita pasti ketemu ya Mister. 

Terima kasih juga selalu dengar dan baca curhat panjang saya yang membingungkan ini. Semoga tetap selalu bersilaturahim.

Amiin…

Belahan bumi lainnya, 6 Juli 2015
Regards,

Miss TA

 

Gambar; lepaslokan.blogspot.com

 

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: