Menjawab Pertanyaan

Harvest-Moon

Saya menemui banyak kendala saat menulis surat balasan ini. Tapi, saya menganggap bahwa jawaban dari pertanyaan yang Miss inginkan tidak memiliki masa terlambat. Selain itu, rasanya semakin sulit saya menjadi diri sendiri saat memikirkan jawaban yang paling tepat, bukan bahasa diplomatis.

Hal yang paling membantu saya menjawab tiga buah pertanyaan pada surat Miss itu tak lain karena basis pengalaman batin yang saya alami. Bukan hanya menyoal cinta atau perasaan dan pembicaraan tentang hasrat ketertarikan kepada lawan jenis, tapi lebih jauh ke dalam beberapa elementer penopang kehidupan selain cinta lawan jenis, seperti cita-cita, rezeki, iman, ilmu, dan lain-lainnya.

Reduksi dari semua pengalaman itu mengarahkan saya menulis surat balasan ini sebisa mungkin sesuai dengan cita rasa dan gaya bahasa saya sendiri. Saya tidak sedang mencoba berpuitisasi lewat rangkai kata yang selalu berulang-ulang. Segala majas yang mungkin ada selalu bermuasal dari akumulasi dan kalkulasi matematis dari huruf-huruf yang beterbangan di langit-langit imajinasi otak kanan saya.

Saya memang kadang-kadang dalam situasi kontemplasi tertentu berubah, ah bukan berubah tepatnya tapi menjadi lebih filosofis makroskopis melihat tanda dan gejala alam apapun. Baik yang statis secara dimensi jarak atau yang dinamis terhadap ruang dan waktu.

Ketika surat-pertanyaan dari sahabat pena itu bernada ingin jawaban yang lebih filosofis saya justru merasa terbebani dan sulit membuka jiwa. Saya berusaha mengingat-ingat diksi dan majas apalagi yang belum pernah saya tuliskan di blog ini. Pada saat yang hampir bersamaan itu jiwa saya memang sedang menuntut untuk dibebaskan dari kungkungan hal-hal yang biasa.

Baiklah, tiga pertanyaanitu akan coba saya rumuskan jawabannya secara sederhana. Begini, apapun jenis hubungan yang sedang dijalani yang saya yakini punya keniscayaan yang paling utama adalah suatu sistem kepercayaan. Tidak peduli dengan segala apapun jenis ketidakmungkinan yang mengancam kerekatan dan keutuhan suatu hubungan.

Sudah ada banyak sekali formula terkait bagaimana cara membangun dan mempertahankan hubungan. Jelas, saya adalah orang baru di dunia ini.Belum mampu menjelaskan aneka rasa garam dan kecut dunia. Maksud saya, walaupun saya punya pengalaman sedikit tentang hal serupa, saya tetaplah tidak boleh jumawa membusungkan dada membanggakan diri atas nama pengalaman.Walau, saya juga memahami bahwa pengalaman tetaplah guru terbaik di dunia ini.

Soal pertama. Gimana caranya menghadapi masa lalu? Untuk menjawab ini saya membuka mata. Saya memprediksi bahwa pertanyaan ini adalah isyarat tentang adanya bekas luka yang mungkin bisa saja nampak sembuh dari luar, tapi di dalamnya masih menyisakan nanah yang berdenyut-denyut. Setiap orang tentu pasti punya masa lalu, namun di konteks yang Miss tanyakan ini saya kembali melihat diri, bahwa pengalaman kita soal ini tidaklah sama. Rasanya saya keliru kalau saya menjawab dengan cara membandingkan pengalaman di antara kita.

Pesan saya, masa lalu musti dijadikan pelajaran hidup. Jangan berharap lebih pada ingatanmu yang kau andalkan akan bisa kau gunakan untuk melupakan. Melupakan masa lalu bukanlah pekerjaan seorang pembelajar. Bila benar bahwa Miss telah merasakan sakit hati yang lebih di masa lalu, maka saya berharap, Miss tidak perlu merasakan sakit yang sama. Salah satu guna dari mempelajari masa lalu adalah menggeser sudut pandang dari sebuah rasa sakit. Jika kita masih terpaku pada bangku yang sama untuk melihat masalah, maka tentu kita masih akan merasakan luka meski telah tertimbun kenyataan yang lain.

Lalu pertanyaan kedua. Bagaimana caraku memastikan masa depan?Jawaban dari pertanyaan ini bisa saja saya buat singkat. Tapi saya bisa memastikan bukan jawaban singkat itu yang Miss inginkan. Saya tidak mau terjebak dengan narasi tekstual yang Miss tulis di surat pertanyaan itu. Sebenarnya sudah banyak sekali tulisan saya yang bersinggungan dengan pertanyaan ini, tapi tak pernah ada tulisan saya yang benar-benar secara operasional menjelaskan wacana yang saya tulis.

Salah satu elemen yang paling penting ada dalam pembicaraan ini adalah elemen keyakinan. Dalam bahasa sehari-hari, bisa saya katakan kalau orang-orang yang menyakini Tuhan adalah juga orang-orang yang meyakini masa depannya. Menyakini tidak berarti memaksakan. Setiap orang terlahir dengan masa depannya. Masa depan adalah tentang keyakinan. Masih banyak orang di luar sana tidak bisa merasakan kenikmatan hidupnya saat ini karena menganggap masa depannya jauh berjarak dengan kenyataan yang sekarang dialaminya.

Tidak ada cara yang lebih pasti untuk memastikan masa depan selain menjalani kenyataan saat ini. Bila pembicaraan ini tentang jodoh, maka tak ada cara pasti yang lain setelah kenyakinan selain pernikahan.

Pertanyaan ketiga, seberapa mungkin takdir yang kita inginkan itu benar-benar terjadi?Semesta dari segala pembicaraan ini adalah persepsi. Kita perlu menyepakati beberapa terminologi dari beberapa istilah yang kita gunakan di korespondensi ini, seperti masa lalu, masa depan, dan takdir.

Bila masa lalu pada pertanyaan pertama, adalah keterikatannya dengan luka, kecewa, dan perasaan. Sedangkan masa depan adalah sebuah usaha dan keyakinan. Dan takdir adalah garis kejadian atau kenyataan antara Tuhan dan manusia.

Sekali lagi, takdir adalah kejadian. Kenyataan yang kita alami. Di dalamnya organ tubuh kita memiliki peran besar membentuk kejadian itu.

Maafkan jawaban saya ini bila masih sangat bersayap membuat makna. Saya di akhir surat ini, begitu bingung mengarahkan sikap. Saya terpikir banyak dengan semrawutnya informasi yang belakangan Miss sampaikan kepada saya. Perubahan-perubahan kenyataan yang begitu cepat bergerak dinamis, menjadikan saya sulit sekali menerka kondisi kekinian hati Miss. Tapi saya sekali lagi, saya tetap menganggap surat balasan ini belum terlambat untuk Miss baca. Saya menunggu kabar terbaik setelah Miss membaca ini.

Makassar, 4 Juli 2015

 

Gambar; jampang.wordpress.com

 

Satu Tanggapan to “Menjawab Pertanyaan”

  1. […] Menulislah Tiada Henti, Maka Kau Takkan Mati! « Menjawab Pertanyaan […]

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: