Pahit Kopi

pahit segelas kopi

***

Ada suatu waktu, kita menghindari ribut. Jauh dari pembicaraan dan hanya ingin jujur sejuju-jujurnya pada diri sendiri. Kita yang pada waktu itu adalah kita yang hanya mampu mendefinisikan suasana, hanya oleh pandangan diri sendiri.

Karena kopi ini menyeruakkan rasa yang dekat sekali dengan kesendirian yang mutlak. Tak ada basa-basi dan komunikasi pada siapa saja yang berada dalam radius keakraban. Sungguh egosentris yang tidak humanis sama sekali.

Kopi dan sendiri adalah jalan menuju penyelesaian suatu perkara. Salah satu bentuk perlawanan terhadap diam. Hanya terlihat jauh dari sibuk. Namun, sesungguhnya di segelas kopi yang dinikmati sendiri secara khidmat, terselubung usaha yang mengurai turbulensi. Di situlah naluri pejuang mengemuka, menumpas kebuntuan.

Maka, di pahit sebuah kopi jangan kira lidah tak menantang. Selalu ada rasa yang belum selesai hingga kopi itu tandas di alas gelas. Berhentilah mencaci pahit. Dan tetap nikmati pelan-pelan. Biarkan orang jenuh membicarakan mainstream-nya filosofi kopi. Tetap saja kopi punya cara sendiri tenggelam dalam masalah.

Sebaris-atau dua baris tak selesai masih lebih baik dari segelas kopi yang tak dihabisi.

***

Makassar, April 2015

Gambar; madyapos.blogspot.com

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: