Singkat (29)

singkat

Surat ke-29 #30surat

Kepada Perempuan Pembaca

Selamat malam

Saya berhasil konsisten menulis tiga baris frase pembuka seperti di atas. Sebuah usaha yang sebetulnya tidak diniatkan sejak awal, hanya mencoba menyerupai surat yang familiar.

Malam ini saya kurang fokus menulis surat ini. Banyak sekali kabut yang menghalangi pikiran saya menuju inti. Dan itu semua tak tersentuh. Absurd untuk saya tulis sebagai surat. Tak sesuai alur masa depan yang saya rencanakan sebagai bagian akhir. Saya mencurigai, surat inilah yang akan jadi surat terpendek sekaligus surat dengan durasi penulisan terlama. Sungguh tidak layak.

Satu setengah jam berlalu, saya belum menemukan titik tumpuh untuk memulai. Ah, sepertinya saya perlu berhenti sejenak. Saya juga belum membaca surat kau janjikan akan segera menyusul. Semoga ada bahan yang bisa kuolah menjadi baris muntahan kata-kata. Tunggu, saya mengintip blogmu dulu.

Satu menit kemudian…

Taaadaaa. Suratmu masih di 26. Rasanya saya tidak perlu meneruskan surat ini. Besok bila masih sempat saya akan mengakhiri misi ini dengan catatan tiga kali absen menulis. Tidak terlalu buruk. Sekian

……

Bagian ini adalah bagian revisi setelah tahu kau berakhir di surat ke-27-mu. Teknologi kekinian membolehkan kita melakukan ini. Saya tidak tahu, apakah kau sudah membaca surat “Singkat” di bagian atas ini sebelum kau menulis surat terakhirmu. Atau mungkin itu terjadi tanpa perlu ada alasan.

Saya menambahkan bagian ini, karena hanya sampai disini-lah juga keputusan saya untuk berakhir. Kau boleh menganggap bagian tambahan ini sebagai pseudo surat ke-30. Berisi hal yang sepatutnya saya tulis sebagai kata-kata perpisahan. Karena surat ke-30 sudah terlanjur saya tulis dan saya alamatkan tidak spesifik lagi kepada Perempuan Pembaca. Kesimpulannya, noleh dikata kita berakhir buruk.

Untuk menjelaskan itu semua, ada baiknya saya menempelkan surat ke-27 mu;

Annyeong kak…

Maaf mungkin ini surat harian trakhir ku… kucukupkan sampai surat ke 27 saja

Maaf. Tidak bisa menepati janji, untuk menulis full 30 surat sampai batas tanggal 5 April ini.

Maaf. Sisa suratku akan kukirimkan setiap akhir bulan, terhitung di akhir April,Mei dan Juni.
Beri aku waktu sebulan untuk menulis satu surat yang lebih layak dibaca… Aku tak mau menyia-nyiakan 3 surat terakhirku (ini sudah di luar dari misi yaa).

Aku harap kakak mengerti.
Masalah hukumannya… tetap seperti di awal, kopi dan es krim, ya??

1 Apr 15

 

Harus saya beri garis bawah, bahwa saya sangat bersyukur dipertemukan di keadaan seperti ini. Meskipun mudah sekali rasanya bertemu langsung. Secara teknis, kita tidak punya tantangan lebih besar selain beban tulis-menulis. Saya tidak terlalu memahami kondisi semacam ini. Semestinya komunikasi memang tidak selalu hidup di kehidupan nyata, kehidupan virtual dan jaman digital membuat kita kadang-kadang lebih hidup dan bergairah di dunia maya ketimbang dunia nyata.

Entah di surat ke berapa, saya menulis tentang pembukuan surat menyurat ini. Terinspirasi dari buku surat “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” karya Jostein Gaarder & Klaus Hagerup. Saya merasa perlu memberitahukan ini. Sekedar memberi tahu, bukan meminta izin. Beberapa potong surat balasanmu akan saya catut dan mengombinasikannya dengan fantasi saya sendiri. Karena nyatanya, saya cukup gagal untuk memancing keluar naluri imajinasimu selama kurang lebih sebulan ini. Mestinya, kamu lega sudah bisa tahu akhir surat yang saya minta kamu menerkanya waktu itu.

Pembukuan itu akan jadi surat kompilasi dan karya fiksi. Dan hanya akan jadi konsumsi pribadi. Saya belum mau memastikan tenggak waktunya. Secepatnya, ke-30 surat (anggap 30 meskipun cuma 29) yang saya tulis akan saya kumpulkan menjadi draft buku. Ini kedengaran berlebihan mengingat tulisan-tulisan itu masih sangat jauh dari baik dan indah. Tidak ada yang istimewa.

Saya anggap pekerjaan di atas adalah profesi baru saya. Kau ingat, saya pernah jadi Relawan Pengajar Kelas Inspirasi sebagai penulis profesional. Sehabis mengajar saya dibuntuti dosa dan rasa bersalah. Dua hari setelahnya saya menggalang ide, merencanakan dua projek buku surat sekaligus. Membuat buku surat adalah satu-satunya ide yang saya sanggupi. Setidak-tidaknya di waktu dekat ini. Termasuk pembukuan surat ini, meskipun janin idenya telah lama mengembrio di batok kepala. Satunya lagi, bersama belasan kawan yang berpencar jauh di seluruh penjuru mata angin. Saya mengajaknya menulis kabar baik dan cerita masa lalunya pernah berada satu payung organisasi dengan saya. Tentu, suratnya bukan untuk saya, tapi kepada orang lain yang kini bernaung di bawah payung besar itu. Bedanya surat mata angin itu bukan karya fiksi, artinya tidak ada fantasi di situ.

Lalu soal menulis cerpen, saya juga masih terus berusaha membaca. Kau tahu, menulis itu syaratnya membaca. Mungkin kau belum kenal Eka Kurniawan, atau M Aan Mansyur yang lebih lokal. Mereka menelorkan cerpen yang bermutu dari proses membaca yang tidak main-main. Hampir semua penulis hebat adalah pasti pembaca yang hebat. Jangan kira hanya penulis yang gemar membaca, jika kau punya tokoh idola di dunia ini, tanyakan buku apa saja yang telah dia baca. Hasilnya, kau akan takjub mendengarnya. Fiersa Besari yang pernah kau tulis namanya di suratmu, tahun ini dia menargetkan membaca 50 buku terbaik. Dan saat ini dia, per awal April, dia sudah membaca belasan buku rekomendasi.

Maka, saya merasa tepat telah mewasiatkan –membaca di Pesan Religius itu. Tanpa bermaksud ingin merubah cita-citamu menjadi penulis. Jadilah orang hebat yang banyak membaca. Tentunya, menjadi perempuan yang hebat pun butuh membaca banyak buku tentang perempuan. Right? Intinya jangan membaca hanya karena ingin jadi penulis.

Sampai di sini, saya belum mengucapkan salam perpisahan untuk misi kita ini. Semoga saya tidak membekaskan noda selama proses ini terjadi. Sebab jika ada, itu nyata tak disengaja. Hal yang pasti, misi ini telah mengganggu aktivitasmu. Mungkin ada beberapa puluh jam yang kau habiskan hanya untuk mengurusi surat. Semoga itu bukan satu kategori noda. Kembalilah kepada keadaanmu yang nyaman. Bila perlu berubah, berubahlah kepada yang lebih baik. Baik menurutmu.

Selamat berpisah Perempuan Pembaca. Oh iya, perihal terminologi perempuan pertama itu agak sulit saya uraikan. Berbau masa lalu. Yang benar-benar sama adalah kamu, Irtie Finadh Maricus, Perempuan Kedua, dan Perempuan Pembaca. Itu satu tokoh dalam korespondensi ini. Tapi, Perempuan Pertama bisa saja kau menganggapnya itu adalah dirimu juga. Sebab, sampai di surat ini, semua surat tertuju untuk kamu. Akhir kata, lunasi janjimu seperti yang kau tulis di surat di atas. Berhentilah mengutuk kegelapan, dan mulai nyalakan lilin harapan.

Makassar, 3 April 2015

Parnermu,
Lelaki Optimis

Gambar; lakonhidup.wordpress.com

Advertisements

One Response to “Singkat (29)”

  1. […] Menulislah Tiada Henti, Maka Kau Takkan Mati! « Singkat (29) […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: