Pertanyaan untuk Saya

pertanyaan untuk saya

Udara malam di kota ini terlambat dingin. Meski sudah hampir pukul dua pagi, masih terasa ada uap panas yang memenuhi sudut ruang. Di jam-jam seperti itu, aktivitas yang sedikit bisa mengalihkan bibir untuk mengutuk dunia adalah menyentuh smartphone. Menjelajahi dunia maya yang sarat dengan kepalsuan dan kepura-puraan.

Setelah bosan karena hampir semua akun social media dicek berulang-berulang. Seperti ingin menemukan sesuatu yang ditujukan untuk diri tapi tidak menemukannya. Lalu berhenti. Saya mulai mencari playlist yang bisa mencairkan gerahnya udara bercampur perasaan belum mau tidur. Tapi tiba-tiba, ada keinginan baru. Blogwalking.

Awalnya saya masuk ke blog sendiri. Sekadar ingin tahu statistik blog dan kalau saja ada komentar yang luput dibalas. Mengingat akhir-akhir ini salah satu postingan lama selalu booming di bulan-bulan seperti ini. Lalu, karena di blogroll ada puluhan list link blog rekan sesama blogger  ditambah beberapa link website beberapa penulis favorit. Petualangan membaca dimulai. Menyenangkan saat menemukan teman-teman itu seolah menceritakan banyak hal, dari yang absurd hingga yang berasa release kegiatan.

Ada saja hal yang menyenangkan dari sebuah postingan baru teman-teman  itu. Tentu saja lebih banyak yang membosankan. Dan saya sampai pada sebuah postingan yang jelas-jelas ditujukan kepada saya. Tidak berlebihan, itu jelas saya. Yang saya yakini adalah blognya dianggap tidak terdeteksi oleh mesin pencari dan tidak banyak di klik orang.

Saya kutip secara utuh postingannya. Sebenarnya lebih sejenis surat. Isinya tidak selesai.

Dear Mr.F

Membaca blogmu, membuat aku terdesak untuk mengajukan beberapa pertanyaan awal yang aku berharap bisa menjadi penerang beberapa perkara yang kubuat sendiri di kepalaku. Jawab saja dalam hati, atau jauh lebih bagus kalau mister, membuatkan postingan khusus menjawab tanya-tanya yang kuajukan ini. Namun, bila tidak berkenan, tak mengapa bila diabaikan saja. Tahu kalau ini terbaca oleh mister saja batinku sudah cukup puas. Tapi, yang aku paham dari mister adalah mister punya sisi kreatif yang antimainstream.

Pertanyaan pertama, tidak baik kesannya bertanya tanpa memberi pengantar. Kemampuan diksiku tidak seberapa dibanding mister, menggunakan metafora dan ironi saja aku tidak paham. Dan semua ini kulakukan sebagai bagian dari caraku membunuh waktu. Jadi pertanyaanku pastilah sangat mudah dipahami. Gini, gimana caranya menghadapi masa lalu? Mister pasti sudah mengerti pertanyaan ini. Tapi aku beri sedikit penjelasan. Aku tahu, masa lalu letaknya di belakang. Tapi entahlah, masa lalu ini nampaknya selalu berada di depan mataku. Tidak pernah jauh.

Mister masih ingat awal kita kenal di twitter? Aku berbalik sedikit ke waktu-waktu yang lampau itu. Maafkan aku mister, rasanya ini agak kurang etis melibatkan Mister yang porsinya menurut aku lebih banyak jadi pendengar dan penengah. Aku tidak tahu membicarakan ini ke siapa lagi selain ibuku dan Mister. Kita sama-sama paham, pertemuan adalah masalah terbesar dalam pola hubungan yang sangat sering kita cakapkan.

Kembali ke topik masa lalu. Sudah masuk tahun kedua setelah aku memutuskan menjadikannya perasaanku kuburan tanpa nisan. Ingin sekali kutulis nama sahabatmu itu di nisan masa laluku. Tapi apa, hantunya selalu ada dan parahnya menakut-nakuti tiap kali aku ingin melangkah mencari hati yang lain. Inilah hal yang paling ganjil dalam hidupku. Kau tahu kan, aku dan sahabatmu itu tak pernah jumpa sekalipun. Lalu, kau Mister juga tak pernah jumpa dengan aku. Apa yang sebenarnya layak kesebut masa lalu. Mungkinkah ini hanya ilusiku saja, yang selalu merindukan kisah apik asmara yang berdiam diri di alam khayaliku. Aku mungkin terlalu kaku dan berharap lebih pada takdir yang tak pernah terjadi.

Jadi, di media blog seperti ini. Hal-hal yang bercampur baur di kepalaku sedikit bisa kubebaskan ke alam diksi. Kuterangkan saja ke mister. Karena percakapan di pesan-pesan BBM itu sungguh masih sangat terbatas untuk membeberkan banyak hal yang kuanggap bisa saja jadi penjelas hubungan yang tak jelas ini.

Pertanyaan kedua, bagaimana caraku memastikan masa depanku? Pertanyaan ini mungkin menyalahi kodratku sebagai manusia. Tapi, tentu Mister paham arah pertanyaan ini. Bukan sekali dua kali aku ingin memastikan perihal yang selalu jadi tema percakapan kita. Mister tidak perlu menjawab secara teknis, kutahu kalau Mister akan memilih jalur filosofis menjawab setiap keluh kesahku. Aku suka cara Mister menjawab. Diplomatis filosofis. Tidak menyudutkan satu pihak. Win win solution. Meskipun seringkali aku salah memprediksi jawaban yang akan Mister balaskan. Kusangka, Mister akan cenderung mendukung satu dan membusukkan yang satu di antara kami yang selalu jadi bahan cerita.

Mister, jujurlah nanti sejujur-jujurnya pada postingan yang jadi balasan postingan-surat ini. Aku tidak peduli seberapa lama itu telah dan pernah diucapkan oleh sahabat Mister. Aku kenal banyak sahabat Mister itu justru lebih banyak dari Mister. Ini pola yang amat rumit, pernah Mister katakan di salah satu ruang chat, kalau aku tak tak perlu menyisakan ruang harap lagi. Namun pernyataan itu terhapus oleh waktu. Namanya hadir setelah hampir dua tahun tidak pernah lagi kuselipkan di dalam hatiku.

Entah bagaimana, dia datang di waktu yang aku sedang asyik dengan duniaku sendiri. Bila Mister ingat, lebih setahun lalu saat aku mengirimkan pertanyaan kepada Mister dan meminta deskripsi type perempuan seperti apa yang layak dia bagi dan ceritakan ke sahabatnya seperti Mister. Pada fase dan masa itu, aku betul-betul sedang ingin memantaskan diri untuk sahabat Mister itu. Penantian yang tak pasti. Apalagi pertemuan yang begitu berjarak dengan kenyataan. Aku abaikan faktor ketidakmungkinan pada sebuah jodoh. Yang akau pahami dan betul-betul mengerti adalah keyakinan atas dia sebagai jawaban untuk pertanyaa kedua ini.

Maafkan aku Mister bila ini membingungkan. Mungkin Mister mulai jenuh menegaskan jawaban. Jawaban yang bisa jadi akan berulang sama dengan isi jawaban di percakapan singkat kita. Jauh setelah pertanyaan kedua itu saat aku mulai memahami takdir, sesuai dengan saran Mister, aku bertingkah biasa bila aku dan sahabat Mister itu terlibat dalam ruang percakapan. Pertanyaan masa depan aku singkirkan meskipun itu tak semudah menutup dua ratus lembar buku misterius  yang telah dibaca dan ternyata hanya tersisa dua lebar penutup dan penjelas semua kasus dan kisah di halaman sebelumnya.

Pertanyaan ketiga, menurut Mister, seberapa mungkin takdir yang kita inginkan itu benar-benar terjadi? Terus terang aku tidak sepenuhnya pikiranku sendiri. Di aku, sebagian ada kuasa ibuku. Dan sebagian lain setelah aku dan ibuku adalah bangunan persepsi orang dan teman terdekat. Beri aku pengertian yang mudah aku pahami soal takdir. Kuanggap Mister adalah salah satu teman yang layak untuk kuajukan pertanyaan semacam ini. Selain itu, bila ternyata pertanyaan ini justru mengesankan kebodohan dan minimalnya bacaan buku agamaku, aku mohon jangan ditertawai. Bertindaklah sebagai seorang guru atas diriku.

Ketiga pertanyaan di atas sebetulnya punya masanya sendiri. Tidak datang pada satu momen yang sama. Tentunya Mister sudah bisa membuat peta pikiranku untuk ketiga soal di atas. Aku tak akan tahu kapan Mister akan membaca postingan surat ini. Sekali Mister, saya angat bahagia bila mendapati postingan Mister khusus menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Di Belahan Bumi Lainnya, 14 Februari 2015

Miss T

Waah, berat betul soal yang diberikan kepada saya oleh Miss T. Saya butuh membaca dan mendalami tokoh yang disebutkan, Dia. Ini sudah lebih tiga bulan sejak dituliskannya postingan itu. Padahal, saya belum lama ini berchat panjang ria di BBM. Justru sebenarnya, jawaban tanpa pikir panjang telah saya kirimkan sedikit-sedikit lewat BBM. Dan pertanyaan yang diajukan jauh lebih operasional dibanding pertanyaan di atas.

Maafkan saya Miss T, berikan saya banyak waktu untuk menuliskan dengan baik dan dengan filosofis seperti yang Miss persepsikan.

 

Gambar; news.liputan6.com

 

6 Tanggapan to “Pertanyaan untuk Saya”

  1. […] masih sangat umum. Ada kesan tergesa dalam tulisan Mister. Tidak terlalu berjiwa seperti tulisan pertanyaan untuk saya yang mister tulis itu. (Saya cuman tukang komen, nulis aja amburadul. Jadi yaaa jangan anggap […]

  2. […] yang paling membantu saya menjawab tiga buah pertanyaan pada surat Miss itu tak lain karena basis pengalaman batin yang saya alami. Bukan hanya menyoal cinta atau perasaan […]

  3. padahal ini fiksi… belajar berimajinasi. hohoho

  4. mujahidzulfadli Says:

    gubrak. destak. menyimak…. #ecieee-cieee…

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: