Perempuan Masa Depan (30)

perempuan masa depan

Surat ke-30 #30surat

Kepada Perempuan Masa Depan

Selamat pagi,

Semalam sebelum tidur, saya sempat membaca surat dari Perempuan Pembaca. Sayang sekali, dia memilih berhenti dan berakhir di suratnya yang ke-27. Keputusan yang cepat. Tapi saya tetap harus memaklumi. Di antara kami memang tak ada pilihan. Dialah yang paling berhak atas dirinya. Meskipun saya merasa yakin, ada banyak sekali hal yang bisa dia sampaikan sebagai isi dari tiga surat yang tersisa. Dan saya hanya mesti memastikan misi menulis surat ini tuntas sampai 30. Tepat hari ini. Hari terakhir. Kepada atau bukan kepada Perempuan Pembaca. Kami sudah mengatakan A, maka kami harus menyebutkan semua huruf. Hal lainnya, jika Perempuan Pembaca masih membaca ini, saya berutang banyak soal dedikasi waktu.

Seperti ada perasaan tidak adil, ketika kita tetap melanjutkan permainan sementara partner kita sudah mengibarkan bendera putih. Betul-betul egois. Olehnya, surat 29 yang pendek itu sudah menjadi penutup korespondensi yang tidak imajiner ini. Saya tidak sedang kecewa. Sama sekali saya tak punya hak atas itu. Hanya ada sedikit rasa bersalah. Serupa keharusan melompat pagar saat dikejar anjing. Terjadi tapi terpaksa. Begitulah kenyataannya.

Saya sudah menyelesaikan surat ke-30 ini. Dan saya kembali menyisipkan satu paragraf penjelas ini khusus tentang surat ke-29 yang jadi surat terakhir kepada Perempuan Pembaca. Saya menambahkan salam perpisahan di situ. Surat “Singkat” itu sudah lebih panjang dari semula. Hasil sebuah suntingan yang disahkan oleh wordpress.

Draft penutup itu sudah musnah. Buat apa terus bertanya jika sudah tahu tak ada jawaban. Tulisan ini betul-betul baru untuk Perempuan Masa Depan. Saya singkat menjadi P-M-D, Perempuan-Masa-Depan. Surat ini, surat pengecualian. Surat yang saya pilih untuk menulisnya kepada Perempuan Masa Depan, bukan, bukan Perempuan Pembaca. Bukan Irtie Finadh Maricus. Bukan Perempuan Pertama atau Kedua. Kepada siapa saja yang mungkin. Siapa saja yang menemukan saya di masa depan.

Baiklah, saya mulai dengan penafsiran tentang Perempuan Masa Depan. Satu-satunya kebebasan yang paling hakiki yang dimiliki manusia adalah imajinasi. Tak ada pagar tak ada terali. Tak ada rem dan tak ada jalur yang pasti. Wajah Tuhan pun bisa nampak disitu. Terserah apa definisi tentang wajah. Juga wajah Perempuan Masa Depan, selalu bisa dilukiskan lewat kanvas imajinasi. Tapi tak ada detail setelahnya. Hanya ada di semesta mimpi yang mungkin saja jauh sekali dari alam nyata atau kebalikannnya, justru sangat dekat di kenyataan. Karena tak ada kepastian di ruang imajinasi. Imajinasi dan masa depan sama-sama tak pasti. Yang pasti adalah apa yang baru saja kita lakukan. Baru saja.

Penekanan di atas adalah simbol dan isyarat untuk sebuah keragu-raguan. Bisa menjawab satu atau dua tanda tanya lama. Sebuah isyarat seperti hampanya ruang angkasa. Kosong. Hanya diisi jiwa yang mencari. Ditambah sebuah penantian akan keajaiban dari langit. Kita tidak pernah tahu, kapan dan kepada siapa keajaiban dinisbahkan. Tidak ada ketidakmungkinan yang pasti. Dan tidak ada ketidakpastian yang tidak mungkin. Juga tentang Perempuan Masa Depan. Terus terang saya menyukai ungkapan ini, lucky bastard!

Perempuan itu adalah perempuan setelah ini. Karena dia berada di masa depan. Perempuan yang mungkin atau perempuan yang tidak pasti? Ataukah perempuan yang tidak mungkin tapi pasti? Kekonyolan permainan kata-kata ini membuat saya bodoh di depan laptop. Bingung sendiri. Senyum sendiri. Hahaha sendiri.

Perempuan Masa Depan adalah perempuan yang sudah jadi perempuan sebelum masa depannya. Perempuan dengan karakter istri pada saat dia masih masih sendiri. Perempuan yang sudah menjadi ibu pada saat dia baru seorang istri. Dan perempuan yang sudah menjadi bidadari surga di saat dia masih seorang yang sendiri, saat dia jadi seorang istri dan saat dia masih menjadi seorang ibu, saat dia masih manusia. Perempuan yang hidup untuk hidupnya yang lain. Kehidupan yang abadi.

Pada sebuah subuh yang panjang. Entah kepada siapa saya membuat dialog. Mungkin pada masa depan yang terlalu mengganggu. Udara subuh yang menusuk adalah kawan setia saat sepi tak bertepi. Kepada kamu Perempuan Masa Depan, yang hadir menjejali ruang imajinasi lubuk hati yang tak berisi. Selama ini, sebelum kau datang, kehampaan justru adalah isi yang begitu penuh bersarang di segala sudut. Begitu sesak. Dan waktu adalah kebisuan yang tuli dan tak memahami kondisi.

Kamu, Perempuan Masa Depan yang akan menjadi terakhir. Sulit sekali menemukan metafora untuk mengaburkan kehadiranmu. Karena kamu, telah terpaut sesuatu yang abstrak dan menggantung-gantung dekat sekali di ingatan. Saya kehilangan alur untuk mendefinisikanmu secara utuh. Tak tahu memulainya dari mana.

Saya menjadi plinplan dan tak stabil menulis, beberapa kali saya menggunakan kata ganti “ku” untuk menggantikan “saya”. Perlu kau tahu, “saya” adan “aku” punya wilayah yang tak sama saat menulis di blog ini. Di surat ini, semoga kamu tak bingung dengan pembauran kata ganti itu.

“Saya” seringkali adalah kata ganti yang saya gunakan untuk sebuah cerita yang basisnya pengalaman. Bisa pengalaman pribadi, bisa jadi pengalaman orang lain yang disuli lewat mata dan telinga. Sementara “aku” menjadi indah dalam sebuah diksi yang imajiner. Nah, itulah di surat ini, saya menggunakan “saya” untuk menekankan dan mengesankan sebuah keadaan yang jujur dan benar-benar saya alami.

Surat-surat ini bukanlah surat yang saya paksakan romantis untuk menuai komentar di media sosial. Kamu adalah tujuan dari surat ini. Kamu bukan dampak atau akibat. Kamulah yang menumbuhkan antusiasme pada jemari dan keinginan saya untuk menerawang langit-langit masa depan.

Kamu bukanlah sesuatu yang baru hadir dan tiba-tiba menjadi begitu berarti di pikiran. Kamu adalah masa lalu yang meng-ada dan terus bertumbuh menjadi masa depan hingga akhir. Kamu, sudah merangkai banyak cerita yang tidak kamu sadari. Kamu adalah diam yang bergejolak. Menghablur di gelap dan kelamnya bayangan hari mendatang.

Di subuh hari yang sendiri ini, kusembahkan banyak sekali janji penghambaan dan keinginan untuk bersama. Kuikrarkan hasrat untuk berbagi hari. Kutawarkan pengorbanan yang total sebagai kekasih. Kurontokkan ego pribadi demi melukis garis senyum di wajahmu. Kutegaskan perihal perisai yang akan melindungimu dari jahat dan keburukan.

Setelah semua pengakuan ini, maafkanlah saya secara utuh. Bila kamu enggan memberi isyarat, maka akan kutafsir, enggan itu adalah penolakan. Bila kamu menangguhkan jawaban, maka berilah saya pemahaman. Bila kamu kehilangan kepercayaan atas ini semua, berilah saya ruang untuk mengembalikan sangkaanmu yang lebih awal. Saya tidak sepenuhnya adalah pejuang cinta. Dan saya tidak seluruhnya pengobral janji yang miskin komitmen. Saya adalah lelaki optimis yang ingin sekali hidup bahagia dunia dan akhirat.

Saya paham, kita belum bertemu sebagai masa depan. Dan tulisan ini adalah fantasi yang basi dan sudah lazim. Tapi saya tidak ingin menyebut ini delusi. Karena masa depan itu ada. Bersama Perempuan Masa Depan. PMD.

Makassar, April 2015

Tertanda,
Lelaki Optimis yang menunggumu di masa depan.

Gambar; theindonesianwriters.wordpress.com

Advertisements

3 Responses to “Perempuan Masa Depan (30)”

  1. upps salah tulis. berhenti di surat ke-27 maksud sy…

  2. Perempuan pembaca (Irtie Finadh Maricus), berhenti di surat ke-30? (penasaran)

    tentang Perempuan masa depan. bukankah Perempuan Pembaca (Irtie Finadh Maricus) juga punya peluang untuk menjadi perempuan masa depan?

    sebagai penikmat surat ini, saya punya harapan bisa membaca surat dari perempuan pembaca dan juga berharap perempuan pembaca menjadi perempuan masa depan.

    • Pertama, trima kasih Umma sudah berkomentar di surat ini. Meninggalkan jejak di blog orang lain itu pekerjaan ringan tapi repot, kan? iya saya juga sekarang-sekarang ini jarang sekali berkomentar di blog orang lain.

      Kedua, saya tegaskan bahwa memang begitulah kenyataannya. Surat perempuan pembaca hanya sampai di 27. Tidak ada klarifikasi sampai sekarang. Pun, kalau ketemu kami enggan membahas surat.

      Ketiga, hanyalan kita boleh saja setinggi-tingginya, bahkan boleh setinggi bintang. Tapi kaki musti tetap rapat di tanah. Maksudnya, masa depan (termasuk PMD) tidak baik terlalu digenggam. Anggaplah, hal ini boleh dikata sebagai ikhtiar dan semangat untuk nikah. Saya yakin, semua pemuda punya cita-cita hidup bahagia dengan pernikahan dan masa depannya.

      Keempat, keseluruhan tulisan baiknya dilandasi oleh niat untuk berbagi sebagai salah satu jalan dakwah. Bukan hanya sekadar pamer-pamer dan aktualisasi diri yang narsis dan overdosis.

      Kelima, pesan ini untuk pribadi saya. Jangan sampai semangat nikah mengalahkan semangat dakwah. Saya kutip sebagai salah satu bagian dari komentar ini karena saya yakin masih ada ketersinggungan di dalam semesta pembicaraan surat.

      Keenam, maaf tentu saja. Bila ada salah. Tapi lebih baik lagi bila saya menerima komentar berupa kritik dari tulisan-tulisan saya. Sejuju-jujurnya, saya amat butuh kritik dan saran dalam penulisan.

      Lelaki Optimis

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: