Archive for April, 2015

Saya Menyesal Membaca Bibbi Boken

Posted in Blogger Kampus, Opini with tags , , , on April 20, 2015 by mr.f

bibbi bokken

Setiap buku punya ceritanya sendiri. Punya pembacanya sendiri. Penulisnya adalah pendongeng bagi pembacanya. Dan pembacanya adalah pendengar yang setia melebarkan telinganya. Satu dari penulis buku yang sangat berkarakter adalah Jostein Gaarder. Penulis sekaligus peminat filsafat. Penulis yang banyak menguak kisah di balik sebuah surat-menyurat. Mewarnai karyanya dengan banyak kemisteriusan. Jostein adalah penulis novel filsafat Dunia Sophie. Lalu buku lainnya  berjudul Maya, Gadis Jeruk, Bibbi Boken, Dunia Anna, dan beberapa buku yang juga terbit tapi tidak lagi beredar di toko buku.

Ketika kita memasuki usia pencarian, kita akan menemukan apa saja yang justru kadang tidak kita cari. Anggaplah saat duduk di bangku kuliah. Segala macam bentuk dan role model silih berganti untuk dicontoh. Tapi yang paling banyak memberi peran adalah lingkungan pergaulan. Hal lain yang tidak boleh dilupakan dalam prosesi pembentukan dan kematangan pola pikir adalah jenis bacaan. Bacaan menyumbangsi mindset, karakter, dan perilaku kita. Usia muda itu adalah usia latihan mencerna hal-hal berat dalam hidup. Termasuk membaca bacaan yang berat. Otak kita akan selalu tumpul jika usia muda hanya dilewatkan dengan bacaan-bacaan ringan yang tanpa butuh pemaknaan. Sejatinya otak kita mampu bekerja dan memaknai sesuatu meski sulit. Lewat bacaan kita bisa menyelami banyak dunia walalupun hanya lewat imajinasi.

Ada banyak sekali buku yang bisa menjadi umpan bagi otak kita. Kategorikan saja sebagai buku berat. Biasanya buku itu adalah buku terjemahan. Dan biasanya lagi adalah buku filsafat. Buku yang mengedepankan lompatan berpikir daripada alur sistematis. Maafkan saya kedangkalan definisi di atas. Karena saya hanya mengenal buku dan penulis yang terlanjur terkenal. Maka, saya tak banyak mengenal penulis asing kecuali penulis yang bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya sebut beberapa penulis tenar di pasar pembaca; Dan Brown, Paulo Coelho, Karen Armstrong, Jostein Gaarder, JK Rowling, Stephanie Meyer, Sir Arthur Ignatius Conan Doyle, Agatha Christie, James Paterson, Stephen King, dan tentu masih banyak lagi yang belum belum saya kenal.

Beberapa dari novel Jostein Gaarder saya beli dalam versi Indonesia dan kebetulan gold edition dari penerbit Mizan. Saya beli 2012 silam, dan baru saya baca 2015. Hampir tiga tahun terdiam berdesakan di deretan buku-buku. Tapi saya menyesal membaca Bibbi Boken. Menyesal baru membaca Bibbi Boken setelah lama. Sejak dulu sebenarnya Jostein Gaarder punya ruang sendiri dalam kekhasan karyanya. Sederhanakan saja menjadi bahwa dia lebih banyak menjebak imajinasi kita dengan gaya surat-menyurat dan kemisteriusan. Dunia Sophie dengan surat misterius. Gadis Jeruk dengan surat seorang ayah yang tersimpan belasan tahun. Bibbi Boken yang mensutradarai surat-menyurat lintas kota dua bocah. Maya dan si joker misterius.

Lalu karena Bibbi Boken-lah saya jadi semakin berhasrat mengoleksi buku. Tabungan untuk persiapan hidup beberapa bulan terkuras karena ketidakmampuan menahan naluri membeli buku. Meskipun, Bibbi Boken bukan satu-satunya bacaan yang memotivasi untuk punya perpustakaan pribadi. Saya merasa yakin, kalau hampir semua bibliofil adalah orang punya obsesi dan ambisi membangun perpustakaan pribadi.

Meskipun sebenarnya, novel Bibbi Boken berakhir dengan kenyataan bahwa semuanya adalah ulah Bibbi Boken, namun hal kurang mengenakkan justru ada pada bagian itu. Ketika karya yang ‘disutradarainya’ itu hanyalah menjadi buku yang kelak akan dibagikan kepada siswa-siswa sekolah dasar. Bagian ini mengecewakan pembacanya yang terlanjur dewasa dan sudah bukan anak sekolah lagi. Saya salah satunya. Sebelum sampai pada penjelasan yang diuraikan oleh Bibbi Boken itu, saya terus menyediakan ruang keterkejutan yang bisa saja meledak di lembaran akhir novel. Sayangnya, akhir cerita hanya membuat simpul kekanak-kanakan. Bagaimanapun, saya tidak terima masuk kategori pembaca yang diprediksikan oleh Bibbi Boken. Meski mungkin penulis sebenarnya Jostein Gaarder dan membayangkan novel ini dibaca oleh lintas generasi tanpa semaksud dengan isi novel.

Saya tetap menganggap novel itu adalah novel buatan Jostein Gaarder. Bukan oleh Nils dan Berit. Dua bocah belasan tahun yang menulis buku surat. Lalu buku surat itu dibaca oleh orang sejagad raya dalam wujud karya tulis Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup.

Selain itu, Perpustakaan Ajaib juga kurang tepat untuk menjuluki bangunan perpustakaan itu. Hanya sedikit sekali deskripsi yang mendukung gelar itu. Dan itupun kurang spesifik jika hanya mengandalkan incunabula dan efek pendar cahaya di dalam ruangan itu. Daya magic-nya kurang kuat untuk menegaskan keajaibannya. Ataukah saya keliru? Bahwa justru letak ajaibnya ada di ketidakmungkinan keberadaan bangunan itu. Tapi, bukankah cerita fiksi memang banyak sekali mengutarakan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang lalu jadi cerita yang seolah fakta. Ah, begitulah novel. Semestinya, semua judul novel mencatut kata ajaib kalau begitu.

Sebagai pembaca yang tak banyak tahu tentang dunia sastra dan spekulasinya, maka saya merasa berhak atas penyesalan ini. Dengan tidak mengabaikan prinsip dua sisi sebuah koin. Yin Yang. Hitam Putih. Positif dan negatif yang niscaya selalu ada pada satu eksistensi materi dan nonmateri.

Sebagai penyeimbang atas sesal itu. Saya juga musti terima kasih atas segenap inspirasi gaya surat-menyurat Jostein Gaarder. Juga pada tokoh Bibbi Boken yang dengan kekuasaan dan kebetulannya mengurung ruang gerak dua bocah sehingga bisa melahirkan karya buku surat. Selain itu, hal yang paling menyadarkan dalam novel itu bahwa kita tidak pernah menemui akhir untuk menulis. Bahwa abjad yang hanya 26 huruf lalu menciptakan jutaan buku di dunia. Hal inilah yang semestinya menjadi ajaib di pikiran kita. Kita bisa menciptakan aksara tanpa batas di lembar-lembar tulisan masing-masing. Sekali lagi saya menyesal karena membacanya memberi dampak.

Gambar; http://www.youtube.com

Pahit Kopi

Posted in Having Fun with tags , , , on April 4, 2015 by mr.f

pahit segelas kopi

***

Ada suatu waktu, kita menghindari ribut. Jauh dari pembicaraan dan hanya ingin jujur sejuju-jujurnya pada diri sendiri. Kita yang pada waktu itu adalah kita yang hanya mampu mendefinisikan suasana, hanya oleh pandangan diri sendiri.

Karena kopi ini menyeruakkan rasa yang dekat sekali dengan kesendirian yang mutlak. Tak ada basa-basi dan komunikasi pada siapa saja yang berada dalam radius keakraban. Sungguh egosentris yang tidak humanis sama sekali.

Kopi dan sendiri adalah jalan menuju penyelesaian suatu perkara. Salah satu bentuk perlawanan terhadap diam. Hanya terlihat jauh dari sibuk. Namun, sesungguhnya di segelas kopi yang dinikmati sendiri secara khidmat, terselubung usaha yang mengurai turbulensi. Di situlah naluri pejuang mengemuka, menumpas kebuntuan.

Maka, di pahit sebuah kopi jangan kira lidah tak menantang. Selalu ada rasa yang belum selesai hingga kopi itu tandas di alas gelas. Berhentilah mencaci pahit. Dan tetap nikmati pelan-pelan. Biarkan orang jenuh membicarakan mainstream-nya filosofi kopi. Tetap saja kopi punya cara sendiri tenggelam dalam masalah.

Sebaris-atau dua baris tak selesai masih lebih baik dari segelas kopi yang tak dihabisi.

***

Makassar, April 2015

Gambar; madyapos.blogspot.com