Di Luar Konteks (31)

di luar konteks

Surat ke 31

Kepada Perempuan Pembaca
Sobahunnur

Sobahunnur Perempuan Pembaca. Roda-roda jelas berputar. Analogi dan metafora itu sudah sangat tidak kreatif untuk sekadar ingin mengatakan kalau segala gejala alam kodratnya tidak statis. Untuk sekadar ingin mengatakan kalau hidup ini dinamis dan terus bergerak dan berganti-ganti.

Beberapa waktu yang dulu, saya yang suka sekali mengingatkan orang untuk tidak lupa dan abai dengan aktivitas menulisnya. Mengingatkan untuk mencatat apa saja yang bisa mengikat masa lalu. Mengingatkan untuk menulis apa saja yang bisa merawat sejarah dan eksistensi diri di waktu lampau. Mengingatkan untuk sebisa mungkin memberi penanda pada kesempatan-kesempatan yang akan membuat kita tidak lupa pada akar cerita kelak di suatu waktu nanti. Mengingatkan kepada siapa saja untuk selalu membudayakan dan membiasakan diri mencintai literasi.

Tapi waktu, yang pasti adalah apa yang sedang kita jalani. Yang dulu-dulu sudah bukan milik kita lagi. Yang dulu-dulu telah menjadi milik waktu dan ingatan. Sedang yang akan datang adalah milik Tuhan dan khayalan di kepala kita.

Sudah lebih sebulan sejak postingan terakhir di blog ini. Dan kamu Perempuan Pembaca ternyata terus melaju. Saya tertinggal di masa lalu, dan hanya mendengar ajakan-ajakan untuk memperbaiki diri mengahadapi masa di depan. Saya tidak mengutuk diri. Berulang kali saya bilang saya kehilangan motivasi menulis. Dan itu hal yang biasa. Bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Akhirnya saya sampai pada keputusan untuk membalas surat ke 28 mu di surat ke 31 yang tidak kita sepakati. Surat ke 31 sebut saja adalah pelontar saya untuk bisa menghentikan puasa menulis itu.

Anggaplah saya berbangga, tahu kalau kamu sudah semakin rajin membaca. Sebenarnya saya tidak punya kepentingan untuk mendikte bacaan kamu. Tapi percayalah, membaca lebih menyenangkan dibanding aktivitas membunuh waktu yang lain. Sejujurnya, mengatakan ini mudah, tapi saya sendiri sulit sekali mendapatkan momentum yang tepat untuk betul-betul membaca. Efek media sosial kuat sekali melingkar di aktivitas sehari-hari kita.

Sekarang, bahkan untuk menanggapi suratmu saja saya butuh menghirup banyak energi. Saya juga sebetulnya dalam kondisi yang di mana menulis tidak lebih menyenangkan daripada membaca cerita pendek. Apalagi bahan bacaan tidak meluluh harus yang berbentuk buku tercetak. Saya jadi ingat dan sangat iri dengan orang seperti Aan Mansyur dan Eka Kurniawan. Beberapa penjelasan Eka Kurniawan tentang kesenangannya dengan membaca dan menulis membuka mata saya lebar-lebar. Begitu juga Aan Mansyur yang menulis dan juga bernada iri terhadap Eka Kurniawan yang notabenenya juga sama-sama penulis yang umurnya belum cukup setengah abad.

Di internet, banyak yang legal, lebih banyak lagi yang ilegal. Tapi selama ada kesempatan, bacalah! Yang menghalangi seseorang dari membaca banyak buku, terutama di zaman sekarang, biasanya hanya rasa malas mencari dan membaca. – Eka Kurniawan.

Pada bagian ini, kamu boleh berkesimpulan kalau saya mengabaikan satu tema yang kau bahas di suratmu, yaitu filosofi kopi yang kamu benturkan dengan sisi kekecewaanmu yang saya pikir kamu belum bisa memaafkannya sampai sekarang. Kesimpulan yang menurut saya bisa kamu jadikan kesimpulanmu ini adalah hasil telaah saya secara semantik di beberapa paragraf suratmu. Begini bunyi suratmu, kan?

Sejak 5 April lalu, selalu ingin kucuri waktu, mengambil jarum jam dan menyembunyikannya di bawah kasur. Menghentikan waktu. Tapi itu tak berhasil, maka sebisanya kuhindari saja dirimu. Rasa kecewamu sepertinya tak bisa disembunyikan di balik kata dari surat terakhirmu, aku merasakannya, sangat merasa. Aku malu, sangat malu. Aku kikuk, sangat kikuk. Kadang bahkan aku merasa diabaikan. Sedikit sering diabaikan.

Jangan bilang aku terlalu sombong. Aku tidak begitu.

16 April, untuk pertama kalinya bisa kuhilangkan detak jarum jam yang mengganggu itu, walaupun tak bisa kucuri dan kupatahkan jarum itu. Tapi ketiadaan bunyinya membuatku merasa waktu berjalan sedikit longgar dan tidak mengejar. Ahh, ini saat yang baik pikirku! sudah kutanya pula temanku untuk menemaniku, sepertinya pikiranku sudah duduk bersama cangkir kopi yang kupesan di meja itu.

Tapi balasanmu, menumpahkan kopiku yang belum sempat kurasakan pahitnya. Jahat sekali pikirku!

Samar detak jam kembali terdengar, memuakkan. Apa yang harus kulakukan dengan kopi yang sudah kujanjikan itu! Saat penikmatnya sendiri menolak pemberianku. Kopi di kepalaku kini semakin hitam bukan pahit, tapi panas karna tertumpah, semakin menjadi hal bodoh yang pernah kujanjikan.

Kopi adalah jalan penyelesaian suatu perkara. Itu yang kakak katakan. Perkara, aku bolos menulis surat kita selesaikan dengan kopi. Kini perkara harga diriku harus kuselesaikan pula dengan kopi. Aku hanya tinggal mencari tempat minum kopi setiap bulan dan akan memberitahukan padamu bahwa perkaraku sedikit demi sedikit telah kuselesaikan.

Aku sering mencaci pahit. Terlebih kopi dengan kepahitannya. Tapi hari itu aku semangat sekali untuk menunjukkan padamu kopi terhitam pertama yang akan kuminum untuk menyelesaikan perkara kita. Temanku memesan kopi dingin, barangkali ia berusaha menetralisir kepahitan dan panasnya kopi yang kini ada di kepalaku. Idenya cemerlang dan aku sedikit terbantu dengan itu.

Pahit kopi terhitam itu tertandas di tenggorokanku Kak. Mendebarkan jantungku dan tubuh butuh penyesuaian terhadap minuman sejenis itu. Cafeinnya mampu menstimulan jantung berdetak lebih cepat, terlebih bagiku yang terlampau sangat jarang meminumnya.

Menjelang akhir bulan Mei ini, maka tentu kamu punya tantangan untuk menulis surat ke 29. Kamu masih berutang dua surat. Berutang kepada dirimu sendiri, karena setelah surat ke 30 yang lalu saya sudah menganggap surat menyurat kita berakhir. Selebihnya, saya berpikir suratmu yang setelah itu tak lebih dari beban moral dan untuk menghargai dirimu sendiri.

Saya sudah mengucap maaf. Kala itu dengan instan saya dipersalahkan karena kamu menganggap saya jahat. Dan katamu, saya mesti menunggu lebaran untuk dimaafkan. Ini konyol, tapi itu hakmu. Menyalahkan dan menunggu maaf adalah pekerjaan orang yang lemah. Bila hendak jujur, pada satu sudut pandang, saya pun sebetulnya tak berhak lagi bertalian dengan perkara surat-surat ini. Saya ingin, membaca dan menulis saya tak semestinya tak menyenangkan. Kau tahu, kejujuran ada masanya tergadaikan oleh kontrol sosial. Bila realitas dan kehidupan kita terlalu sulit untuk terbuka membicarakan hati nurani, maka biarkan saja nuansa fiksi dan dan fakta dalam tulisan kita mempertanyakan dirinya sendiri.

Terakhir, saya ingin menanggapi beberapa postingan terakhirmu setelah surat ke 28-mu dengan satu pertanyaan. Bila pun ternyata itu di luar konteks korespondensi yang kita batasi waktu itu hanya pada postingan yang unsur faktanya hampir seratus persen. Maka tak masalah jika satu pertayaan akumulatif ini tak usah kau tanggapi.

Apakah postingan-postinganmu itu benar bernada mempertanyakan keterhubungan perasaan?

Semoga saya keliru.

Makassar, 24 Mei 2015

Tertanda
Lelaki Optimis

 

Gambar; jaes-injlualways.blogspot.com

 

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: