Archive for May, 2015

Benda Langit dan Teori Asosiasi

Posted in Blogger Kampus, Having Fun with tags , , , , , on May 29, 2015 by mr.f

Benda Langit dan Teori Asosiasi

Aku sedang memandang bulan. Sendiri. Dan mencoba menghitung bintang yang malu dengan caraku sendiri. Bintang tidak banyak jadi aku boleh saja dengan cepat mereduksi kenyataan tentang beribu bintang menjadi hanya hitungan jari.

Lalu terpikir, kenapa tak kutulis saja  jelmaan bintang-bintang itu menjadi frase yang dipotong-potong untuk terdengar lebih sastrawi dan beraroma pujangga. Tidak banyak yang tahu. Mungkin hanya isi kepalaku sendiri yang melukisnya. Kalau ketika kusebut bintang atau bulan atau apapun benda langit yang memancarkan gelombang cahaya, maka ada satu nama yang menggenapkan kesemrawutan definisi benda-benda langit itu. Menjelma menjadi sosok wanita yang begitu manipulatif. Di peristiwa asosiasi-subtitusi benda langit inilah aku terpaksa membuat hipotesaku sendiri untuk sebuah kemustahilan, membaca pikiran para penyair.

Begini, rasanya para penulis atau penyair begitu mudah membohongi pembacanya. Kenangan yang pernah ada atau tak pernah ada dibuat sebegitu rupa menyamai kenyataan yang lumrah. Masa lalu dispekulasi dan masa depan yang misterius itu dibuatkan imajinasi yang begitu rasional. Ini satu hipotesa tentang isi kepala. Karena, di jaman yang susah sekali menemui kebenaran ini, justru kemunafikan menjadi tabiat lazim manusia. Menyangka kebahagiaan bisa dirasa dengan menipu. Menipu diri sendiri. Apalagi menipu orang lain.

Dari hipotesa itu, aku tak hendak lari dari kenyataan yang kualami. Sederhananya, memang pada suatu momentum, kadang-kadang otak kita mencipta kenangan yang baru saja ada seolah telah lama dan pernah menjajah ingatan. Kemungkinan ini yang kuanggap justru lebih sering dialami oleh para penyair atau penulis. Ingatan dimodifikasi lalu hanya sekilas dikonfirmasi dan selanjutnya melewati tahap imajinasi yang di situlah letak beban beratnya mencipta ide sebuah karya.

Seingatku, aku sudah beberapa kali merasakan keinginan yang ingin sekali menjalar ke ujung jari. Tapi hanya berhenti di kepala lalu menguap tertiup oleh kenyataan dan ingatan yang baru.
Malam ini, asosiasi benda langit itu memang nampak nyata di pelupuk mata. Ada kehadiran sosok yang sudah sangat sering berkelindan di isi kepala. Saling mengait dan bertalian dengan kesemuan mata dan objek yang dipandang.

Aku mungkin tengah melihat bulan tersenyum dengan menggunakan jilbab ungu yang sering digunakannya. Ini jelas-jelas fatamorgana yang gejalanya tidak perlu meleset dari faktor besar bernama bunga cinta. Mekar di mana-mana. Menjelma wujudnya di mana saja. Alamat sebuah pesan dari langit, kalau kita musti merasa beruntung atas anugerah cinta. Tidak sedikit orang kacau hidupnya karena tidak mampu melihat objek di depan matanya bersama dengan cinta. Banyak orang tidak bahagia, karena meski hanya perasaannya yang nyata-nyata  bukan kenyataan juga tidak bisa melampirkan cinta di sisinya.

Spekulasi kedua yang bisa kubuat dari memandang benda langit adalah aku merasa dijatuhi cinta dari langit dan aku tidak bosan. Perasaan semacam ini juga bisa aku asumsikan sebagai perasaan yang mungkin di alami para pujangga. Namun, tentu hanya berlaku ketika benda langit benar sedang menjadi objek tunggal yang sedang diresapi. Saat itu, aku bisa katakan manusia merasakan cinta yang boleh saja telah melewati tahap asosiasi-subtitusi benda langit yang disepakati sebelumnya oleh  ingatan.

Jatuh cinta berulang-ulang kan bukanlah larangan. Jatuh cintalah setiap saat, tapi mungkin lebih bagus pada objek yang sama. Pembahasan ini dalam konteks hubungan antar manusia dengan manusia yang seringkali bergelar kekasih. Pada konteks yang lain, jatuh cinta berulang-ulang akan mendapati penafsiran yang agak berbeda. Juga pada perihal lahir dan mencuatnya ide atau gagasan tidaklah mutlak mengatakan di benda langitlah cinta bisa bergeser dari seorang sosok menjadi benda langit yang diasosiasi dan disubtitusikan.

Aku hanya ingin menegaskan bahwa di hamparan jagad raya ini apapun bisa dijatuhi cinta. Ketika mata telah terbuka dan cahaya menjalar pada versi gelombangnya, maka bersama itu kita disuguhi pilihan untuk mengambil atau mengabaikan cinta. Cinta yang membuat diri kita merasa dunia ini menyenangkan. Bahkan ketika mata tak melihat apapun, pilihan jatuh cinta dan bahagia itu telah ditawarkan. Kita selalu punya peluang untuk jatuh cinta setiap saat. Ubahlah sudut pandang, asosiasikan apapun objek yang diinderai menjadi ladang tumbuhnya cinta. Supaya hidup kita yang sekali ini tidak lagi menyesal di ujung napas.

Makassar, Mei 2015

Gambar; www.youtube.com

Advertisements

Pelipur Kehilangan

Posted in Blogger Kampus, features with tags , , , , on May 24, 2015 by mr.f

pelipur kehilangan

Perasaan yang tidak menyenangkan itu ketika kita merasa kehilangan begitu rupa pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita miliki. Hanya serupa kepemilikan sepihak tanpa pihak lain mengakui dan merasa dimiliki. Possesif. Ganjil. Egois. Paradoks.

Tabiat sense of belonging tidak selalu berkonotasi buruk. Seolah-olah menegasikan hasrat dan cinta yang tulus. Seringkali kita memang diuji dengan hal dan kondisi yang semacam itu. Tujuannya adalah untuk melihat bukti dan wujud dari sebuah keikhlasan dan ketulusan memiliki. Ujian itu perlu untuk mengukur diri. Sama perlunya, udara mengisi rongga paru-paru. Bila tidak, maka akan ada seonggok tubuh yang berjalan dengan keangkuhan, alamat antisocial dan over introvert.

Kita semua selalu menyangka kehilangan adalah sebuah musibah. Kehilangan selalu menerbitkan rasa sakit, lalu menyisakan ruang sedih seolah tak ada kosa-kata –pengganti dalam hidup. Kehilangan adalah keniscayaan. Bukankah setiap saat kita kehilangan umur? Sepersekian detik yang lalu. Kita selalu kehilangan udara dari tubuh setiap beberapa hitungan desimal. Tapi kita selalu diberikan pengganti dan sebuah balasan. Percayalah itu. Kehilangan adalah kehidupan itu sendiri. Sebuah pertukaran yang sunnatullah. Buanglah sesuatu bila ingin hidup. Lalu, apakah pernah kita menyadari kematian sebagai sesuatu yang pasti sekaligus tidak pasti?

Saya selalu terpukul berkali-kali lipat saat tahu seorang berilmu dan beramal baik, pergi meninggalkan kita lebih dulu. Kepergian seorang ulama tentu jauh lebih menimbulkan efek taubat ketimbang kematian seorang muda yang belum banyak mengamalkan agama. Matinya seorang ulama membutuhkan energi besar untuk memulihkan peran dan kekosongan pembimbingan ummat. Jangan bilang, bahwa ulama hanya mengikat dan membimbing sebuah komunitas atau tarekat tertentu. Suara ulama hanya bertengger di pengeras suara menara sekolah agama dan pesantren-pesantren. Ulama hanya berpikir tentang kezuhudan diri dan spiritualitas. Ulama dalam konteks kekinian adalah pengejewantahan tangan Tuhan dan mulut Nabi dalam menerangkan risalah kehidupan dunia dan akhirat. Setelah kita iman pada ulama, serahkan diri kita dengan sami’na waato’na. Namun jangan lupa sisakan ruang kritis, heran, dan ragu untuk perkara-perkara tertentu.

Catatan ini adalah satu dari banyak cara melipur rasa kehilangan saya atas seorang ulama di Makassar, yang juga tak lain adalah ayah dari seorang sahabat saya. Wafatnya beliau betul-betul menerbitkan banyak perasaan bersalah saya pada waktu dan membuat saya bercermin melihat diri. Iman, ilmu, dan amal apa yang bisa saya hantarkan di hadapan meja peradilan Tuhan?

April, 2015

 

Gambar; pelangiku4u.blogspot.com