Archive for July, 2015

Gambar dari Lembah Ramma

Posted in Blogger Kampus, Feature, Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Petualangan, Run Away with tags , , , , , , on July 8, 2015 by mr.f

Lembah Ramma 1

Selamat sore, postingan ini adalah reduksi dari captions gambar saya (@marufmnoor) di instagram. Ada sebelas gambar yang punya caption cukup panjang. Saya berpikir, mungkin akan lebih nyambung kalau saya satukan dalam satu postingan saja di blog ini.

 

Saya akan memulainya dengan gambar yang diambil di Lembah Ramma Gunung Bawakaraeng penghujung bulan Mei lalu. Bersama beberapa teman dari lembaga riset Penalaran UNM. Ada beberapa cerita yang ingin saya bagi melalui caption. Sebagai kepala rombongan saya tahu banyak kejadian selama pendakian hingga kembali pulang ke rumah masing-masing.

2

Sebelum bercerita banyak, saya terlebih dulu akan memperkenalkan personil yang ikut nanjak ke Ramma. Pertama dari sisi kiri gambar, namanya panggilnya Suhe, kemudian di sebelahnya namanya Asyraf, dan di sebelahnya lagi pasti saya, di sebelah saya ada dua perempuan, namanya Husna dan Wiwik, dan yang pake skrap Amerika itu namanya Salim, perempuan di sebelahnya bernama Misna, dan dua sisanya adalah Juju dan Nawir. Oh iya, satu personil tidak ikut di foto ini namanya Ria. Nanti pasti akan nongol di gambar yang lain.

3

Gambar ini diambil menggunakan tongsis di warung sekitar hutan pinus Malino. Menurut saya, perlu memang mengisi perut sebelum memulai penanjakan. Saya tidak tahu, mungkin hanya kami (pendaki pemula) yang lebih menyempatkan makan di sini. Karena yang saya amati, orang-orang yang singgah di warung kebanyakan adalah orang sekeluarga dengan anak-istri-suami-mertua mereka. Malino adalah tempat wisata, apalagi di hari sabtu seperti itu. Pasti akan sangat ramai.

4

Gambar di atas diambil di gerbang pendakian Gunung Bawakaraeng, tepatnya di dusun Lembanna, Malino. Untuk menuju Lembah Ramma memang melewati gerbang yang sama dengan pendakian ke puncak Gunung Bawakaraeng.

Di gambar ini, wajah-wajah masih terlihat semringah dan penuh semangat. Juga tidak nampak ada tanda akan turun hujan dari langit. Hampir seratusan meter dari gerbang itu, kami berfoto banyak sekali. Sayangnya foto-foto selfie dari hapenya Ria tidak ada yang tersimpan karena kesalahan fotografi.

5

Gambar kelima di titik star pendakian. Masih tercium aroma pinus di area ini. Kelompok pendaki rata-rata melakukan doa bersama sebelum melakukan pendakian. Termasuk kami. Di depan kami itu sebenarnya ada papan informasi disertai peta pendakian, yang sayangnya telah dipenuhi vandalism.

6

Gambar keenam di ambil saat hujan mulai jatuh kira-kira di sepertiga perjalanan. Hujan terus jatuh sejak itu sampai di puncak Talung. Beberapa dari kami ada yang tidak membawa jas hujan juga tidak membawa raincoat untuk tas sehingga ada beberapa potong pakaian yang terembes air hujan.

7

Gambar ketujuh ini berada kurang lebih di setengah perjalanan ke Lembah Ramma. Saya kurang paham para pendaki menamai apa daerah ini, tapi saya lebih mudah mengingatnya dengan menyebut hutan lumut. Lumut menghijau di pepohonan yang kami lalui. Sayang sekali, tidak banyak gambar yang kami ambil di sini. Hujan dan tergulungnya siang memacu kamu untuk terus melangkah.

8

Gambar kedelapan ini tepat di Puncak Talung. Kami tidak sempat berfoto komplit di sini karena banyak hal. Selain karena kondisi fisik yang kelelahan, serta kostum yang kurang keren untuk berfoto, cuaca juga kurang baik, hujan rintik dan malam telah menyulam hari. Oh iya, sebenarnya ada foto bertiga di sini yang masing-masing memegang kertas bertulis ucapan selamat ulang tahun untuk salah satu junior kami di Penalaran. Sayangnya, belakangan foto itu menjadi bahan joke dan bully karena berasa ‘melecehkan’ senior.

9

Gambar selanjutnya. Juga pada trip yang sama, tracking Lembah Ramma. Ini masih di Puncak Talung, cuma gambar ini diambil saat perjalanan pulang.

Untuk menuruni Talung menuju Lembah Ramma butuh sekitar 30 sampai 45 menit. Sedangkan bila dari lembah ke Talung waktunya lebih lama. Tergantung trek yang dipilih. Ada jalan sapi, ada jalan kepiting. Jalan sapi lebih jauh karena agak landai menurun, sedangkan jalan kepiting lebih cepat tapi terjal dan licin sehingga butuh keahlian khusus seperti kepiting yang merangkak.

Waktu itu kami turun lewat jalan sapi, karena selain baru saja turun hujan juga karena personel kami semuanya adalah orang yang baru pertama kali ke Lembah Ramma, apalagi ada tiga srikandi. Sedangkan saat pulang, sebagian mengambil jalan sapi dan lainnya mencoba jalan kepiting.

Dari Puncak Talung, kita bisa melihat Lembah Ramma dengan skala yang sangat kecil. Rasio manusia tak cukup sebesar semut. Lebih kecil lagi, mungkin hanya seperti sebutir pasir bergerak. Dari Lembah Ramma para pendaki juga bisa melihat manusia di puncak sungguh sangat kecil. Bila bukan karena adanya sebentuk siluet yang bergerak atau cahaya senter, maka akan sulit membedakan manusia di puncak itu dengan sebatang rumput kecil.

Untuk kondisi seperti ini, ada ungkapan yang lazim di kalangan pendaki yang biasanya diasosiasikan dengan filosofi kehidupan. Bahwa pendakian itu serupa kehidupan sosial, bila seseorang telah berada di puncak maka dia akan melihat orang di lembah jauh di sana menjadi sangat kecil. Tapi jangan lupa, karena sebenarnya orang di lembah juga ternyata melihat kecil orang yang di puncak sana.

11

Gambar berikutnya, ini diambil di Lembah Ramma antara dua tenda bulan kami. Beruntungnya kami, saat sampai di lembah yang terhampar lapang, kabut yang menutup lembah perlahan hilang. Sehingga alangkah indahnya purnama malam itu, meski belum bulat utuh. Ditambah bintang gemintang bertabur di semesta malam.

Kami hanya membawa dua tenda bulan. Itu berarti, di antara kami akan ada yang tidak tidur di dalam tenda bulan. Saya sendiri memilih tidur di antara tenda, bersama Asyraf, Juju, dan Salim. Ya, meskipun ancamannya jelas, yaitu dingin yang sungguh dingin sampai bisa menembus tulang, apalagi kalau hanya berselimut sleeping bag.

Area Camping Lemah Ramma

Gambar ini tepat di tengah area camping Lembah Ramma. Ada tiang benderanya, mungkin pada waktu tertentu para pendaki melakukan upacara bersama. Lembah ini memang agak luas, dan keren karena di tepiannya ada sungai kecil jernih mengalir yang menjadi sumber air minum bersih para pendaki. Airnya tidak perlu dimasak untuk diminum, poin ini intinya adalah jauhi keragu-raguan untuk urusan higienitas.

Akhir pekan memang adalah waktu di mana Lembah Ramma akan menjadi seperti ladang jamur tenda-tenda para pendaki. Bisa mencapai ratusan tenda pada momen-momen tertentu.
Kemarin saat kami menuruni Talung menuju Ramma, kami bersama dua orang pendaki yang menyusul temannya yang telah lebih dulu berangkat. Sayangnya, saat sampai di Lembah mereka gagal menemukan tenda temannya itu. Dan akhirnya keduanya tidur beralas mantel beratap langit.

Di gunung, sejujurnya mudah sekali  mengklasifikasikan dan mengenali pendaki. Yang paling senior atau yang paling sering naik ke gunung justru merekalah yang paling rendah diri, murah senyumnya dan rajin menyapa. Kebalikannya, pendaki pemula biasanya inilah yang ugal-ugalan, egois tak memberi jalan, melakukan vandalism, dan tak taat aturan pendakian. Bila tak percaya, suatu kelak nanti menanjaklah di salah satu gunung dan akan kau temukan perbedaan yang saya maksud.

12

Katanya, bila kamu lelah, itu berarti kamu masih layak hidup karena kamu masih memperjuangkan sesuatu dalam hidupmu. Teruslah menanjak ke puncak, karena tak ada puncak yang abadi. Di atas puncak masih ada puncak. Salam lestari, salam pergi-pergi.

 

Mengukur Tulisan

Posted in Blogger Kampus, Having Fun with tags , , , , on July 7, 2015 by mr.f

mengukur tulisan

Setelah berhenti menulis 30 surat kepada Perempuan Pembaca, saya merasakan kesulitan untuk menulis yang sifatnya mengabarkan. Jujur, saya sangat terbantu ketika saya menulis dimana tulisan itu jelas ada yang akan membacanya dan ada yang akan mengomentarinya.

Saya punya beberapa aktivitas yang rasanya layak untuk saya tulis, namun menjadi begitu bingung kepada siapa saya kabarkan. Lalu menguaplah semuanya perlahan-lahan. Belakangan, saya mencoba mengukur imajinasi dengan cara membuat tulisan fiksi. Ada juga surat imajiner. Tapi, rasanya hambar dan datar karena kemampuan saya menulis fiksi belum sampai pada level “membuat alur cerita yang bagus”.

Selain surat fiksi yang berhasil saya catut masuk ke dalam postingan saya, beberapa draft tulisan fiksi berhenti hanya di satu halaman. Dan draft itu sampai sekarang membeku tak tersentuh lagi. Di situ saya melihat angka untuk tulisan saya sendiri, tak sampai 5 untuk skala 1 sampai 10.

Kemudian, aktivitas blogwalking membawa saya untuk mengunjungi salah satu website penulis yang saya jagokan. Walau, saya belum punya bukunya sebiji pun. Ya website-nya Eka Kurniawan. Tepatnya Eka menyebutnya Journal. Dari situ saya terinspirasi mewarnai blog saya ini dengan tulisan-tulisan yang bercorak “apa yang saya lakukan kemarin”.

Saya bosan terus-terusan disangka galau atau alay oleh orang yang pernah singgah di blog saya. Padahal saya telah memblocking kemungkinan cap itu dengan membuat nama blog yang jelas-jelas “sajak anti galau”. Begini, orang-orang sekarang ini, terutama yang selera sastra dan minat literasinya di bawah angka 4 untuk skala 1 sampai 10, mudah sekali mengasosiasikan antara produk literasi dengan gangguan mental sejenis “galau dan alay”. Semakin hari, galau dan alay semakin berkonotasi buruk, sampai merembes kepada karya-karya sastra yang sebenarnya penulisnya sulit sekali menggali untuk menebitkannya.

Biasanya, pembaca yang selera satranya rendah. (Aah, sepertinya kurang layak menyebutnya pembaca, karena mahluk semacam ini tak nyaman berlama-lama menumbukkan matanya pada huruf-huruf. Gemarnya hanya pada sesuatu yang sifatnya lebih audio-visual). Tak membaca habis satu paragraf sebuah tulisan. Kalau di dalam tulisan itu mengandung majas, maka terhentilah dia dan berkesimpulan bahwa tulisan ini alay. Kalau tulisan itu ditemukan nuansa melankolis, maka disebutnyalah tulisan itu galau. Dan saya termasuk korbannya. Kondisi ini, sedikit-sedikit membuat saya membela diri dengan cara mengorbankan selera. Karena ternyata, lingkungan dapat membentuk selera, saudara-saudara.

Saya yakin ada banyak sekali teman-teman penulis pemula yang pemalu, tidak memposting produk literasinya karena ancaman persepsi ini. Takut disangka galau, takut dikira sedang patah hati, takut dicap menaruh hati diam-diam dan masih banyak ketakutan-ketakutan untuk menulis dan memposting tulisan hanya karena istilah-istilah kekinian yang berkonotasi tidak baik di telinga awam.

Mari, siapapun yang membaca postingan ini, saya mengajak untuk tidak menghiraukan persepsi-persepi di luar sana. Tulisan-tulisan saya memang belum berasa sastra, tapi suatu saat saya akan sampai pada kepercayaan bahwa setiap karya terbaru selalu lebih baik dari karya sebelumnya. Bahwa setiap karya terbaru adalah master piece atas karya-karya sebelumnya.

Gambar; ujungzaman.blogspot.com