Pelipur Kehilangan

pelipur kehilangan

Perasaan yang tidak menyenangkan itu ketika kita merasa kehilangan begitu rupa pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita miliki. Hanya serupa kepemilikan sepihak tanpa pihak lain mengakui dan merasa dimiliki. Possesif. Ganjil. Egois. Paradoks.

Tabiat sense of belonging tidak selalu berkonotasi buruk. Seolah-olah menegasikan hasrat dan cinta yang tulus. Seringkali kita memang diuji dengan hal dan kondisi yang semacam itu. Tujuannya adalah untuk melihat bukti dan wujud dari sebuah keikhlasan dan ketulusan memiliki. Ujian itu perlu untuk mengukur diri. Sama perlunya, udara mengisi rongga paru-paru. Bila tidak, maka akan ada seonggok tubuh yang berjalan dengan keangkuhan, alamat antisocial dan over introvert.

Kita semua selalu menyangka kehilangan adalah sebuah musibah. Kehilangan selalu menerbitkan rasa sakit, lalu menyisakan ruang sedih seolah tak ada kosa-kata –pengganti dalam hidup. Kehilangan adalah keniscayaan. Bukankah setiap saat kita kehilangan umur? Sepersekian detik yang lalu. Kita selalu kehilangan udara dari tubuh setiap beberapa hitungan desimal. Tapi kita selalu diberikan pengganti dan sebuah balasan. Percayalah itu. Kehilangan adalah kehidupan itu sendiri. Sebuah pertukaran yang sunnatullah. Buanglah sesuatu bila ingin hidup. Lalu, apakah pernah kita menyadari kematian sebagai sesuatu yang pasti sekaligus tidak pasti?

Saya selalu terpukul berkali-kali lipat saat tahu seorang berilmu dan beramal baik, pergi meninggalkan kita lebih dulu. Kepergian seorang ulama tentu jauh lebih menimbulkan efek taubat ketimbang kematian seorang muda yang belum banyak mengamalkan agama. Matinya seorang ulama membutuhkan energi besar untuk memulihkan peran dan kekosongan pembimbingan ummat. Jangan bilang, bahwa ulama hanya mengikat dan membimbing sebuah komunitas atau tarekat tertentu. Suara ulama hanya bertengger di pengeras suara menara sekolah agama dan pesantren-pesantren. Ulama hanya berpikir tentang kezuhudan diri dan spiritualitas. Ulama dalam konteks kekinian adalah pengejewantahan tangan Tuhan dan mulut Nabi dalam menerangkan risalah kehidupan dunia dan akhirat. Setelah kita iman pada ulama, serahkan diri kita dengan sami’na waato’na. Namun jangan lupa sisakan ruang kritis, heran, dan ragu untuk perkara-perkara tertentu.

Catatan ini adalah satu dari banyak cara melipur rasa kehilangan saya atas seorang ulama di Makassar, yang juga tak lain adalah ayah dari seorang sahabat saya. Wafatnya beliau betul-betul menerbitkan banyak perasaan bersalah saya pada waktu dan membuat saya bercermin melihat diri. Iman, ilmu, dan amal apa yang bisa saya hantarkan di hadapan meja peradilan Tuhan?

April, 2015

 

Gambar; pelangiku4u.blogspot.com

 

2 Tanggapan to “Pelipur Kehilangan”

  1. Nurul Fajryani Usman Says:

    Keren kak tulisannya😀
    Kehilangan mutlak terjadi pada setiap makhluk, mau tdk mau, suka tdk suka psti terjadi.

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: